Rumah megah dengan dua orang suami istri yang tengah menikmati hidangan makan malam itu, nampak cukup hening. Sedari tadi, yang terdengar hanyalah denting suara sendok dan garpu yang beradu. Sedari tadi pula, kedua orang tua itu sudah menunggu kehadiran Victor untuk bersama mereka menyantap hidangan makan malam seperti biasanya, tetapi putra mereka itu nampaknya belum kembali.
"Suamiku, apa kau mendengar cerita tentang anak kita akhir-akhir ini?" tanya nyonya Kimberly membuka percakapan di atas meja makan itu setelah ia hampir menyelesaikan makan malamnya. Suaminya_tuan Robert, melihatnya dengan tatapan bertanya kemudian menggeleng perlahan.
"Tidak ada, seperti yang kita tahu dia baru saja kembali dari kapal pesiar yang memang biasa dilakukannya setiap tahun."
"Bukan itu maksudku, apakah kau pernah mendengar akhir-akhir ini mungkin dia sedang dekat dengan seorang perempuan?"
Mendengar hal itu, tuan Robert menghentikan makannya. Kemudian ia menatap istrinya dengan lekat. Lalu ia teringat dengan percakapannya bersama Victor saat putranya itu sedang berada di kapal pesiar beberapa waktu kemarin dan putranya memang mengatakan bahwa ia bertemu dengan seorang perempuan yang memikat hatinya di atas kapal pesiar itu.
"Ah iya, untung kau mengingatkan aku. Waktu aku menelponnya beberapa hari yang lalu, saat dia masih berada di kapal pesiar, aku memang sempat mendengar kalau dia bertemu dengan seorang perempuan di sana. Itu saja, dan kita harus menyambut dengan baik hal ini, istriku, karena itu artinya Victor akan terbebas dari bayang-bayang masa lalunya selama ini bukan?
Berbeda dengan reaksi tuan Robert yang nampak senang dan antusias membicarakan perihal perempuan yang saat ini digadang-gadang sedang dekat dengan Victor, nyonya Kim justru memberikan reaksi yang berbeda. Ia nampak tidak senang dengan perbincangan ini. Ia menggeleng perlahan menatap suaminya dengan begitu serius sembari meletakkan garpu dan sendoknya tertelungkup yang artinya ia sudah selesai dan tidak lagi menikmati makan makan malamnya.
"Tidak semudah itu, suamiku. Aku tidak ingin Victor salah memilih perempuan. Apalagi dia sangat terkenal sebagai laki-laki yang sangat menjaga wibawanya. Dan tidak boleh ada perempuan sembarangan yang dekat dengan putra kita, itu akan menghancurkan reputasinya. Cukup Gladys yang kemarin sudah meninggal dan entah kenapa aku masih punya keyakinan kalau menantuku itu sepertinya masih hidup."
Tuan Robert nampak tidak senang ketika nyonya Kimberly menyebut nama menantu yang sudah meninggal itu. Bagi tuan Robert, perempuan itu memang sudah benar-benar tidak ada lagi.
"Apa kalian sudah kehilangan akal sehat? Tidak kau ataupun Victor, masih menganggap kalau Gladys masih hidup. Perempuan itu benar-benar sudah tidak ada! Lagipula, aku bersyukur dia sudah tidak lagi berada di antara kita, dia tidak pantas mendampingi putraku," sarkas tuan Robert.
"Kau tidak boleh berkata seperti itu. Kau sendiri tahu bahwa Gladys perempuan yang sangat baik. Tentu aku sangat mendukung hubungannya dengan Victor dahulu. Hanya kau yang tidak pernah menyukainya," keluh nyonya Kim.
"Kita tidak pernah tahu perempuan seperti apa Gladys itu. Ya sudahlah, aku tidak ingin membicarakan orang yang sudah tidak ada lagi." Tuan Robert juga meletakkan sendok dan garpunya, ia sudah kehilangan selera sebab istrinya terus saja menyebut-nyebut nama menantu yang dari dulu tidak pernah menarik perhatiannya itu. Entah mengapa ia begitu tidak menyukai Gladys, mungkin sebab desas-desus mengatakan bahwa Gladys pernah menduakan Victor dengan lelaki lain, tetapi hal itu selalu ditepis oleh istrinya.
"Aku hanya ingin yang terbaik untuk anak kita. Dia sudah terlalu lama terluka karena kehilangan Gladys dan aku tidak ingin ketika dia mendapatkan perempuan lagi, malah mendapatkan perempuan yang tidak jelas asal-usulnya. Kau tahu sendiri kan, keluarga kita ini sangat terhormat. Siapa pun sangat menghormati keluarga kita. Bagaimana kalau perempuan yang saat ini sedang dekat dengan putra kita adalah bukan perempuan baik-baik? Itu tentu saja akan menghancurkan nama baik yang kita punya selama ini."
"Sudah, istriku. Aku tidak ingin berdebat mengenai Victor. Dia juga sudah dewasa, sudah tidak memerlukan pendapat kita. Dia tentu tahu dengan pilihannya baik atau tidak. Aku tidak ingin dia terus mengurung diri karena kehilangan istrinya yang sudah meninggal itu. Kalaupun benar Victor memang sedang dekat dengan perempuan saat ini, ya sudah, itu adalah hal yang baik. Aku akan selalu mendukung apapun yang Victor lakukan."
"Kau tidak berpikir terlalu jauh seperti aku. Aku melihat perempuan itu memang bukan perempuan yang baik-baik dan sepertinya tidak asing. Aku seperti pernah melihatnya. Entahlah, dulu aku seperti pernah melihat seorang pengusaha bersama dengan perempuan itu. Bagaimana kalau anak kita ternyata berhubungan dengan seorang p*****r? Apa kau akan terus mengizinkannya?" cecar Nyonya Kim.
"Pemikiranmu itu justru yang sepertinya terlalu jauh. Sudahlah, kita tidak perlu mencampuri apa yang saat ini sedang Victor lakukan. Lagipula, mungkin saja tuduhanmu itu tidak berdasar. Kau tidak boleh seperti itu."
"Apapun katamu, Suamiku. Aku hanya ingin yang terbaik bagi putraku dan keluarga kita. Dan memang kalau benar perempuan itu bukan perempuan baik-baik, aku tidak akan pernah mengizinkan Victor untuk melanjutkan hubungan dengannya. Lihatlah, saat ini anak itu sepertinya sengaja tidak ingin dihubungi olehku. Ia dari tadi tidak mengangkat teleponku," kata nyonya Kim kesal.
Tuan Robert hanya menggeleng melihat tingkah istrinya itu. Ia tahu istrinya dari dulu memang sangat protektif terhadap putranya. Apa saja yang mengenai Victor ingin selalu ia ketahui. Berbeda dengan tuan Robert yang selalu memberi kepercayaan penuh kepada putranya itu.
"Aku yakin, Victor pasti tahu apa yang sedang ia lakukan dan aku juga berharap perempuan yang memang saat ini sedang bersamanya adalah perempuan yang baik-baik, tidak seperti perkiraanmu tadi."
Tuan Robert menyudahi acara makan malamnya kemudian berdiri dan berlalu menuju ke ruang tengah untuk bersantai. Ia tidak mau lagi berdebat dengan istrinya itu. Sementara, nyonya Kimberly masih duduk di atas kursi di depan meja makan. Jemarinya mengetuk-ngetuk pelan meja kaca dan menatap lurus ke depan.
"Aku tidak akan pernah membiarkan putraku terjerat dengan perempuan yang aku yakini bukan perempuan baik-baik itu."
Nyonya Kimberly masih bergelut dengan pikirannya sendiri, ia belum memiliki keinginan untuk beranjak dari meja makan. Pikirannya masih melantur kemana-mana, sama seperti pemikiran Victor yang masih menyangkal kematian Gladys, ia juga punya keyakinan yang sama bawa menantunya yang ia anggap baik itu memang masih hidup meski ia tak tahu dimana perempuan itu sekarang.
Nyonya Kimberly akhirnya meninggalkan meja makan dengan banyak sekali pertanyaan yang masih menggantung di kepalanya. Tentang siapa perempuan yang sedang bersama putranya tadi, lalu bayangan ketika ia dulu tak sengaja melihat perempuan yang begitu mirip sedang dengan salah satu pengusaha yang pernah secara tak sengaja bertemu dengannya di sebuah acara dulu.
"Jane," panggil Kimberly kepada asisten yang masih setia menunggu di belakang tak jauh dari kursi makannya.
"iya, Nyonya."
"Kau masih ingat bukan, dengan salah satu pengusaha properti bernama tuan Wira yang pernah hadir di acara peresmian cabang baru perusahaan kita dahulu?" tanya nyonya Kimberly kepada asisten setianya itu. Asisten itu segera mengangguk.
"Sepertinya aku mulai mengingatnya."
"Kau ingat dengan perempuan yang mendampinginya saat itu bukan?"
"Aku tidak ingat, Nyonya."
Nyonya Kimberly menghembuskan nafas kesal tapi kemudian ia kembali menolehkan pandangannya ke arah asisten setianya itu .
"Sambungkan telepon untuk tuan Wira, aku ingin berbicara dengannya."
Asisten segera melakukan perintah yang diberikan oleh nama Kimberly. Tidak berapa lama kemudian, telepon beralih ke tangan Nyonya Kim yang kemudian mulai serius dengan perbincangannya bersama seorang pengusaha yang dicurigai pernah bersama perempuan yang ia lihat di mobil anaknya beberapa saat yang lalu.
***
"Victor, apa sebelumnya, perusahaanmu pernah membuka cabang baru beberapa bulan yang lalu?" tanya Ayara sambil menyesap teh hangat yang baru saja ia buat. Ia masih mengenakan handuk kimono yang melekat di tubuhnya sedangkan Victor masih berada di atas ranjang.
"Ya, kau tau?"
"Tidak, hanya saja seperti aku pernah melihatnya di surat kabar." Ayara tersenyum singkat.
"Waktu itu, memang ada peresmian cabang baru di salah satu kota ini, tapi aku waktu itu tidak menghadirinya, Ayara."
Ayara mengangguk. Pantas saja saat dulu ia menghadiri acara peresmian itu bersama dengan seorang pengusaha ternama, ia tidak melihat Victor sama sekali dan ia baru sadar ketika melihat nama Grazzalendra Group di gedung pencakar langit beberapa saat yang lalu, membuat ia segera tersadar bahwa ia pernah menghadiri sebuah acara peresmian cabang baru perusahaan tersebut beberapa bulan yang lalu.
"Pantas saja." Ayara mendesah pelan, tetapi rupanya itu bisa terdengar oleh Victor sehingga lelaki itu mengerutkan dahinya seraya menatap lekat perempuan cantik yang rambutnya masih setengah basah itu.
"Apanya yang pantas, Sayang? Dari tadi kau hanya bergumam."
Ayara mengalihkan pandangannya, kemudian tersenyum kepada Victor. Ia tidak ingin membahas hal itu. Ayara mendekat ke arah Victor lalu masuk ke dalam pelukan lelaki itu. Berada dalam pelukan Victor rasa nyaman dan hangat membuat Ayara betah berada di sana untuk waktu yang lama, tidak seperti ketika ia sedang melayani pelanggan-pelanggan lainnya, membuat Ayara ingin segera melepaskan diri dan menyelesaikan tugas secepat mungkin tetapi tidak dengan Victor, ketika sudah bersama lelaki itu, ia hanya merasakan kenyamanan hingga tak lagi memusingkan soal angka yang akan ia dapatkan dari lelaki kaya raya itu.
"Sayang, apa kau tidak memiliki adik beradik?" tanya Ayara sembari memainkan jemarinya di atas d**a Victor yang berbulu, membuat lingkaran di sana.
Victor menggeleng. "Tidak, aku anak tunggal Ayara. Karena itulah aku sangat serius mengelola perusahaan keluarga besarku. Grazzalendra Group adalah perusahaan ternama yang berdiri dengan kokoh dan merajai setiap perusahaan raksasa lainnya, jadi aku tidak boleh terlalu banyak berleha-leha. Beda halnya kalau aku punya kakak atau adik, mereka tentu bisa membantuku untuk mengelola perusahaan."
"Kau sungguh hebat, Victor. Aku merasa sangat bodoh baru mengenalmu sekarang. Sedari dulu aku tidak pernah tahu tentangmu." Ayara tertawa singkat.
"Itu lebih baik, Ayara. Aku lebih senang kita bertemu sekarang."
"Mengapa? Bukankah lebih menyenangkan seandainya kita bertemu sejak dulu?"
Victor membelai lembut rambut Ayara yang panjang kemudian mengecup keningnya perlahan. "Kalau aku bertemu denganmu sejak dulu, aku tidak akan pernah membawamu ke dalam hidupku seperti saat ini . Ada Gladys yang sangat aku cintai saat itu."
Ayara mengatupkan bibirnya perlahan. Entah mengapa mendengar itu rasanya sakit sekali. Ayara sadar, ia adalah sesuatu yang singkat yang hadir tanpa terduga di dalam kehidupan Victor, bukan sesuatu yang memang sudah direncanakan.
"Aku mengerti, Victor. Aku hanya berandai-andai dan sedikit bercanda. Kau benar, kau tidak perlu menanggapinya serius kata-kataku tadi. Aku mengerti hubungan kita tidak lebih sebatas ranjang saja. Aku paham sekali maksudmu."
Ayara menunduk saat mengatakan itu. Victor tidak ingin lagi membahas hal itu, ia sudah merasa cukup nyaman bersama Ayara saat ini. Setidaknya hal itu bisa mengusir sepi.
"Kau tahu rasanya kehilangan orang yang kita cintai? Aku seperti mati rasa, tidak bisa merasakan keindahan apapun. Semuanya terasa gelap, sampai hari ini aku masih berkeyakinan kalau istriku sebenarnya masih hidup. Entah di mana dia sekarang, tapi aku juga sedikit terkejut dengan diriku sendiri karena ternyata kau bisa membuat aku tertarik."
"Mungkin itulah tugas seorang perempuan seperti aku. Aku hanya bertugas untuk menyamankanmu dan ketika kau tidak lagi membutuhkanku, ya sudah, cerita kita akan berakhir seperti keringat yang mengering setelah kita melakukan percintaan di atas ranjang, tidak akan ada hal yang istimewa."
"Terima kasih atas pengertianmu, Sayang. Aku hanya berharap kau mengerti perasaanku. Tidak mudah untuk lepas dari bayang-bayang masa lalu. Tapi kemungkinan apapun bisa saja terjadi, Ayara, walaupun aku tidak ingin menerka-nerka seperti apa hubungan kita ke depannya."
Ayara mengangkat kepalanya, ia mendongak menatap Victor. Seperti ada sesuatu yang penuh misteri kata-kata barusan. Apakah ada harapan untuk selamanya bisa menempati hati lelaki itu? Tidak lagi hanya sebagai simpanan? Ayara jadi mengutuk dirinya sendiri saat ini. Bagaimana mungkin, perempuan seperti dirinya berharap hal semacam itu. Ia jadi tidak habis pikir dengan pikirannya yang melantur kemana-mana, tetapi sungguh pesona seorang Victor tidak bisa dipungkiri oleh Ayara hingga membuatnya terlena.
"Sudahlah, aku tidak ingin membahas apapun lagi tentang kejadian masa laluku. Aku ingin bertanya satu hal kepadamu."
"Apa itu, Sayang? Kalau aku bisa menjawabnya untukmu, aku akan menjawabnya," ujar Ayara sambil tersenyum.
"Bagaimana kehidupanmu sendiri, Ayara? Maksudku, sebelumnya seperti apa kehidupanmu sebelum kau menjadi seorang perempuan penghibur seperti ini? Kau perempuan yang sangat cantik, tentu saja akan banyak pekerjaan yang lebih baik dari ini bukan?"
Mendengar itu, tatapan Ayara jadi menerawang. Ia jadi ingat hal yang melatarbelakangi dirinya menjadi seperti ini ke beberapa waktu silam. Apakah ia bisa menceritakannya kepada Victor, sementara luka itu sudah begitu dalam kubur?
"Kehidupanku tidak seperti kau, Victor, yang sudah kaya dari lahir. Sudah begitu mempesona semua orang semenjak kau hadir ke dunia ini. Aku tidak seberuntung itu. Kedua orang tuaku sudah meninggal, tidak ada dari keluargaku yang ingin merawatku setelah kematian kedua orang tuaku. Aku terbuang dan hidup di panti asuhan. Masa-masa sekolah, aku begitu sulit. Aku tidak seperti ini, aku jelek, badanku gemuk sekali. Aku kerap jadi korban bully, hingga kekerasan fisik. Kata-kata yang menghina sudah jadi makanan sehari-hari aku dapatkan. Semua itu pada akhirnya membuat aku bertekad untuk membalaskan dendam dengan mengubah diriku dan menyerahkan diri kepada seorang mucikari waktu itu. Sampai sekarang, setelah aku nyaman dengan pekerjaan ini, tidak ada yang mampu berkata buruk tentang wajah atau tubuhku lagi. Hanya saja ... " Ayara menghentikan kata-katanya sementara Victor sudah menunggu dengan semakin erat merengkuh perempuan itu.
"Apa, Sayang?" tanya Victor penuh perhatian.
"Luka bully itu masih ada hingga sekarang, menciptakan trauma, membuat aku jadi pendendam dan tidak pernah bisa percaya pada siapapun lagi."
Ayara menunduk dalam dengan Victor yang kini semakin memeluknya erat. Tiba-tiba saja air mata perempuan itu menetes, mengenang masa lalunya yang begitu menyakitkan.