Matahari turun perlahan di Keraton Bumi Kencana. Angin membawa aroma bunga kenanga yang menguar dari taman belakang, dan cahaya obor di sepanjang lorong memantulkan siluet lembut di dinding istana. Ratu Kencana berjalan lebih cepat dari biasanya, selendangnya diangkat sedikit agar tidak terseret tanah. Di belakangnya, tiga putrinya, Nadindra, Amaratani, dan Saraswati mengikuti dengan langkah seragam, namun raut wajah mereka penuh tanda tanya. “Bu, kita ini mau ke mana sebenarnya?” tanya Nadindra, yang turun-temurun terkenal paling vokal di antara adik-adik Sekar. “Ke kamar,” jawab Ratu tanpa menoleh. “Kamar Ibu?” “Bukan,” Ratu menggeleng. “Kamar Ibu dan Ayah.” Nadindra, Amaratani, dan Saraswati saling pandang seketika. Alis mereka naik hampir bersamaan. Kunjungan semacam itu biasanya

