Ayara Terluka dan Pelanggaran Pertama

1712 Kata
Ayara membuka matanya lagi sesaat. Tadi, kantuknya memang sudah datang dan ia sempat terlelap. Namun, sekarang matanya membuka sempurna. Ia masih mengingat kata-kata Victor yang sebelumnya terputus, seolah ada yang ingin disampaikan Victor kepada dirinya, tapi seperti ada yang membuatnya ragu untuk mengatakannya kepada Ayara. Entah apa, tapi hal itu membuat Ayara jadi menerka-nerka. Hari ini, ia cukup merasa kehilangan Victor karena lelaki itu pergi ke luar negeri tanpa pamit kepadanya. Ya, dia sadar betul posisinya yang hanya seorang simpanan, yang hanya akan menjadi penghangat ranjang bagi pria kesepian itu. Namun, sungguh akan lebih menyenangkan, bila Victor menganggap kehadirannya sedikit berarti walau hanya sekedar memberi tahu kemana ia akan pergi. Bukankah, lelaki itu akan terlibat hubungan dengannya cukup lama? Walau Victor sering membicarakan prihal Gladys, tapi tak ada yang bisa memprediksi akan selama apa Victor bisa bertahan dengan keyakinannya bahwa istrinya itu masih hidup dan suatu saat mungkin akan kembali lagi. Never. Tak ada yang bisa memastikannya. "Huh! Aku jadi tidak bisa tidur begini." Ayara memandang jam dinding yang sudah menunjukkan waktu tengah malam. Tak biasanya ia dirudung seperti ini, setidaknya, semenjak Victor hadir ke dalam hidupnya. Ayara beranjak dari tempat tidur. Ia memandang wajahnya di cermin yang sudah tak ada lagi gurat ngantuk. Bingung harus melakukan apa. Ayara kemudian menuju mini bar, di bukanya lemari kecil tempat khusus ia menyimpan minuman alkohol. "Pakai acara habis segala!" Ayara berseru kesal. Setidaknya, red wine bisa menenangkan dirinya yang sedikit tak karuan saat ini. Ayara membuka ponselnya, ada banyak sekali ajakan untuk pergi ke club malam hari ini. Ayara berusaha mengingat, apa saja yang tak boleh ia lakukan selama ia menjadi simpanan Victor. Lelaki itu tak pernah membatasi pergaulannya. Lelaki itu juga tak pernah melarangnya pergi ke club malam dalam daftar kesepakatan mereka. Ya, seingatnya begitu. Ayara membuka ponselnya, mencari kontak teman-temannya yang sering satu table dengannya di club malam langganan. "Kalian di tempat biasa?" tanya Ayara setelah telepon itu tersambung. "Ya, malam ini sangat ramai, Ayara. Datanglah!" Suara di seberang terdengar berteriak, beradu dengan dentuman musik yang menghentak. Ayara mengangkat bahu, ia sepertinya memang akan tetap melangkah ke club malam. Ia butuh hiburan. Meski Ayara tak terlalu suka bergoyang di tengah ruangan club malam, tapi melihat orang-orang di sana bisa membuatnya cukup merasa senang. Ayara hanya butuh sedikit kesenangan di balik rasa sepinya karena ditinggal pergi sementara oleh Victor. Ayara segera mencari pakaian yang akan dikenakannya. Sebuah gaun sepuluh sentimeter di atas lutut ketat berwarna maroon dengan bahu terbuka. Ayara menyemprotkan sedikit parfum di titik-titik sensitif lalu meraih tas tangannya. Baru saja ia hendak keluar apartemen, ia terpikir untuk menelepon Victor lagi, mungkin ia harus minta izin kepada lelaki itu? Ayara menimbang-nimbang. Lalu akhirnya menggeleng, ia segera memasukkan ponsel ke dalam tasnya dan pergi dari apartemen. Sesampainya di club malam terkenal di kota itu, Ayara segera masuk. Ia disapa oleh para bodyguard yang ada juga beberapa staff club yang sudah pasti sangat mengenal dirinya. "Biasa ya." Ayara memesan minuman lalu duduk di salah satu table yang telah terisi beberapa temannya. Mereka segera bersulang setelah minuman pesanan Ayara datang. Selang beberapa menit, Ayara sudah mulai menikmati dentuman musik. Aneh, saat ini, Ayara merasa ada kekosongan yang menyergap. Ia tiba-tiba saja terkenang dengan Victor. Lelaki itu, apakah akan marah kalau melihatnya berada di club malam lagi? "Ayara, kau seperti sedang banyak pikiran." Salah satu teman menegurnya, membuat Ayara menoleh lantas tertawa. Ia menggeleng lalu mengangkat gelas mengajak mereka bersulang. Ayara hanya ingin bersenang-senang sekarang. Tanpa ia duga, seseorang mendekatinya. Seorang perempuan, menarik rambutnya tiba-tiba lalu menamparnya. Ayara memekik, melihat siapa kiranya orang yang sudah begitu lancang kepadanya. "Kau yang sudah bersama suamiku di kapal pesiar waktu itu!" Perempuan itu berteriak berang. Ayara menyeringai sambil memegang tangan perempuan itu yang masih menarik rambutnya kuat. Ayara membalas dengan satu tangannya yang bebas lalu menampar balik. Botol yang tadi dipegang menghantam lantai dan membuatnya pecah sebagian. "Kau tidak ingat aku?" Ayara bertanya balik, ia tak peduli dengan orang-orang yang berusaha melerai. Ayara memegang dagu perempuan yang tengah tersungkur itu dengan sesungging senyum penuh kepuasan. "Kau?" "Ya, aku, Kyoko Ayara yang pernah kau bully dahulu!" Perempuan itu terbelalak. Entah bagaimana perempuan yang tengah marah itu tahu bahwa tuan Andrew bersama Ayara di kapal pesiar waktu itu. Ayara tidak menyangkal sama sekali. Ia tidak peduli pada julukan p*****r yang diberikan oleh orang-orang kepadanya. Dendamnya terasa terbalaskan dengan kebencian yang kini ia saksikan dari wanita yang pernah menindasnya di masa lalu itu. "b******n! Selama kau hidup, kau memang tidak akan pernah berguna!" Perempuan itu meraih setengah dari botol yang tadi pecah lalu tanpa sempat Ayara cegah, benda itu menggores perutnya cukup kuat. Darah segar mengalir. Ayara menahan lukanya tapi ia masih kuat menjambak perempuan itu lalu menamparnya berulang kali. Para bodyguard yang bertugas langsung memisahkan keduanya. Ayara tersenyum sinis sementara perempuan itu meringis kesakitan karena sudut bibirnya sudah berdarah. Salah satu staff keamanan membawa Ayara ke rumah sakit. Wajah Ayara pucat pasi, darah terus mengucur dari luka yang menganga, merobek gaun tipis ketatnya, menembus perut rata dan mulusnya. "Sebentar lagi kita sampai, Nona." Ayara tak menjawab, ia hanya memandang lurus ke depan. Luka ini memang membuat fisiknya sakit, tapi hatinya sangat puas melihat perempuan yang dulu kerap menindasnya begitu terluka mengetahui suaminya main gila dengan dirinya. Sesampainya di rumah sakit, Ayara segera dilarikan ke unit gawat darurat. Ia segera mendapatkan perawatan. Lukanya harus segera di bersihkan dan dijahit agar tidak infeksi. Dokter dan perawat yang menangani perempuan itu saling melihat, sebab Ayara tidak meringis sedikit pun. Ia nampak santai menerima tindakan operasi kecil di sekitar perutnya yang robek itu. Tatapannya kosong. Saat ini, yang ia pikirkan hanya satu orang. Wajah Victor terbayang-bayang selama ia sedang diberikan penanganan. "Nona, mungkin bisa meminta keluarga untuk menemani sementara di rumah sakit ini? Setidaknya Nona harus menjalani rawat inap beberapa hari. Luka ini harus tetap dalam pemantau kami tim medis." Dokter berbicara dengan sopan kepada Ayara. "Tidak perlu, Dokter. Aku bisa sendiri. Aku akan membayar semua perawatanku." "Setidaknya ada salah satu keluarga Nona menemani atau mungkin suami Nona." "Aku tidak punya keduanya, Dokter. Tidak masalah, aku punya uang. Siapkan saja kamar perawatan untukku." Dokter menarik nafas panjang. Ia akhirnya mengangguk dan memerintahkan perawat untuk segera memindahkan Ayara ke kamar perawatan. *** Ayara sudah berada di kamar perawatan VIP. Perawat yang tadi mengantarkannya juga sudah kembali. Ayara bisa menekan bel bila ingin memanggil perawat lagi. Ayara juga sudah berganti baju pasien. Lukanya memang cukup panjang dan dalam. Terasa ngilu bila ia bergerak sedikit. Malam bergerak menuju subuh, Ayara masih mematung di dalam kamar perawatan. Sekelilingnya begitu sepi membuat Ayara tersadar bahwa ia memang selalu sendiri sedari dulu. Ponsel Ayara berdering. Madame Diana meneleponnya. "Ya, Madame." "Ayara, kau berkelahi di club malam? Aku mendengar informasi gila ini dari salah satu orangku." "Ya ... Sedikit terluka juga saat ini, Madame." Ayara tertawa. "Ayara, kau sebelumnya tak pernah seperti ini. Baiklah, katakan di rumah sakit mana kau sekarang, biar aku menemanimu." Ayara yang merasa butuh teman bicara sepertinya memang membutuhkan madame saat ini. Jadi ia segera memberitahu alamat rumah sakit. Sekitaran dua puluh menit kemudian, madame Diana datang ke ruang perawatannya. Ia memandang Ayara dengan sendu, membuat Ayara jadi sedikit risih. "No, Madame, jangan pandang aku seperti itu." Ayara menggeleng sembari tersenyum. Madame hanya menggeleng saja melihat perempuan cantik yang tengah terbaring lemah itu. Ia meraih kursi lalu duduk di samping ranjang Ayara. "Kau tidak ingin membawa masalah ini ke hukum? Perempuan itu pasti bisa kau penjarakan karena sudah melukaimu." "Biar saja, Madame. Melihat dia begitu nelangsa saat tahu suaminya bersamaku beberapa waktu yang lalu juga sudah membuat aku puas. Lagipula ..." Ayara menghentikan kalimatnya. "Apa?" "Aku tak mau nanti berita ini tersebar ke media. Kau tahu sendiri, tuan Andrew salah satu pebisnis sukses dan pasti wartawan akan mencari berita tentang malam ini. Aku tidak mau nanti Victor juga ikut membaca berita ini." Madame tampak berpikir sesaat lalu ia segera mengangguk setuju. "Apa kau pikir, Victor tidak akan tahu tentang hal ini?" "Tentu, dia sedang di luar negeri, bukan." "Ya, tapi luka ini tidak akan sembuh dengan mudah, Ayara. Dia pasti akan bertanya kepadamu darimana kau mendapatkan luka ini." Ayara tak urung jadi berpikir pula. Tiba-tiba saja ada rasa sesal menggelayut di ujung hatinya. Harusnya ia tak perlu menjejakkan kaki di club malam, malam ini. Namun, apa mau dikata? Nasi sudah menjadi bubur. "Victor tidak akan pernah peduli tentang apapun selain itu tentang istrinya juga aktivitas ranjang kami, Madame." Ayara menerawang jauh ketika mulutnya mengatakan hal itu. Madame menggeleng, ia bisa melihat bahwa Ayara bukan lagi perempuan ambisius yang menginginkan banyak pria kaya membawa dirinya dan memamerkannya dengan bangga kepada semua orang. Madame bisa melihat, mantan pekerjanya itu kini sedang jatuh cinta kepada lelaki bernama Victor yang adalah orang terkaya di negeri ini. "Aku tidak mengerti tentang hal semacam ini, Ayara, maksudku perkara cinta seperti yang tengah melandamu ini. Tapi aku hanya bisa mengingatkanmu, dengan siapa kau sedang terlibat hubungan. Akan ada banyak sekali orang yang menentangnya, terutama dari keluarga besarnya sendiri. Aku ingin kau jangan terlena." Ayara menoleh, ia mengerti apa yang madame maksud tapi ia juga tidak bisa memungkiri, apa yang dikatakan madame tentang perasaannya kepada Victor adalah hal yang benar. "Jatuh cinta begitu merepotkan, Madame," keluh Ayara jujur. "Karena itulah, p*****r dilarang jatuh cinta, Ayara." Ayara diam tak merespon. Ia hanya memandang pias ke depannya. Hingga pagi menjelang, madame masih menemani Ayara. Tetapi setelah itu sampai beberapa hari ke depan, Ayara sendiri lagi. Setiap hari akan ada perawat yang membantunya beraktivitas. Lukanya belum kering, kasa yang menutupi luka harus tetap diganti setiap hari dan dibersihkan. Nyerinya masih terasa setiap Ayara bergerak. Tak ada telepon atau pesan dari Victor. Ayara tidak tahu ia harus sedih atau senang, sebab setidaknya, Victor tidak perlu tahu bahwa ia tengah dirawat inap saat ini dan ia tidak akan tahu pula bahwa Ayara pergi ke club malam tanpa sepengetahuannya malam lusa kemarin. Namun, nampaknya Ayara salah terka, sebab ketika hari ketiga dia dirawat, saat Ayara sedang menonton televisi di kamar perawatannya, pintu kamar itu terbuka. Ayara kira itu salah satu perawat yang merawatnya. Senyum Ayara mendadak hilang saat ia melihat siapa yang datang. Harum maskulin itu bahkan mulai tercium meski jarak keduanya masih cukup jauh. Wajah Victor begitu datar memandangnya. "Kau melakukan pelanggaran pertamamu, Ayara." Suara berat itu membuat Ayara bergidik, sepertinya, Victor tahu segalanya meski ia sedang tak bersama Ayara sekalipun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN