Battle [Part 5]

2347 Kata
Carla, gadis berambut panjang yang awalnya menatap tajam, langsung terdiam bingung dengan apa yang Kakaknya katakan. "Kau memang harus bisa mengalahkan aku..... suatu hari nanti," ucap Carlos. "Apa maksudmu?" heran Carla, yang pangsung menurunkan pedangnya. Carla tidak paham apa yang dimaksud Kakaknya itu. Kenapa dia harus mengalahkan Carlos? mereka kan saudara. Lagipula Carla melawan Carlos hanya ingin bercanda, dan mencari perhatian Carlos semata. Bukan untuk pertarungan nyata. "Carlos!" teriak Belve dari tepi lapangan, sambil berlari mendekati kedua anaknya. "Sudah, tenangkan dirimu." "Mama tidak udah khawatir. Aku hanya ingin tau seberapa kuat dia ini, sampai terus-menerus menantangku," papar Carlos. Membuat Belve hanya mengangguk pasrah, kemudian mundur. Namun karena tidak ingin suasana terlalu buruk, Belve memutuskan untuk memanggil suaminya yaitu Derren, untuk membuat portal agar kerusakan tidak mempengaruhi wilayah lain. Sedangkan Zora hanya memainkan jarinya sendiri gugup. Dia sangat merasa bersalah atas pertingkaian antara Carlos dan Carla. Padahal, Carla memang sudah mengincar waktu agar bisa berhadapan dengan Kakaknya itu. Kebetulan saja, Carla menemukan masalah agar bisa menantang Carlos. "Zora..." panggil Belve. "Ya, Luna?" jawab Zora dengan lirih sambil mendekati Belve. "Seandainya perkelahian ini berujung parah, kau ajaklah Carlos pergi ke danau belakang. Hanya di sana Carlos bisa tenang," titah Belve, disambut dengan anggukan paham dari Zora, yang untungnya sudha tau letak danau yang Belve maksud. Kemudian Zora berfikir, ternyata seperti ini ya, kehidupan anggota kerajaan. Mereka bahkan tidak bisa menikmati hari-hari dengan tenang, dan sibuk mengurusi berbagai masalah. Terlebih lagi, mereka punya Putri spesial yang suka membuat masalah. Dan juga Pangeran pemarah yang suka bermain dengan keras. Bredaarr! Suara ledakan, membuyarkan lamunan Zora. Zora yang awalnya menunduk, mengangkat dagu untuk melihat apa yang terjadi. Namun pandangan Zora tertutupi asap tebal. Hingga beberapa detik kemudian, Zora bisa melihat dua siluet yang saling menyerang. Keduanya sangat cepat, sampai Zora bingung melihat gerakan tersebut. Carlos, menggunakan api hitam yang dia dapat dari darah Ayahnya. Sedangkan Carla, menggunakan kekuatan api yang telah dia perluas menjadi ombak. Jujur, Carlos sangat terkejut melihat betapa cepatnya Carla belajar. Bahkan, gadis itu sudah bisa mengikuti teknik ombak yang pernah Carlos gunakan tanpa pelatihan langsung dari Carlos. Berbeda dengan Carlos, yang kaget dan juga takjub. Belve dan Derren sebagai orang tua, justru takut karena teknik ombak bisa menyerap energi yang begitu banyak. Bahkan, jika Carla memiliki 100% energi, maka sekitar 40% energinya akan habis untuk sekali menggunakan teknik ombak. Berbeda dengan Carlos yang memang sudah memiliki kekuatan besar. Teknik ombak hanya akan menyerap 10% tenaga. Walaupun menyerap begitu banyak tenaga, teknik ombak ini sangat berguna untuk peperangan apalagi jika berada di atas tanah. Karena semua tanah akan menjadi ombak api, dan menghabisi banyak lawan. Perbandingan kali ini bisa dilihat. Carlos memiliki 87% tingkat kemenangan, sedangkan Carla 60%. Tidak berbeda jauh, tapi Carlos tentu lebih berpengalaman dari pada Carla. Namun Jika Carlos menang dalam hal kekuatan, maka Carla menang dalam hal kecepatan. Jadi keduanya memiliki kelebihan masing-masing. Sedangkan di tengah lapangan, Carla mengatur nafasnya yang terengang-engah sehabis menggunakan teknik ombak api. Nafasnya terasa sesak, dan panas. Namun hal tersebut tidak membuat Carla menyerah. Gadis itu kembali membuat fokus kekuatan yang lebih besar lagi. Sedangkan Carlos hanya tergeser beberapa meter saja. Padahal Carla sudah menggunakan teknik ombak. Tentu saja, hal tersebut membuat Carla semakin kesal karena merasa teknik ombak apinya itu kurang kuat. Tapi karena tidak ingin salah tindak, Carla mencoba mengatur strateginya. Pandangan Carla menangkap tangan kanan Carlos yang sudah mengepal, tertutup oleh asap hitam. Carla tersenyum miring, kemudian meledakkan api tepat di hadapannya, hingga asap menutupi pandangan Carlos. Dan benar saja, detik itu juga Carlos melepaskan kekuatan hitam, yang tidak pernah Carla tau kekuatan apakah jenis itu. Bukan api, bukan pula bayangan. Hanya seperti asap, tapi sangat perih jika mengenai kulit. Yang jelas, hanya Carlos saja yang memiliki kekuatan tersebut. Setelah Carlos melancarkan serangannya, Carla memanfaatkan waktu selagi Carlos mencari keberadaan Carla, untuk berlari secepat mungkin ke belakang Carlos. Lalu menyerang Carlos dari belakang. Namun, baru saja Carla menargetkan leher Carlos, pria bertubuh kekar itu langsung berbalik, seolah tau bahwa ada Carla di belakangnya. "Bodoh," desis Carlos. Padahal, Carla sudah meminimalkan auranya, agar Carlos tidak merasakan keberadaan Carla. Dan saat itu juga Carla sadar, bahwa dia mengumpulkan seluruh kekuatannya di pedang yang ia genggam. Mungkin karena itu, Carlos sadar ada bahaya yang mengintai. Beruntung, karena Carla sangatlah gesit, dia bisa menghindari pukulan maut dari Carlos. Jika tidak, Carla pasti sudah terpental hingga jauh. "Kakak yang bodoh!" beo Carla yang merasa menang. Lalu dengan secepat kilat, Carla mengayunkan pedangnya, tepat pada leher Carlos. Dengan wajah tanpa ekspresi, Carla ingin segera mengalahkan Kakaknya. Namun.... seseorang menahan serangan Carla. "Kak Zora..." lirih Carla, saat sadar siapa yang berada di hadapannya. Ada Zora, yang tengah menahan serangan pedang Carla, dengan pedang yang dia temukan di pinggir lapangan. Mungkin milik salah satu prajurit yang tertinggal. Semua mata yang menyaksikan, dibuat terkejut bukan main. Sebab, serangan Carla sama sekali tidak menembus pedang Zora. Padahal, jika dibandingan, kekuatan mereka sudah beda jauh. Apalagi Carla memiliki darah kerajaan. Dan tidak ada yang bisa menahan serangan Carla selama ini, kecuali keluarganya sendiri. Tapi beberapa saat kemudian semua sadar, bahwa Zora memfokuskan seluruh kekuatannya pada pedang, sampai 70%. Untung saja Carla langsung membatalkan seranganya dan mundur. Kalau tidak, Zora bisa terlalu lama menggunakan kekuatannya untuk menahan Carla. Bisa-bisa, Zora mati karena kehabisan energi. Pasalnya, semua tubuh Werewolf, memerlukan 15% energi hanya untuk bertahan hidup. Bruuk!! Tubuh Zora tergeletak begitu saja di tanah yang gersang. Dengan darah yang mulai menetes dari mulut dan hidungnya. Sedangkan Carla yang sadar akan keadaan, segera membuang pedangnya dan berlari mendekati Zora. "Kak Zora!" teriaknya. Belve dan Derren, juga ikut berlari ke tengah lapangan. Khawatir apabila gadis berambut pirang nan pendek itu terluka parah, atau bahkan sampai mati. "Ma...." isak Carla yang merasa bersalah. Tangan Carla sampai bergetar, melihat wajah Zora yang begitu kesakitan. Carla tidak menyangka, Zora akan turun untuk menahan seranan Carla. Tekad macam apa itu, pikir Carla. "It's okay.... Mama akan menyembuhkan—" "Tidak perlu, biar aku saja," potong Carlos sebelum Mama–nya selesai bicara. Disambut dengan anggukan dari Carla dan Belve. Sebenarnya Carla ingin melarang Carlos untuk membawa Zora. Sebab, Carla tau bahwa Kakaknya itu tidak bisa mengurus seseorang. Tidak bersikap kejam saja sudah untung. Carlos ini pria yang terlalu kaku dan tidak perdulian. Tapi karena tidak ingin membuang waktu, Carla hanya diam saja mengangguk. Berharap bahwa Zora akan baik-baik saja. *** Di kamar bernuansa abu-abu, Carlos membaringkan tubuh ramping Zora. Carlos mengamati wajah Zora yang bisa di bilang cantik, dan juga sedikit angkuh. Saat itu juga Carlos sadar, bahwa ada titik hitam di bawah bibir Zora. Pantas saja Zora cerewet, pikir Carlos. Karena keadaan Zora yang semakin parah, bahkan nafasnya pun melemah. Akhirnya Carlos segera memulai ritual pengobatan Zora. Tapi ada satu hal yang membuat Carlos ragu. Dia harus membuka kancing baju Zora, karena pengobatan harus dilakukan tepat di d**a Zora, tanpa ada satu kainpun yang menghalangi. Hal itu dilakukan untuk mengambil titik syaraf paling penting dalam tubuh, yaitu jantung. Carlos menghela nafas gusar, lalu melanjutkan apa yang harus dia lakukan. Perlahan, Carlos membuka kancing baju Zora. Menampilkan kulit leher jejang Zora yang halus, yang ingin sekali Carlos sentuh, ingin sekali Carlos tancapkan taring tajamnya, dan meminum... "Minum?" heran Carlos sendiri. "Aaarggh!!" geram Carlos. Dia merasa aroma Zora sangat manis tiba-tiba. Ditambah lagi, Carlos memang belum meminum darah sama sekali selama beberapa pekan ini. Pabtas saja dia merasa haus dan ingin meminum darah Zora. "Carlos... jangan lukai adikmu terus..." lirih Zora yang setengah sadar. Membuat perhatian Carlos yang gusar teralihkan. "Aku hanya melakukan apa yang dia inginkan," cetus Carlos, sembari meletakkan kedua telapak tangannya, diatas d**a Zora. "Dia tidak—" "Diamlah kalau kau masih ingin hidup," potong Carlos. Pria berwajah masam itu merasa sebal, lantaran Zora tidak berhenti bicara walau sedang di ambang kematian. Perlahan, Zora bisa merasakan panas yang menyengat dari tangan Carlos. "Apa yang kau—" "Aku bilang diam!" Zora menutup mulutnya rapat-rapat. Merasa takut dan kaget karena bentakan Carlos. Apalagi, rasa panas itu semakin menjalar ke seluruh tubuh Zora. Baru saja Zora ingin teriak, Carlos melepaskan telapak tangannya dari d**a Zora. Dan Zora membolak-balikkan badannya seperti anak kecil untuk mengurangi rasa sakit. "Aduh aduh aduh... sakit!" cetus Zora. Sedangkan Carlso hanya menatap acuh, lalu berbapik badan agar tidak melihat tybuh Zora terlalu lama. "Kenapa kau melakukan itu? Carla bukanlah tandinganmu, kau bisa mati seketika," tanya Carlos, sembari mengganti kemejanya yang sudah compang camping dan terkena darah Zora. "Tidak tau. Tiba-tiba saja aku berlari dan memasang diri. Gila sekali, ya? padahal aku tidak ada apa-apanya dibanding kalian," jelas Zora. Membuat Carlos terdiam beberapa saat, kemudian melanjutkan aktivitasnya. "Jangan terlalu kasar pada Carla, dia hanya ingin menarik perhatianmu saja. Dia ingin kau menghabisakan waktu bersamanya," lanjut Zora. "Aku tau apa yang aku lakukan. Jangan mengatur, aku melakukan apapun yang terbaik untuknya," Carlos melempar handuk yang habis dia pakai, tepat pada wajah Zora. "Haaahh, kau memang membuat kesal. Pantas saja Carla selalu marah," cetus Zora yang merasa geram dengan sifat Carlos, yang sepertinya diam-diam begitu mematikan. "Bangun, kau sudah baik-baik saja," titah Carlos, lalu menarik tangan Zora dengan sekali hentakan. "Bisakah kau sedikit lembut pada seorang gadis? huh! aku agak kesal karena kau ini pangeran mahkota, tapi sifatmu sungguh tidak mencerminkan sosok pangeran. Harusnya kau bersifat lembut, ramah dan mengerti keadaan," gumam Zora panjang lebar. Membuat Carlos mengerutkan alisnya, bingung dengan apa yang digumamkan oleh Zora. Kemudian, Zora memunguti pakaian kotor Carlos yang tergeletak di lantai. Berniat untuk mengumpulkannya di keranjang pakaian kotor. "Aku ingin minum," ucap Carlos setelah duduk nyaman di kursi kesayangannya. Sedangkan Zora yang paham, langsung beranjak ingin mengambilkan Carlos segelas air putih yang tersedia. "Aku tidak minum itu," beo Carlos yang sudah berhadapan dengan tumpukan berkas pekerjaan. "Kau, kemari," titah Carlos kemudian. Zora hanya menurut, tidak paham dengan apa yang Carlos inginkan. Sampai akhirnya, Zora dibuat terkejut, karena Carlos menarik pinggang Zora hingga Zora terduduk di pangkuan Carlos. "Akkhh!" jerit Zora, ketika gigi runcing Carlos menembus kulit lehernya. Kemudian Zora baru sadar, kalau Carlos ini punya darah Vampire. Pantas saja Carlos lebih tertarik dengan darah, dibanding air putih. Zora memejamkan matanya erat. Mencoba menetralkan rasa sakit yang mulai terasa panas. "Sudah... cukup. Aku punya darah rendah," lirih Zora. Dan benar saja. Untungnya Carlos mampu menahan diri, hingga tidak menyerap darah Zora terlalu banyak. "Darah rendah?" heran Carlos. "Eumm.... ya. Tekanan darahku rendah. Akupun kadang tiba-tiba pusing dan mudah pingsan. Tapi aku heran, karena aku ini mudah marah atau emosi.... harusnya kan darah tinggi," jelas Zora sembari berdiri dari pangkuan Carlos. Merasa tidak sopan, pada sang pangeran. Sedangkan Carlos melepaskan cengkraman tangannya kemudian berfikir, "Ada pula Werewolf yang punya darah rendah." Tok Tok Tok! "Kak..." panggil Carla, dari ambang pintu, dengan suara sangat pelan. Carla takut mengganggu Zora, apabila Zora masih tidur. Carla yang awalnya menatap sedih, langsung melototkan matanya kaget saat melihat Zora. Carla kaget, lantaran Zora sudah berdiri dengan kokoh, seperti tidak terluka sedikitpun. Dengan cepat, Carka berlari menuju tempat Zora berdiri, kemudian memeluk erat tubuh Zora, hingga keduanya terjatuh di lantai. "Aku minta maaf, Kakak... padahal kau sudah memperingati, tapi aku keras kepala," isak Carla. Kemudian membantu Zora berdiri. "Tak apa, aku paham betul jiwa mudamu itu. Aku bahkan bisa merasakan semangatmu yang berkobar-kobar. Hahaha, mungkin karena masih muda. Aku berumur 22 tahun, dan sedikit-sedikit kelelahan," papar Zora yang ingin menenangkan Carla agar tidak terlalu sedih. "Itu karena kau malas, bukan karena tua," cetus Carlos yang merasa tidak terima. Zora mengendus kesal, "Memang sih, aku malas. Aku bahkan ikut kelas militer hanya untuk dapat undangan masuk ke kastil ini." "Dan sekarang, kau bisa masuk karena aku," lanjut Carlos lagi. "Iya iyaaa, terimakasih Yang Mulia, Raja, Alpha, Lord Carlos...." sontak Carla tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan Zora, yang sepertinya sangat mengejek Carlos. Sedangkan Carlos, hanya melirik sebentar, kemudian melanjutkan pekerjaannya. "Oh iya, Kak. Kenapa kau membolehkan Kak Zora memanggil namamu langsung?" tanya Carla yang penasaran. Pasalnya, Carla tau bahwa Carlos ini sedikit maniac akan tahta dan kehormatan. "Karena suaranya jelek," senyuman Zora luntur seketika. Padahal, Zora baru saja senang karena Carla dan Carlos sepertinya sudah berbaikan. Tapi Zora kembali dibuat kesal oleh celetusan Carlos ini. "Apa hubungannya?" heran Zora. "Suaranya menggangu jika memanggilku Pangeran," jawab Carlos dengan entengnya. "Aku tau kau ini Pangeran. Tapi aku tetap emosi jika kau terus mengejekku," gerutu Zora. Padahal, Carlos memang tidak maksud mengejek. Memang ucapan Carlos selalu menusuk, bahkan untuk Carla sebagai Adiknya. Dan lagi, suara Zora itu nyaring, jadi Carlos pikir Zora tidak cocok memanggilnya Pangeran. Carlos lebih suka suara halus dan juga rendah, seperti sang Mama, yaitu Belve. Bukan seperti Carla ataupun Zora, yang terdengar mengganggu di telinga Carlos. "Suara bagus seperti ini, kau bilang jelek. Dengar, aku akan bernyanyi. Laaaaa lalala lalalalala....." "Carla, diamkan dia atau aku yang akan melakukannya," titah Carlos. Membuat Carla terkekeh pelan, kemudian mendekati Zora lalu membungkam mulut Zora cepat. "Simpan suaramu, Kak. Kau akan bernyanyi untuk makan malam nanti saja," ujar Carla. Sedangkan Carlos langsung melototkan matanya kaget. Padahal, mendengar nyanyian singkat dari Zora saja, sudah membuat Carlos pusing. Apalagi membawakan satu lagu. "Hah, aku menyanyi? makan malam? kenapa ada nyanyian?" heran Zora. "Kami selalu mengundang musisi setiap satu minggu sekali. Karena Mama dan Grandma, sangat suka nyanyian. Mungkin agar kau lebih di kenal di kastil ini, kau harus menyanyi," jelas Carla. Disambut dengan anggukan paham dari Zora. "Baiklah, aku akan menyanyi nanti. Tapi ada syaratnya." "Apa?" bingung Carla. "Kakakmu, harus berduet denganku," tukas Zora. Membuat Carlos segera bangkit dari duduknya, dan mendekati kedua gadis itu. Sedangkan Zora yang panik, langsung menggunakan jurus andalan, yaitu mengompor-ngompori dengan wajah angkuh dan sombong. "Hahaha, bilang saja kau tidak bisa bernyanyi. Pasti suaramu lebih jelek daripada aku," ejek Zora. Padahal dalam hatinya, Zora sangat ketakutan dengan tatapan maut yang Carlos berikan. "Apa imbalanku jika menang?" tanya Carlos, dengan nada dingin khas. "Imbalan? kita kan beruduet, bukan bersaing. Iya kan, Carla?" cetus Zora. Sedangkan Carla hanya mengangguk setuju. "Tidak mau tau. Tapi aku harus mendapat imbalan," beo Carlos. "Aduuh... imbalan apa? aku tidak punya apapun, kau tau sendiri aku bahkan dibuang keluargaku. Ah! aku lupa harus mengunjungi seseorang," ucap Zora mengingat sesuatu yang dia lupakan begitu saja. Membuat Carlos menghela nafas gusar, dan menyetarakan tingginya dengan Zora. "Bertemu dengan siapa? kekasihmu?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN