bc

BROKEN MELODY

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
submissive
drama
comedy
sweet
bxg
female lead
city
first love
lonely
addiction
like
intro-logo
Uraian

Suara indah seorang penyanyi bernama Melodi Pramuditha Sastrowijaya harus dibungkam oleh mimpi buruk yang disuapi oleh senior kampusnya. Juna telah merenggut mahkota milik Melody hingga garis dua membuat panggung Melodi harus runtuh.

Keluarga Melodi menuntutnya untuk memberitahu dengan siapa ia berhubungan tapi sosok Juna bagaikan khayalan selama ini. Ia hilang.

Jacob Kim baru saja pulang dari Korea sejak ia menyelesaikan tugas wajib militernya dan mengurus izin tinggal di Indonesia. Ia kesulitan untuk menerima cerita sahabat kecilnya yang Jacob tahu sangat polos dan tidak pernah pacaran ditambah Jacob tahu bagaimana kerasnya keluarga Sastrowijaya.

Jacob tidak tega membiarkan Melodi kesulitan, ia pun memiliki ide untuk menikah kontrak dengan sahabatnya itu.

Semua bukan karena cinta sebagai wanita dan pria tapi kasihan menjadi alasan utama bagi Jacob menjadi sandaran terkuat untuk Melodi.

Semua hubungan manusia akan selalu memiliki celah untuk tanda tanya datang. Melodi dan Jacob saling menggenggam tangan agar tidak ada yang jatuh kecuali jatuh cinta.

chap-preview
Pratinjau gratis
01 - Melodi dan Kencan Pertama
"Ya ampun Mel, lo cantik banget!" seru seorang gadis yang melihat sahabatnya memakai make up untuk pertama kali. Ia berjinjit kecil-kecil dan mengambil tangan sahabatnya tidak percaya. Gadis itu bernama Melodi Sastrowijaya. Ia memang memiliki fitur wajah manis khas wanita jawa dengan garis lembut dan tatapan mata yang berbinar. Kulitnya kuning langsat dan selama ini selalu ditutupi karena Ibu bisa marah jika Melodi mengumbar tubuhnya. Sorot mata Melodi berbinar tapi sekaligus ia merasa malu, rasa tidak percaya diri tetap hinggap seperti benalu yang sulit lepas dari dirinya. Ia menatap Giselle mencoba mencari wajah tidak seriusnya namun Giselle tidak menunjukkan apapun selain senyum merona dan tatapan lurus pada penampilan Melodi. "Jangan gitu sel, aku malu ah!" Minggu lalu menjadi hari yang mengejutkan bagi Melodi karena lelaki yang selama ini ia perhatikan tiba-tiba menegurnya bahkan mereka bertukar nomor ponsel. Junalian Bramasta yang akrab dipanggil Juna adalah Kakak tingkat di Kampus mereka yang berjurusan Kesenian. Mereka sama-sama mengambil jurusan Seni musik sehingga sering kali dapat satu kelas yang sama namun tidak pernah saling bertegur sapa karena Melodi tidak sama seperti Giselle yang memiliki kepribadian terbuka. Jika Giselle lebih cocok menjadi penyanyi dan penari seperti girlband tapi kalau Melodi memiliki genre musical dan theater. Tidak begitu modern dan bahkan banyak yang bilang kalau lapangannya kurang menarik. Giselle sangat histeris begitu melihat kedua sejoli itu saling bertukar nomor ponsel hingga akhirnya Kak Juna mengajak Melodi untuk dating ke malam akrab universitas bersama. Melodi bersyukur karena Giselle berusaha keras untuk membantunya dalam memilih gaun, memberikan riasan sekaligus mencari dalih untuk kedua orang tua Melodi agar mereka dapat pergi dengan tenang malam ini. "Lo nggak boleh malu malam ini!" Giselle meremas bahu Melodi menunjukkan ia memberikan titah yang harus diikuti, "Kesempatan hanya datang satu kali seumur hidup Mel. Kak Juna bukan cowok sembarangan yang ngajak Perempuan di kampus dating dan lo juga bukan cewek sembarangan yang gampang diajak sana sini sama lelaki. Kalian cocok banget!" seru Giselle. Melodi belum pernah membuka diri dengan lelaki yang ia sukai karena Ibu dan Ayahnya sangat ketat. Ia diharuskan menjaga nama baik keluarga Sastrowijaya yang terpandang dan terhormat. Satu-satunya lelaki yang diperbolehkan dekat dengannya hanya Jacob Kim. Sahabatnya sejak TK, dengan dalih keluarga Kim adalah tetangga terbaik sejak keluarga Sastrowijaya pindah dari Surabaya ke Jakarta. Itupun bukan berarti Ibu membolehkan Melodi berpacaran dengan Jacob walaupun jika mereka dijodohkanpun Melodi pasti akan menolak karena Jacob sama sekali bukan tipenya. Jadi hari ini Melodi memberanikan diri untuk melakukan kebohongan pertama dalam hidupnya. Ia membuka diafragma dan mengambil nafas sedalam mungkin. "Gimana kalau Kak Juna salah? Dia salah undang gitu?" Giselle terkekeh, "Mana mungkin! Dia bukan orang bodoh begitu Mel. Kak Juna itu terkenal seantero fakultas Seni dan bahkan banyak yang kenal dia dari fakultas lain. Lo beruntung banget Kak Juna noticed kalau lo suka sama dia." "Nanti gue akan tanya, darimana ya dia tahu perasaan gue." Giselle duduk di tepi ranjangnya, "Cie ... gercep banget sih," goda Giselle menendang betis Melodi dengan ujung kakinya. Semakin lama Giselle menggoda, Melodi semakin bisa merasakan ada kepakan sayap di belakang punggungnya. Sensasinya hampir mirip saat ia menunggu namanya dipanggil untuk bernyanyi di atas panggung. - Menjadi anak semata wayang dari garis keturunan Sastrowijaya tidaklah mudah. Melodi dituntut harus menjadi gadis manis khas puteri solo yang harus selalu patuh dan lemah lembut. Tidak pernah sekalipun Melodi menaikkan nada suaranya selain hanya untuk bernyanyi. Ciri khas keluarga Sastrowijaya adalah darah seni yang kental mengalir pada darah keturunannya. Para sepupu Melodi banyak yang turun ke dunia seni. Entah itu menjadi pelukis, pemahat, penari tradisional maupun yang lainnya. Itu yang membuat Melodi juga memiliki minat yang tinggi terhadap seni yaitu bernyanyi. Kedua orang tua Melodi sangat mendukung minat dan bakat gadis mereka, itu mengapa Melodi selalu diberikan kelas-kelas vokal dengan mentor yang hebat-hebat sehingga Melodi sering menjuarai perlombaan dalam tingkat nasional. Setelah kuliah Melodi tidak berhenti mengasah dirinya, ia banyak belajar mengenai olah vokal dan juga merambah ke seni musik. Ia mulai mengambil les piano tapi ternyata Melodi malah lebih menyukai gitar dan drum namun Ibu tidak mengizinkannya karena tidak mau jemari Melodi menjadi keras karena menekan senar gitar. Bapak juga tidak mau Melodi kenal dengan anggota band jika menekuni dua alat musik itu. Singkatnya Melodi hanya tetap bersyukur masih bisa mencicipi kesenian walaupun tetap harus mengikuti jalur sesuai dari Bapak dan Ibu. Ia tetap menyukai bagaimana sensasi bernyanyi di atas panggung dan ditonton oleh orang-orang di dalam Gedung teater. - Sudah satu jam Melodi menunggu jemputan dari sang pujaan hati namun pesannya saja belum juga dibaca apalagi dibalas. Melodi menggoyangkan kakinya, memandang ke bawah dan masih takut dengan rasa tidak percaya diri yang semakin lama semakin mencekam. Kak Juna memiliki paras yang sangat tampan dengan kulit coklat dan tubuh yang ideal. Bahunya pun sangat lebar menunjukkan dia gemar berolahraga. Ia memiliki lesung pipi dalam yang membuat gadis manapun betah melihatnya tersenyum. Kak Juna juga sangat cerdas dan menjadi salah satu orang penting di kampus dalam hal mengaransemen lagu. Entah untuk pentas maupun perlombaan club musik. Wajar bukan jika sekarang Melodi cemas, mungkinkah dia hanya berhalusinasi saat itu? Suara ponsel Melodi memecahkan pemikiran rumit Melodi tapi bahunya turun begitu yang ia lihat nomor Jacob. Tunggu, Melodi mengerutkan keningnya membaca nama Jacob K berada di layar datar miliknya. Pemilik nama tersebut harusnya sedang menjalani wajib militer tapi seketika Melodi menepuk jidatnya. Ini sudah dua tahun sejak Jacob pergi bahkan mungkin lebih beberapa bulan. Ibu jari Melodi langsung menggeser lingkaran hijau dan suara yang sangat akrab menyapanya. “Duh sibuk banget sih mahasiswa satu ini. Ditelfon aja susah banget!” “Jacob! Kamu kok pakai nomor Indonesia?” Melodi berdiri mondar-mandir membuat Giselle yang baru saja kembali membawa dua es jeruk kebingungan. “Siapa?” tanya Giselle penasaran. Melodi menutup speakernya, “Jacob! Sahabat aku yang aku ceritain waktu itu.” Mata Giselle langsung membelalak dan dengan cepat menaruh es jeruk di atas meja lalu menguping pembicaraan. Melodi paham karena Giselle terpesona saat Melodi memberitahu foto Jacob padanya. “Hallo Mel, kamu masih disana nggak sih?” “Iya Jack, jadi kamu dimana sekarang?” “In your room!” Giselle menutup mulutnya terkejut tapi Melodi biasa aja. Mereka sudah berteman sejak TK jadi tidak heran saja baginya. “Aku pulang agak malam, lebih baik kamu pulang aja.” “hmmm, gitu ya sekarang. Sudah lupa rupanya. Kukira aku akan dapat pelukan rindu dari kamu Mel.” “Dih, geli ah!” Giselle malah tersenyum dan meremas-remas tangan Melodi. “Butuh aku jemput nanti?” “Nggak! Aku bisa pulang sendiri.” “Come to my room after that okay?” Melodi menutup mulut Giselle yang hampir menjerit. “Kalau nggak ngantuk.” “I have many things for you. Kamu yang titip, kamu tanggung jawablah.” “Iya iya bawel. Yaudah ya, aku mau kerjakan tugas.” Jacob terdengar mendesahkan nafas darisana, “Okay then. Miss you so much Melmel.” “Ish! Bye!” Melodi masih saja kesal jika Jacob menggodanya dengan panggilan Melmel. Ia pun menutup ponselnya dan Giselle langsung berjingkatan. “Melmel, ya ampun! Gue nggak nyangka kalau cerita lo semuanya kenyataan!” “Jadi kamu pikir aku ngarang?” Giselle tertawa kecil, “you must be lucky Mel.” “I wished.” - Hangat. Satu hal yang selalu Jacob rindukan jika berada di Indonesia. Bukan karena cuacanya yang selalu panas namun karena ada satu keluarga yang selalu membuka pintu kapanpun ia datang. Sedangkan rumahnya sendiri terasa beku dan asing karena ia selalu sendirian disini. Jacob Kim memiliki empat orang Kakak namun bukanlah saudara sedarah. Ibunya pernah menikah beberapa kali dan dia adalah anak terakhir. Sudah dipastikan Jacob tidak akan mendapatkan adik lagi karena Ibunya sedang mengurus perceraian dengan suami barunya. Mereka hanya menikah 2 tahun. Ibu Jacob adalah orang Indonesia yang gemar berkeliling dunia. Bagi Ibunya, dia merasa seperti membawa kutukan cinta sehingga menikah dan bercerai tiga kali- jalan ke empat. Ia masih berumur 45 tahun dengan kekuatan Korea Selatan, Ibunya terlihat seperti umur 28 tahun. Sejak menikah dengan Ayah Jacob, Mommy lebih menyukai Korea Selatan ketimbang negara lain namun Ayah Jacob meninggal dan itu sangat membuatnya terpukul sehingga kembali jatuh cinta dengan orang Korea Selatan yang ternyata hanya menginginkan hartanya saja. Jacob juga sudah memilih bahwa ia akan mengurus penetapannya di Indonesia. Awalnya sang Ibu tidak setuju tapi setelah apa yang ia alami, ia memberikan kebebasan Jacob memilih namun dia masih berada di Korea Selatan dan memiliki rencana untuk tinggal di Thailand beberapa tahun. Keluarga Sastrowijaya adalah tetangga yang sangat mengerti perasaan Jacob. Dahulu ketika Nenek masih hidup, Jacob sering berlibur disini hingga akhirnya sekolah di Indonesia hingga SMA namun Nenek sakit dan tidak lagi dapat diselamatkan setelah operasi besar pada ginjalnya. Itu mengapa Jacob memilih mengikuti Wajib Militer di usia 18 tahun. Ia tidak tahu harus bagaimana karena Nenek adalah pelindungnya. Sekarang kembali duduk di ruang Tengah keluarga Sastrowijaya membuat Jacob rindu dengan nenek. Ibu Danisa sangat baik walaupun agak sedikit kaku tapi ia sangat pandai memasak dan selalu memberikan porsi untuk Jacob dan Nenek walaupun ia tahu Nenek tidaklah kesulitan dalam segi ekonomi, justru terbilang berlebihan. Sedangkan Bapak Tono cukup tegas terkait anak semata wayang mereka. Bapak Tono tidak segan untuk memarahi Jacob jika Jacob menjahili anaknya namun Jacob tidak pernah takut dengan Bapak. Justru karena Bapak, Jacob merasa harus melindungi Melodi. Aroma ayam goreng mampir ke hidung Jacob. Ia menaruh cangkir teh dan segera menyusul ke dapur. “Kamu tunggu aja nak di luar, sedikit lagi selesai.” Jacob berdiri di depan tempat cuci piring, ia hanya tersenyum pada Ibu dan segera membantu mencuci piring. “Kamu sih pakai nggak bilang kalau pulang hari ini,” Ibu mengangkat beberapa potong ayam goreng dan meletakkannya di atas piring besar berwarna putih, ia juga beralih ke cobek untuk mengulek sambal, “Tau gitu Ibu larang Melodi untuk kerja kelompok atau mereka bisa kerja kelompok disini.” “Yakan ceritanya akum au kasih kejutan, eh aku lupa kalau Melodi pasti lebih sibuk sekarang,” jawab Jacob polos. “Kamu kesulitan nggak disana? Kamukan biasa pakai Bahasa Indonesia aja.” “Bukannya sulit lagi bu, sering dihukum gara-gara nggak mudeng-mudeng.” Ibu memberikan raut khawatir lalu Jacob langsung menunjukkan otot tangannya, “Tapi ini yang bikin aku masih setroongg!” Ibu langsung tertawa, “Ada-ada aja.” Berbincang dengan Ibu rasanya jauh lebih ringan bagi Jacob daripada berbincang dengan Mommy. Dimata Jacob sosok Ibu harusnya seperti Ibu Danisa namun ia tidak bisa memilih wanita mana yang akan menjadi Ibu kandungnya. Jacob hanya bersyukur setidaknya tuhan masih peduli dengan memberikan tetangga rasa keluarga. - Penampilan Kak Juna malam ini menolerir keterlambatan dua jamnya. Tubuh tinggi dengan tuxedo abu-abu membuat Kak Juna sangat bersinar. Ia juga membukakan pintu untuk Melodi saat turun dari mobil. Rasa bangga membuat Melodi berdebar-debar ketika kakinya keluar dengan elegan. Terasa sekali jika semua mata tertuju padanya malam ini. Tentu banyak yang ingin tahu dengan siapa Kak Juna akan datang karena ia memiliki popularitas yang tinggi. “You’re so amazing tonight Mel,” bisik Kak Juna saat tangannya menyambut Melodi sebelum mereka berjalan beriringan masuk kedalam tempat pesta. Pipi Melodi terasa hangat sekarang, suara Kak Juna sangat dalam dan menggetarkan tubuhnya. “Thank you Kak.” Pesta diadakan di lantai paling atas di Gedung hotel yang cukup megah ini. Melodi tidak sangka kalau mahasiswa-mahasiswa di fakultas mereka memiliki modal besar untuk mengadakan pesta mewah seperti ini. Namun sejak tadi Melodi mengedarkan pandangan, tidak ada wajah yang ia kenal. Semuanya asing. Juna membawa Melodi di dekat sebuah meja bundar dan berkata akan segera kembali untuk mengambil minuman. Melodi tidak pernah datang ke pesta manapun dan ini pertama kalinya Ibu dan Bapak mengizinkan Melodi pergi sendirian. Bohong sedikit di umur yang sebentar lagi dewasa tidak masalah bukan? Melodi terus menerus menenangkan diri karena ia sangat gugup. Berdiri sendirian disini terasa lama sampai akhirnya Juna merangkul bahu Melodi dan menaruh dua gelas berisi minuman warna-warni di atas meja. “Minumannya nggak beralkohol untuk kamu,” Juna bicara di telinga Melodi. Jaraknya terlalu dekat dan Melodi jadi semakin gugup. “Thank you Kak!” “So, is this your first time to join the party?” tanya Kak Juna sembari menatap Melodi dan ia tersenyum saat Melodi mengangguk, “Berarti kamu harus sering ikut sama aku karena di pesta seperti ini akan banyak momen untuk berkenalan dengan orang dari industry hiburan.” “Oh ya? Berarti banyak senior kampus kita ya Kak?” Juna menggelengkan kepalanya, “Ah ya, aku lupa bilang kalau ini bukan acara universitas yang aku bilang tempo hari.” Melodi terkejut, “Terus ini dimana?” “ya this is the party. Kamu bisa ketemu banyak orang terkenal disini tapi mungkin nanti akan banyak yang datang saat malam.” Melodi melihat ponselnya dan ini sudah jam 8 malam, “Ini udah malam Kak.” Juna menopang dagunya dan menatap Melodi, “Aku nggak akan bikin kamu nyesel Mel. Tenang aja ya.” “Aku cuma bisa sampai jam 10 Kak.” Juna mengangguk, “Okay darl. Yuk!” Perlakuan Juna benar-benar membuat Melodi bingung. Malam ini Kak Juna terasa sangat santai dan begitu mempesona. Apakah Juna benar-benar jatuh cinta padanya? Melodi merasa seperti seorang putri yang dibawa kemana-mana oleh Juna. Dikenalkan sebagai “my girl” dan mendapat sambutan hangat dari orang-orang. Juna juga tidak melepaskan dirinya sama sekali, entah ia digandeng atau dirangkul. “Kamu nggak boleh kemana-mana. Gapapakan aku pegangin terus?” bisik Kak Juna. “Memangnya kenapa harus selalu dipegang Kak?” tanya Melodi penasaran. “Nanti kamu dimakan pria lain disini. Kamu cuma punya aku malam ini.” Melodi tertegun, “Maksudnya Kak?” Juna tidak menjawab lagi dan ia menarik pelan Melodi ke lantai dansa. Awalnya Melodi malu-malu tapi melihat sekelilingnya menari tanpa gugup, ia juga tidak mau mempermalukan dirinya di depan Kak Juna. Pria itu pun pandai menari dan terlihat sangat kasual. Tempo lagu berubah jadi agak pelan dan banyak orang yang mencari pasangan. Melodi terdiam saat Kak Juna menghapus jarak di antara mereka. Dentujam jantung Melodi tidak biasa. Ia menepuk d**a kirinya pelan dan Kak Juna memegang tangan Melodi. “Don’t hurt yourself.” Melodi menunduk, tidak sanggup melihat Kak Juna dari dekat. Dia kelewat tampan dengan harum coklat bercampur kopi yang semakin dekat semakin membius Melodi. Tangan Kak Juna tiba-tiba menakup kedua pipi Melodi. “Is this your first time to be with man?” Melodi otomatis mengangguk dan Kak Juna tersenyum. “So, can I be your first time Mel? Aku jatuh cinta sama kamu.” “Kak …” “Aku tahu kamu udah perhatiin aku sejak ospek dan aku juga perhatiin kamu tapi banyak yang harus aku lakuin. Aku nggak mau ngecewain kamu so I need to wait but now, aku serius Mel.” Otak Melodi mendadak kosong. “I want you tonight Mel, do you want me too?” “Maksudnya jadi pacar Kakak?” “More than that. Mau?” Kedua mata mereka bertemu dan dunia tidak lagi sama bagi Melodi. Juna berhasil menerobos pertahanannya. Melodi tidak pernah merasakan sentuhan lain selain dari dirinya sendiri. Ia merasa begitu bebas dari jeratan ketika ciuman Juna begitu lekat pada bibirnya. Jadi ini? Ini yang selalu dibanggakan oleh orang-orang. Melodi menikmatinya hingga Juna memberikan jarak lagi dan mereka saling tersenyum. “Melodi, do you trust me?” -

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
195.6K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.3K
bc

TERNODA

read
203.8K
bc

Kali kedua

read
222.8K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
21.6K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook