Beberapa hari setelah perayaan panen besar, suasana Keraton Bumi Kencana mulai kembali tenang. Namun ketenangan itu bukan berarti lesu—justru kerajaan berdenyut dengan energi baru, seakan rakyat dan para bangsawan tengah memasuki babak yang lebih makmur. Pagi itu, sinar matahari sudah memanjat tinggi ketika Sekar perlahan membuka mata. Hangatnya cahaya menembus tirai tipis, menyapu wajah sang putri pewaris dengan lembut. Ia mengerjap pelan, lalu menarik napas panjang. Tubuhnya terasa segar, berbeda dari pagi-pagi sebelumnya ketika ia terlalu sibuk mengurus lumbung cadangan. Ratna, dayang setianya, masuk membawa baki kecil berisi minyak wangi dan handuk. “Selamat pagi, Ndoro Ayu. Pemandian air melati sudah siap,” ucap Ratna sambil membungkuk hormat. Sekar bangkit, duduk di tepi ranjang

