Ditinggal Pergi

2037 Kata
Mentari menyilaukan membangunkan Ayara dari tidur nyenyaknya. Ayara meraba sisi ranjang sebelahnya. Kosong, membuat ia membuka matanya perlahan. Harusnya, Victor masih berada di sana bukan? Kemana pria itu pergi? Ayara menarik selimut, menutupi tubuhnya yang polos lalu menyeretnya setengah terpejam ke kamar mandi. "Victor?" panggil Ayara serak. Tak ada sahutan sama sekali. Ayara beralih ke dapur minimalis di dalam apartemennya. Sama saja, ruangan itu sepi tak ada siapapun. Ayara menarik nafas panjang. Sepertinya, Victor sudah pergi. Ayara masuk lagi ke dalam kamarnya kemudian, ia bergegas meraih ponsel yang terlempar sembarang semalam. Benda itu tergeletak di atas permadani putih yang cukup tebal. Ia mulai membuka layar ponselnya, banyak pesan dari para klien yang sudah ia abaikan. Ada juga pesan dari para sosialita yang mengajaknya untuk sekedar hangout hari ini. Tak ada pesan dari Victor. Ayara tiba-tiba saja merasa sedikit terluka. Tak bisakah lelaki itu mengirim pesan kepadanya, menjelaskan mengapa ia ditinggalkan begitu saja? Oh, Ayara tiba-tiba saja tersadar satu hal. Hubungan mereka tak lebih dari sekedar urusan ranjang. Apa yang membuat dirinya begitu yakin kalau sekarang ia mungkin sudah menjadi bagian terpenting dalam hidup lelaki hebat seperti Victor? Memikirkan itu membuat Ayara jadi nelangsa. Tak mau merepotkan diri dengan pikiran yang tidak-tidak mengenai hubungannya dengan Victor, Ayara memilih untuk masuk lagi ke kamar mandi, mengguyur sekujur tubuh dengan air dingin. "Tidak ada cinta yang tulus untuk perempuan seperti kita, Ayara." Sebuah kata-kata begitu sarkas terlintas begitu saja saat Ayara tengah asyik merasakan dinginnya air dari pancaran Shower. Kata-kata yang keluar dari mucikarinya dahulu, ketika ia masih bergabung bersama rumah bordil beberapa tahun silam. "Aku tidak butuh cinta, Madam. Aku hanya butuh pengakuan bahwa akan banyak pria yang menginginkan untuk bersamaku. Akan ada banyak perempuan yang iri akan hal itu. Akan banyak uang yang aku kumpulkan dari semua ini. Cinta? Apa itu? Aku tidak peduli. Bahkan Madam sendiri tahu, apa tujuan terbesarku semenjak aku berhasil memangkas puluhan kilogram tubuhku yang gemuk dahulu. Aku sudah jadi cantik, tubuhku berbentuk sempurna, lekuknya indah dan sedap dipandang mata. Semua pria akan bertekuk lutut, memintaku untuk menghangatkan ranjang mereka yang membosankan bersama pasangannya, lalu tubuh ini akan dibayar mahal. Cinta? Sungguh lucu satu kata itu," balas Ayara saat itu. Kontan hal itu disambut tawa juga tepuk tangan oleh madame Diana. Berkat Madam, Ayara yang dulu kerap jadi korban bully, berubah jadi perempuan yang begitu cantik memikat. Keelokan tubuhnya menggoda, membuat siapa saja ingin menerkamnya di atas ranjang, hingga mengantarkan Ayara menjadi perempuan panggilan kelas atas dengan bayaran fantastis. Namun, kini, setelah ia menjadi sugar baby Victor Grazzalendra, ia tiba-tiba ingin sesuatu yang lain. Ayara tak lagi butuh pengakuan seperti dulu. Ayara seolah bisa merasakan getaran tak biasa saat dirinya bersama lelaki yang masih hidup dalam bayang-bayang istrinya yang konon sudah tiada. Tak ada cinta. Kini Ayara yang merasa lucu dengan dirinya sendiri. Serasa sedang menjilat ludah sendiri. Ayara segera menyudahi mandi sebelum pikirannya jadi melantur kemana-mana lagi. Sudah cukup ia bernostalgia dengan masa lalu yang sungguh sudah menorehkan luka begitu dalam. Baru saja ia keluar dengan handuk melilit tubuhnya yang sintal, ponselnya berbunyi. Senyumnya lebar, ia pikir itu Victor. Secepat mungkin Ayara meraih benda pipih itu. Namun, senyumnya tiba-tiba saja sirna perlahan. "Madame?" Sungguh suatu kebetulan, madame meneleponnya setelah ia bernostalgia dengan perempuan itu dalam pikiran barusan. "Ya, Ayara. Sudah lama kau tidak mengunjungi kastil ku." Perempuan yang selalu bertutur teratur itu tertawa kecil saat mengatakannya. Ia tak pernah suka orang menyebut istana dengan para perempuan nakal miliknya itu sebagai rumah bordil, ia lebih suka menyebutnya kastil. Ayara sering menggurauinya dengan sebutan Kastil penghasil lendir. "Sorry, Madame. Aku benar-benar sibuk sekali akhir-akhir ini." "Kau semakin sukses setelah keluar dari kastilku hingga jadi lupa pada siapa yang telah mengorbitkanmu sebagai p*****r kelas atas dahulu," sindir perempuan itu yang hanya ditanggapi Ayara dengan tawanya. "Madame, tentu kau meneleponku bukan tidak ada suatu hal bukan?" "Ya, tentu saja, Sayang. Bagaimana kalau kita bertemu hari ini? Kau tentu tidak sibuk. Pria yang sudah menjadi Daddy-mu sedang tak ada di Indonesia." Ayara mengerjapkan matanya sesaat. Daddy? Sebuah panggilan yang biasa mereka sematkan bagi perempuan seperti dirinya yang sudah disimpan oleh seorang lelaki untuk waktu tertentu. Bukan itu yang jadi persoalan, tapi bagaimana mucikari itu tahu tentang Victor? Dan lagipula, benarkah Victor sedang tidak di Indonesia saat ini? "Ehmmmm ..." "Tak perlu merepotkan diri untuk menerka-nerka darimana aku tahu tentang itu, Ayara. Jam terbangku lebih tinggi daripada kau. Hampir separuh hidupku sudah berkecimpung di dunia bisnis lendir ini. Jadi, informasi sekecil apapun akan tetap masuk ke telingaku." Ayara mengatupkan bibirnya sebelum ia menanggapi madame Diana yang terdengar tertawa lagi di seberang telepon saat ini. "Baiklah, Madame. Aku mengakui kehebatanmu. Aku akan segera pergi ke kastilmu sebentar lagi." "Aku menunggumu, Ayara. Kau akan suka dengan perbincangan kita hari ini." "Ya, Madame, semoga kau tidak membuang waktuku dengan percuma," sahut Ayara sambil tertawa pula. Ayara mematikan sambungan telepon lalu segera memilih pakaian yang akan dikenakannya. Sebuah jeans ketat dan tanktop ketat pula kini telah membungkus tubuhnya. Ayara kemudian mengeringkan rambutnya, membentuknya cepat lalu memoles lipstik berwarna cerah. Riasannya selalu natural tetap tetap memberi kesan elegan dan seksi. Bagian-bagian padat tubuhnya menonjol di balik tanktop hitam juga celana jeans ketat yang ia kenakan. Ayara segera keluar dari apartemen, menuju lift yang segera mengantarkannya ke basemen. Ia menuju mobilnya terparkir. Ayara segera melajukan mobilnya keluar dari lingkungan apartemen menuju kastil milik madame Diana. Sembari menyetir, Ayara sering melihat ponselnya. Ia jadi berharap ada kabar dari Victor. Namun, ia tidak menemukan pesan apapun. Ayara kembali meletakkan ponselnya di dashboard mobil, sedikit kesal tapi tak bisa protes. Ayara menggeleng, ada apa dengan dirinya? Dia seperti remaja puber yang tengah jatuh cinta yang saat ini jadi ketar ketir karena ditinggal sang kekasih pergi. Mobil Ayara memasuki pekarangan kastil madame Diana. Ia segera parkir. Beberapa penjaga berbadan besar menyambutnya dengan anggukan kepala. "Kau sudah datang?" Madame terlihat sedang menuruni tangga dengan segelas minuman yang pastinya beralkohol. Ayara menunggu lalu membalas pelukan madame setelah perempuan itu sampai di bawah. "Semakin banyak gadis cantik di sini, Madame." Ayara mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Beberapa perempuan baru dan sudah lama menghuni tempat itu melihat ke arah dirinya. "Tak ada yang membawa hoki seperti kau, Ayara," sahut madame. "Kita ke taman dekat kolam renang saja," sambung madame mengajak Ayara ke tempat lain yang lebih privasi. Ayara mengikuti langkah perempuan itu. Mereka sampai di taman belakang kemudian. Seorang pelayan membawakan makanan ringan juga minuman yang nampaknya memang sudah disiapkan sejak tadi. "Kau sudah bisa menebak mengapa aku mengundangmu ke tempat ini lagi?" tanya madame setelah menyesap minumannya. "Tidak. Aku penasaran, sepertinya hal yang sangat penting sekali. Sebelumnya, darimana Madame tahu aku saat ini sudah menjadi simpanan ... " "Tuan muda Victor Grazzalendra," potong madame cepat. Ayara diam sebentar lalu mengangguk. "Kau sudah mengenal dengan baik lelaki itu?" "Hanya setengahnya, Madame." "Kau tahu siapa ayah dan ibunya?" Ayara menggeleng. Ia masih buta tentang hal itu. "Dia lelaki yang tidak pernah bermain dengan p*****r, Ayara." "Aku tahu, Madame." Ayara mengangguk singkat. "Dia juga lelaki yang sangat setia terhadap istrinya. Sampai saat ini, lelaki itu terkenal dengan sikap dinginnya terhadap perempuan lain, apalagi perempuan seperti kau." "Ya, aku tahu," timpal Ayara lagi. "Kau cukup hebat, bisa membuatnya tertarik. Jujur, Ayara, aku kurang yakin kalau Victor benar-benar bisa membawamu ke dalam kehidupannya sampai kemarin seorang asisten dari keluarga terkenal datang ke kastil ini." Ayara mengerutkan dahinya tak mengerti. "Asisten? Tak ada hubungannya denganku, Madame." "Tentu saja sekarang ada, Ayara. Dia orang suruhan nyonya Kimberly Grazzalendra. Perempuan perfeksionis itu memerintahkan orangnya mencari tahu asal usul juga semua hal tentang dirimu dimulai dari tempat ini." Kali ini, Ayara mematung. Ia tak langsung menimpali informasi yang memang penting itu saat ini. "Kau terkejut, Ayara?" tanya madame sambil tertawa. "Ya ... sedikit. Apa sampai begitu?" Madame mengangguk. "Keluarga Grazzalendra menjunjung tinggi kehormatan keluarga mereka. Jadi ketika nyonya Kim tahu bahwa puteranya kini terlibat hubungan gila denganmu, ia tidak akan tinggal diam." "Hubungan gila?" tanya Ayara sambil tertawa tertahan. "Ya, karena kau seorang wanita penghibur. Tentu, profesi semacam itu akan sangat haram untuk bisa dekat apalagi sampai masuk ke dalam hidup mereka. Saat ini, kau sedang bersama Victor. Tentu itu cukup fatal bagi keluarga terhormat itu bukan?" Ayara mengatupkan bibirnya. Ia bingung harus menjawab apa. Victor sendiri yang sudah memintanya untuk menjadi simpanan lelaki itu. Parahnya, sekarang Ayara justru telah punya perasaan lain terhadap lelaki itu. Ayara tak mau menyudahi hubungan mereka. Ayara nyaman bersama Victor. "Ayara, aku tak bermaksud untuk menakutimu, aku tidak peduli dengan siapa kau sedang berhubungan sekalipun itu putera presiden sekalipun, tapi kau harus bisa menjaga dirimu sendiri. Aku hanya mengingatkan, kau bisa saja mendapat bahaya. Aku hanya ingin kau berhati-hati." Ayara menatap jauh ke depan. Wajah Victor yang tampan yang penuh kasih itu masih terbayang. Ayara kemudian ingat dengan perempuan yang sempat menyapanya di basemen perusahaan Victor sekembalinya mereka dari kapal pesiar waktu itu. Apakah itu adalah nyonya Kimberly? Perempuan itukah yang saat ini sedang mencari tahu tentang dirinya? "Dari mana dia tahu kalau aku pernah bekerja untukmu,. Madame?" tanya Ayara kemudian. "Salah satu pelanggan dulu yang mengatakannya kepada nyonya Kim." Ayara terdiam lagi. Ia bingung harus menanggapi ini dengan apa. Informasi ini tentu saja penting baginya. Namun, ia sendiri tidak tahu harus bagaiman sekarang. Apalagi saat ini Victor sedang tak ada. Lelaki itu sampai detik ini tak mengabarinya apapun. Setidaknya kalau ada Victor, ia bisa menenangkan diri dan menceritakan keresahan hatinya. Ayara butuh waktu untuk menenangkan diri. Ia tidak mau berlama-lama di kastil milik madame Diana. "Madame, aku tidak bisa lama. Ada yang ingin aku beli. Terima kasih atas informasi yang kau berikan." "Ya, aku hanya ingin kau berhati-hati." Ayara mengangguk lalu memeluk perempuan itu. Ia berpamitan dan memberi senyum singkat kepada para perempuan penghibur lainnya yang kebetulan ada di beranda depan. Ayara masuk ke dalam mobil, keluar dari halaman luas kastil milik madame dan menyetir menuju sebuah mall. Pikiran Ayara sesungguhnya masih bercabang-cabang. Biasanya ia tidak pernah peduli kalau dulu orang-orang tahu tentang dirinya. Bahkan dulu beberapa kali ia terlibat pertengkaran dengan perempuan lain yang membenci dirinya. Kini, nyalinya sedikit menciut saat ia akan dihadapkan dengan keluarga besar Victor. Ayara pergi ke salah satu spa yang ada di dalam mall itu. Ia butuh waktu untuk merelaksasikan tubuh dan pikirannya. Ayara memutuskan untuk sedikit berlama-lama di dalam spa dengan mengambil paket lengkap head to toe. Pijatan di tubuhnya mungkin akan membuat ia yang sedang kehilangan Victor juga gelisah karena informasi yang baru saja ia dengar, menghilang secara perlahan. Hampir dua jam berada di sana dengan tubuh yang sudah cukup rileks, Ayara keluar. Ia melanjutkan berbelanja beberapa barang yang sedang dibutuhkannya, sampai ia melihat beberapa rombongan dari arah depan. Wajah perempuan yang pernah menegurnya saat di basemen perusahaan Victor beberapa hari yang lalu. Perempuan paruh baya itu sedang bersama para perempuan dari kalangan kaya yang lain, seperi mereka baru saja selesai dari suatu acara. Ayara segera berbelok arah. Ia jadi merasa sedikit gugup. Kalau saja tadi nyonya Kim melihat dirinya, pasti perempuan itu akan menghampirinya. Saat ini, Ayara sedang tak siap. Semua hal rasanya terlalu cepat. Ayara memutuskan untuk pulang saja. Hingga malam tiba, saat Ayara sudah lelah menanti kabar dari Victor, saat hampir saja mata Ayara terpejam, dering ponselnya berbunyi. Ayara membulatkan mata, foto dan kontak Victor tertera di layar benda pipih miliknya itu. Ayara hampir terlonjak bahagia, ia segera mengangkat panggilan video itu. "Victor." Ayara hampir meloloskan tangisnya melihat wajah tampan yang sudah beberapa hari ini mengisi hidupnya. Baru beberapa jam tak bertemu, rindu rasanya sudah menggebu. "Maaf, Sayang, aku pergi tanpa memberitahumu." "Ya ... Aku mengerti, Victor." Ayara menunduk sesaat, merasa tak pantas menuntut Victor dengan menyuarakan protes. "Aku akan kembali, beberapa hari lagi. Aku merindukanmu," kata Victor. Ayara menatap lelaki itu lalu menganggukkan kepalanya. "Aku juga, Victor." Ayara tersenyum. "Ayara sepertinya ... "Victor menghentikan kata-katanya. "Sepertinya apa, Sayang?" tanya Ayara. Victor menggeleng. "Tak ada, Ayara. Oh iya, tidurlah. Aku tidak ingin kau tidur terlalu larut." "Ya, aku memang sudah mengantuk," "Baiklah, Sayang. Aku pasti cepat kembali." Ayara segera mengangguk lagi. Ia tidak tahu, mengapa saat ini hatinya tiba-tiba saja berbunga-bunga. Setelah sambungan video call itu mati, Ayara kembali mengistirahatkan tubuhnya. Di tempat lain, Victor masih memandangi foto Ayara. Ia bergumam singkat. "Ayara, sepertinya aku sudah jatuh cinta kepadamu." Victor menerawang, berusaha mencari bayangan Gladys yang semakin kabur dan berganti wajah yang lain. Ayara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN