[10] Pernikahan Kontrak?

1605 Kata

Kenyataan itu ternyata menguras tenanga dan juga hatinya. Alan masih belum terima meskipun hatinya kini mulai tenang. Tapi tetap saja, pengkhianatan mereka tidak bisa di terima! Alan tidak mau memaafkan mereka. Pintu kamar terbuka menampakkan Arina yang membawa segelas air putih. Tadi Alan menyeretnya setelah mengucapkan kata terkahir di ruang keluarga. Arina bingung, dia hanya diam menatap orang yang sedang menenangkan diri itu. Akhirnya ia mendapat ide, ia keluar untuk membawakan Alan segelas air. "Nih, minum dulu." Alan melirik wajah itu, lalu beralih pada gelas di tangannya. "Gak ada gituh air yang berasa?" Gadis pendek itu berdecak. Tanpa izin langsung duduk di samping Alan. "Kak, lo itu lagi menenangkan diri, bukan abis ikut lomba salto. Lagian air putih bagus tau buat kesehatan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN