Dear Ayara

2024 Kata
"Sepertinya, Tuan begitu terkenal. Siapa saja menyapa, siapa saja menunduk hormat." Komentar Ayara di sela suapan makanan yang masuk ke dalam mulutnya hanya disambut Victor dengan tarikan bibir sekilas. "Ya ... Semakin terkenal ketika berita kematian istriku di laut ini menyebar hingga sekarang." "Maaf Tuan, aku tidak bermaksud untuk mengungkit kisah menyedihkan itu." "No, Ayara. Biasa saja. Aku tidak pernah mempermasalahkan itu. Oh iya, ada satu permintaanku lagi kepadamu." Ayara mengerutkan dahi. "Apa, Tuan?" "Hilangkan kata Tuan ketika kau memanggil atau sedang berbicara kepadaku. Panggil saja aku Victor atau apapun yang kau mau selain itu." "Sayang. Aku lebih nyaman memanggilmu begitu." Ayara tersenyum pula. Victor mengangkat kepalanya yang tadi hanya tunduk pada makanan di piring. Ia menyunggingkan senyum memikat. Ayara hampir kenyang hanya dengan melihat senyuman lelaki itu. "Ya, Dear. Aku lebih suka mendengarnya. Terasa aneh ketika kelak kita bercinta dan kau masih saja memanggilku Tuan." Victor berkata santai, seolah tanpa beban. Sedangkan Ayara saat ini malah merasa tersipu saat Victor menyinggung perihal kegiatan ranjang mereka kelak. "Nikmati makanmu, Ayara. Aku sudah lama tidak melakukannya, jadi mungkin kau akan kehabisan tenagamu nanti," sambung lelaki itu. Lelaki itu begitu apa adanya. Ia tidak menutupi apapun termasuk percakapan sevulgar itu. Ayara yang sudah biasa menghadapi para lelaki hidung belang kini entah mengapa jadi betulan malu. Ada rasa berdesir tiba-tiba. "Ya ... tentu saja, Sayang. Aku mengerti, aku sudah bisa mengukur tenagaku nanti." "Oh ya? Kau perlu membuktikannya, Ayara." Victor meraih segelas minuman, menyesapnya sambil menatap Ayara intens. Lelaki itu seperti bukan lagi lapar karena perutnya, tetapi ada sesuatu yang lain yang minta dipuaskan segera. Ayara masih menikmati makanannya. Sesekali ia dan Victor akan bertatapan. Mata seolah tak bisa bohong bahwa keduanya memang menginginkan sesuatu yang lebih intim. Ayara sendiri bisa merasakan ada sesuatu yang semakin menggila dari alam bawah sadarnya. Tak pernah sebelumnya ia merasakan hal semacam ini. Victor kini sedang sibuk dengan ponselnya. Lelaki itu memang seorang pebisnis sukses yang mempunyai jam terbang cukup tinggi. Benda seperti ponsel tidak bisa terlalu jauh dari jangkauan. Tak berapa lama kemudian, ia sudah sibuk pula dengan panggilan telepon yang masuk. Lelaki itu nampak berbicara dengan santai. Ayara sendiri sudah selesai dengan makanannya. Ia tak menghabiskan makanannya sama sekali. Ayara sangat menjaga bentuk tubuhnya, hingga ia sangat membatasi kalori yang masuk agar tak menjadi timbunan lemak. "Kau sudah selesai?" tanya Victor setelah ia selesai dengan ponselnya. Ayara lantas mengangguk. "Ya, aku sudah kenyang." "Makanmu sedikit sekali, apa itu benar-benar membuatmu kenyang, Dear?" "Ya, Sayang. Aku tidak bisa makan terlalu banyak, perutku akan terasa begah nanti." Victor tersenyum lalu mengangguk. Mereka masih bersantai di ruangan itu untuk beberapa saat. Setelah dirasa cukup puas berada di sana, mereka memutuskan untuk kembali ke kamar yang Victor tempati saat ini. Sepanjang perjalanan menuju kamar lelaki itu, Ayara merasakan jantungnya berdegup kencang sekali. Entah ada apa dengan dirinya. Namun, ia tetap berusaha bersikap profesional. Langkahnya masih anggun dan elegan mengimbangi Victor yang begitu gagah. Mereka tiba di kamar Victor. Ayara membiarkan Victor untuk mandi terlebih dahulu. Ia sendiri masih menunggu. Aneh rasanya, Ayara jadi gugup lagi sekarang. Ini bukan kali pertama ia bersama lelaki yang akan membayar tubuhnya. Ayara menggeleng, tak seharusnya ia berpikiran yang macam-macam. Ia cukup melemparkan tubuhnya kapanpun Victor mau, sesuai dengan kesepakatan mereka berdua. Victor keluar dari kamar mandi dengan hanya bertelanjang d**a sementara handuk melilit di sepanjang pinggangnya. Ayara menyunggingkan senyum, membuka gaun yang melekat lantas membukanya tanpa ragu. Victor bisa merasakan tubuh bagian bawahnya cukup menegang. Ia membiarkan Ayara berlalu dan masuk ke dalam kamar mandi sementara ia sendiri menunggu di atas ranjang yang nanti akan kembali basah dengan air senggama mereka sendiri. Mata Victor fokus pada Ayara yang sudah keluar dari kamar mandi tak lama kemudian. Perempuan cantik itu mengenakan handuk, menutupi sesuatu yang sintal miliknya. "Kemarilah, Ayara." Ayara tersenyum, ia mendekat perlahan. Naik dengan gerakan lembut lalu sampai di atas lelaki yang sudah mulai merengkuh tubuhnya dengan lembut dan penuh gairah. Ayara membalas setiap gerakan yang Victor berikan. Setiap kecupan juga sentuhan panas itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Percintaan luar biasa itu membuat semangat Victor kembali berkobar. Sudah cukup lama ia menutup diri dari perempuan manapun atas nama kesetiaan. Namun, Victor kini tak bisa mengelak, dari pesona seorang perempuan penghibur yang ia temukan di atas kapal pesiar itu. Setidaknya, ranjangnya tak lagi dingin. Setidaknya, Victor bisa menyalurkan hasrat yang sudah lama terpendam karena kehilangan mendalam atas istri tercinta. Bahkan kegiatan panas itu terus berlangsung dan ia memuji Ayara yang begitu lihai, juga pandai mengimbangi dirinya. Perempuan itu luar biasa. Di pagi hari yang cerah, Ayara membuka tirai kamar. Lelaki yang kemarin sepanjang petang dan malam sudah menggagahinya, masih tertidur pulas. Tubuhnya tertelungkup dan berselimut. Ayara sendiri sedang menyiapkan teh hangat untuk kelak bisa Victor nikmati. Ia segera melangkah ke dalam kamar mandi, menghibur shower dan memutar air hangat untuk membasahi tubuhnya yang terasa sedikit remuk tapi membuatnya malah bersemangat menyambut pagi. "Alangkah bahagianya, jika ini bukan sebatas kesepakatan." Ayara tiba-tiba saja mendesah tapi kemudian secepat mungkin menggeleng. Tak bisa dipungkiri, kegiatannya semalam bersama Victor bukan hanya menghadirkan rasa puas tiada tara, tapi juga rasa yang lain. Namun, Ayara sadar dia siapa. Dia bukan perempuan yang bisa dengan mudah membuat hati Victor jadi luluh kalau itu tentang cinta. Sementara seisi dunia tahu, bahwa Victor hanya mencintai satu perempuan bernama Gladys yang sampai hari ini pula masih diyakini hidup oleh lelaki itu. Saat tengah melamun di bawah pancaran air itu, Ayara melihat tubuhnya yang penuh jejak kemerahan, sisa percintaannya semalam dengan Victor. Kemudian, pintu kamar mandi terbuka, lelaki yang sedang Ayara pikirkan tenyata sudah bangun dan kini kembali merengkuhnya di bawah pancaran air shower. Ayara menempel pada dinding kaca, membiarkan Victor kini kembali menguasainya. *** "Ayara, aku belum bisa membawamu ke rumahku. Ada yang harus aku kerjakan beberapa hari ke depan." Ayara mengangguk cepat. Ia dan Victor kini sedang menuju ke perusahaan setibanya mereka kembali di Indonesia setelah mereka berlayar di atas kapal pesiar beberapa hari belakangan. Tadinya, Victor mau langsung mengantarkan Ayara ke apartemennya, tetapi ada beberapa berkas yang harus ia ambil. Jadi saat ini, Ayara ikut pula Victor ke perusahaannya. Mata Ayara menatap takjub pada gedung pencakar langit yang memiliki halaman dan basemen super luas milik Grazzalendra Group. "Aku ke dalam dulu." Victor mengecup bibir Ayara sekilas sebelum ia turun dari mobil. Ayara mengangguk, membiarkan lelaki itu keluar sementara ia sendiri duduk dengan tenang dengan ponselnya. Ayara membuka pintu kaca jendela mobil. Beberapa orang yang seperti para pekerja di perusahaan besar itu menatapnya penuh selidik. Mungkin mereka heran, mengapa bisa ada perempuan di dalam mobil atasan mereka. Ayara tak menghiraukan mereka, ia menyibukkan diri melihat berita-berita di media sosialnya juga melihat beberapa teman satu profesi memposting foto-foto mesra mereka dengan para sugardady. Ia tersenyum dan tertawa kecil melihat pemandangan itu. Ayara mendapatkan panggilan alamnya kemudian, ia segera keluar dari mobil. Sedikit berlari kecil ia menuju sebuah pos pengamanan dengan beberapa security di dalamnya. "Maaf, aku ingin ke toilet. Dimana tempatnya?" Para staff keamanan itu cukup terkesima melihat Ayara yang begitu cantik dan mempesona. "Nona lurus saja dari sini, nanti ada toilet tepat di ujung sana." Ayara mengangguk, ia segera pergi ke tempat yang tadi ditunjukkan oleh para lelaki itu. Setelah selesai ia mendengar ponselnya berdering. Ayara tersenyum lalu segera mengangkatnya. "Sayang, aku mungkin akan sedikit lama. Kau bisa menunggu bukan? Atau kalau kau ingin sesuatu, aku bisa meminta asistenku untuk melayanimu." "Tidak, aku bisa menunggumu. Aku baik-baik saja di sini," balas Ayara sambil menuju mobil Victor terparkir. "Baiklah, di sini ada ayahku. Ada beberapa hal yang sedang aku bahas bersamanya. Atau kalau kau bosan menunggu kelak, kau bisa memakai mobilku untuk pulang lebih dulu." "Tidak, Sayang. Sungguh, aku masih betah menunggumu. Jangan memikirkan aku ya. Fokus saja dengan ayahmu dulu." Sambungan telepon itu akhirnya mati. Ayara hampir saja sampai di mobil Victor dan akan membuka pintu mobil lelaki itu sampai ia mendengar sebuah suara. "Siapa kau?" Ayara menoleh ketika dari jarak yang cukup jauh, seorang perempuan paruh baya dengan anggun bersama seorang asisten yang menenteng tas melihat ke arahnya dengan penuh selidik. "Aku?" Ayara menunjuk dirinya sendiri sembari menoleh kiri dan kanan dengan ragu, kalau-kalau perempuan paruh baya itu bukan memanggil dirinya. Namun, sekeliling memang tampak sepi, tak ada lagi karyawan yang lewat. Hanya ada dia yang hampir saja masuk ke dalam mobil. Jadi, benar kan, perempuan itu memang sedang berbicara dengan dirinya? "Ya, kau. Mengapa kau berada di dekat ..." "Nyonya Kimberly, ada telepon dari tuan Robert." Asisten yang tadi hanya berdiri di belakang perempuan bernama Kimberly itu menyorongkan ponsel, membuat perhatian perempuan itu teralihkan. Ayara menarik nafas lega, setelah perempuan itu berlalu bersama asistennya menuju ke pintu lift yang akan membawanya ke atas gedung. Ayara kembali masuk ke dalam mobil milik Victor. Ia tak tahu siapa perempuan tadi. Ia juga tak mau berpikir macam-macam. Mungkin, itu salah satu orang penting di perusahaan besar itu juga. Jadi Ayara kini kembali menyibukkan diri dengan melihat ponselnya. Setengah jam telah berlalu, Ayara masih betah di dalam mobil ditemani musik klasik yang ia putar. Ia menurunkan sandaran mobil hingga membuatnya menjadi setengah berbaring. Matanya terpejam, dulu, menunggu seperti ini adalah hal yang sangat membosankan bagi Ayara. Namun, kini hal itu tidak lagi persoalan. Menunggu Victor sama sekali tidak membuatnya terganggu. Ia malah menikmati waktu yang semakin bergerak maju dan akan mempertemukannya kembali dengan Victor. Beberapa saat kemudian, saat matanya terpejam dan ternyata ia jadi tertidur, sebuah sentuhan di pipinya membuat matanya terbuka. Victor sudah kembali, tak lagi memakai jas dan hanya menyisakan kemeja ketat yang membungkus tubuh atletisnya. "Maaf, aku pasti sudah membuatmu menunggu terlalu lama," kata Victor sembari memegang lembut pipi Ayara dan menghadapkan wajah perempuan itu ke wajahnya sendiri. Ayara tersenyum lalu menggeleng. "Tak masalah, Victor, menunggumu ternyata tak seburuk yang aku pikirkan." "Benarkah?" Alis Victor terangkat satu, membuat Ayara tersenyum lagi lalu mengangguk. Victor memajukan wajahnya lagi, bibir keduanya kemudian bertaut. Ayara membelai rambut lelaki itu lembut seraya membalas setiap pagutan mesra yang diberikan oleh Victor kepada dirinya. Setelah selesai, Victor kembali membenahi bajunya yang sedikit berantakan. Ayara kembali menaikkan sandaran kursi. Victor kemudian menghidupkan mesin mobilnya, ia mulai melaju dengan santai keluar dari basemen perusahaan. "Apa tadi ada masalah?" tanya Ayara. Victor menggeleng. "Hanya ada beberapa hal yang perlu aku selesaikan bersama ayahku. Ayara hanya mengangguk saja kemudian. Ia merasa tak pantas terlalu banyak bertanya mengenai hal-hal lain tentang Victor yang sama sekali tak ada hubungannya dengan dirinya. Ayara tak ingin nanti malah dicap lancang oleh lelaki itu, meski Ayara yakin, Victor tidak akan pernah mengatakan hal demikian kepadanya. Mobil akhirnya keluar dari basemen yang luas itu. Sepasang mata kembali menyaksikan Ayara di dalam mobil yang sama dengan Victor. "Kau tahu siapa yang sedang berada di dalam mobil anakku?" tanya Kimberly pada asisten pribadinya. Perempuan itu menggeleng. "Tidak, Nyonya. Tapi sepertinya, itu perempuan yang tadi Nyonya tegur sebelum naik ke atas." Kimberly mengangguk setuju. Berarti tidak salah tebakannya tadi, perempuan muda bertubuh seksi itu memang akan masuk ke dalam mobil puteranya. "Apa suamiku tahu tentang itu juga?" tanya Kimberly lagi dan ia mendapatkan gelengan lagi oleh asistennya. "Sepertinya, tidak, Nyonya." "Aku harus mencari tahu. Victor tidak boleh bersama perempuan sembarangan yang tidak sepadan dengan keluarga besarnya." Asistennya hanya diam, ia tahu pasti siapa nyonya Kimberly ini. Istri dari tuan Robert yang tak lain adalah ibu dari Victor. Perempuan itu memutuskan untuk secepat mungkin kembali ke rumah. Ia harus bertanya langsung kepada putera semata wayangnya tentang perempuan yang tadi berada di dalam mobil. Bahkan sepanjang perjalanan pulang, ia merasa sangat terganggu. Rasanya ingin secepat mungkin untuk sampai di rumah dan bertanya langsung kepada putera tercintanya. Ketika sampai di rumah, Kim tidak menemukan mobil puteranya terparkir. Sementara di apartemen milik Ayara, perempuan itu sedang bermesraan dengan Victor. Lelaki itu belum membawanya ke rumah. Victor memiliki rumah sendiri yang terpisah dengan rumah kedua orangtuanya. Sebuah kediaman megah yang dulu ia tempati bersama Gladys. Namun, tempat itu sudah cukup lama ia tinggalkan. Kini ia sudah berencana kembali lagi ke sana untuk membawa Ayara serta setelah ia selesai dengan kesibukan padatnya dalam beberapa hari ke depan. Bersama Ayara beberapa hari ini sudah membuatnya begitu nyaman, meski kadang dalam tidurnya yang lelap, Ayara kerap mendengar Victor memanggil nama perempuan lain, Gladys, istrinya yang konon kata orang sudah tenggelam dan mati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN