BAB 39

1508 Kata

Malam turun perlahan seperti tirai hitam yang menutupi kerajaan Bumi Kencana. Angin malam membawa aroma dedaunan basah, dan kerlip obor di halaman pendopo utama bergoyang pelan tertiup angin. Di dalam pendopo, suasana jauh berbeda—panas, menegang, dan penuh ketegangan yang mengental. Raja Pramuwardana duduk di kursi utamanya, wajahnya tampak jauh lebih keras daripada biasanya. Di sisi kanan sang raja, Sekar duduk tegak dengan tatapan penuh kewibawaan. Mahesa berdiri sedikit di belakangnya, waspada dan siap berbicara kapan pun dibutuhkan. Di depan mereka, duduk para panglima dari seluruh wilayah kerajaan—setiap wajah menunjukkan perpaduan antara hormat, gelisah, dan tegang. Peta besar kerajaan terbentang di meja rendah di tengah pendopo, diterangi oleh cahaya obor yang bergetar. Di atasny

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN