[3] Demi Papa

1629 Kata
Arina sangat risih sekali pada Keyla, sahabatnya yang datang untuk make over dirinya. Memang setelah lulus SMA, baik Arina ataupun Keyla tidak melanjutkan kuliah karena masalah biaya. Ibu Keyla seorang perias, jika ada pernikahan di kampungnya atau di luar, maka dialah yang selalu menjadi perias. Dan itu menurun kepada Keyla, anaknya. Jangan diragukan lagi kemampuannya, meskipun tidak sebagus make-up artis, tapi cukup baik dan terkesan tidak menor. Arina baru mengetahui bahwa calon yang akan menjadi suaminya itu akan berkunjung hari ini. Dan seharusnya biasa saja tidak perlu belebihan sampai berdandan segala. Ini kunjungan bukan mau nikah langsung kan? "Rin, tega bener lo sama gue. Lo bilang waktu SMA dulu, harus gue dulu yang nikah, baru lo!" ucap Keyla sambil menata rambut Arina untuk disanggul. "Key, gue juga mana tau. Tiba-tiba Babeh bilang gituh, gue nerima ini cuma mau bantuin pak Adam. Asli, sumpah." "Kagak usah sumpah-sumpahan segala. Alloh aja gak sumpah demi lo." "Sableng!" Keyla terkekeh. Gadis itu mengambil alat make-up dan kembali merias Arina. "Btw, calon lo gimana? Cakep nggak?" "Key, kalo punya b**o jangan dipelihara dah. Dari dulu kagak pernah berubah mulu." "Ish, lo mah. Harusnya lo bersyukur punya temen b**o, kapan lagi coba punya temen kayak gue?!" "Ya iyalah. Orang temen gue cuma lo doang." Mereka tertawa. Keyla menyimpan kembali peralatan make-upnya karena sudah selesai. Ia mengambil kebaya berwarna merah terang dari tas yang dibawanya. "Nih pake!" "Harus ya pake kebaya? Pake baju biasa aja, gamis kek atau apa gituh yang sopan. Asal kagak usah kebaya." "Gue cuma disuruh sama Mimom. Udah lah pake, keburu calon laki lo datang." "Key, emang nggak ada yang warnanya kalem apa? Gak suka gue." Arina protes. "Udah baek gue bawa kebaya, malah nawar. Gak ada lagi, udah ada yang sewa. Buruan pake!" Arina terpaksa mengambil kebaya itu dan memakainya. Sepertinya pas di tubuhnya yang mungil, tapi Arina tidak suka warnanya yang terlalu terang. Keyla keluar dari kamar Arina untuk memberi waktu sahabatnya mengganti pakaian. Ia terkejut saat Siti sudah berada di belakangnya. "Eh Mimom." "Arin mana, Key?" "Lagi pake kebaya, Mom. Lakinya udah datang, ya?" "Huss!! Kalo ngomong kagak bisa disaring dulu ape? Ralat Key, maksudnya calon laki." Keyla menyengir sambil menggaruk kepalanya. "Yee si Mimom, mulut Key udah gini Mom. Harusnya Mimom udah ngerti." Pintu kamar terbuka menampakan Arina yang sudah siap dengan kebaya. "Laillahailloh ... Anak gue catik bener, ya. Apalagi nanti kalo kawin." "Yadong. Siapa dulu yang udah ngerenovasinya," sahut Keyla berbangga diri. "Key, Key, lu kira anak gue bangunan apa. Yuk Rin, calon lu udah datang tuh." Arina menghela nafasnya sebelum mengikuti Siti. Ia digandeng oleh Keyla yang terlihat sangat antusias. Sedangkan dirinya tidak ada kesiapan apapun. ●▪●▪● Aldi yang baru saja duduk bersama Papanya di sofa yang terlihat sederhana. Hanya diam dan sesekali terseyum pada orang si pemilik rumah itu. Aldi tak banyak biacara, hanya suara Adam dan Jaelani yang mendominasi ruangan itu. Sedangkan laki-laki yang berada di dekat Jaelani, sama saja seperti Aldi. "Duh ... Maaf ya nunggu lama. Arin sini!" Siti duduk di samping suaminya dan Arina pun juga duduk di sampingnya. Sehingga Zaki berdiri bersama Keyla. Satu kata dari Aldi untuk gadis itu. Norak! Wajahnya memang cantik tapi pakaiannya sangat terlihat norak di mata Aldi. Ia berani bersumpah kalau cewek itu pasti orang yang suka berdandan tebel. Tekadnya semakin yakin dengan rencananya setelah melihat calonnya itu. "Ini Arin, Jae?" tanya Adam antusias. "Iya Dam, anak bungsu gue ini!" Jaelani tekekeh. "Bener-bener catik, Jae. Kalo gue masih muda gue pengen nikahin anak lo. Tapi gue mentingin anak gue lah," ucap Adam tertawa. "Sembarangan lu, Dam. Anak gue masih muda gini, elu mau jadi tua-tua keladi?!" Orang tua ini kalau sudah bertemu bercandanya suka kebangetan. Biasalah efek jarang ketemu, sekalinya bertemu ya begitu. "Rin, kami ke sini ada niat baik. Mungkin kamu udah denger dari Babeh kamu, kan? Nah, kita ke sini mau mastiin, gimana Arin mau apa nggak?" tanya Adam dengan wajah berseri-seri. Arina menatap Jaelani yang sedang terseyum meperlihatkan giginya, efek tertawa tadi. Lalu menatap Ibunya yang sama menunjukan ekspresi seperti Ayahnya, mereka terlihat bahagia. Arina tidak mampu berkata lagi. Ia hanya mengangguk dan membuat para orang tua itu bernafas lega. "Alhamdullilah." ●▪●▪● Setelah mengantar Papanya pulang, Aldi kembali lagi pergi dengan membawa mobil pemberian Papanya ketika lulus SMA dulu. Ia mengendarai mobilnya menuju tempat yang sudah dijanjikan bersama Alena. Kafe, itulah tempat yang Aldi datangi. Dia masuk dan mencari keberadaan Alena. "Hei, udah lama?" sapa Aldi dan duduk di kursi yang bersebelahan dengan cewek itu. "Ish, kamu kok lama sih. Aku nunggu hampir setengah jam tau." Aldi mengelus kepala Alena dan membawanya bersandar di bahunya. "Maafin aku, ya. Tadi Papa tiba-tiba langsung ngajak ke rumah calon." "Wait!" Alena menjauhkan kepalanya dari Aldi dengan wajah kesal. "Jadi kamu bakal milih dia?" "Sayang, dengerin aku dulu. Jadi gini, ini tuh pertama kalinya aku ketemu sama dia. Dan kamu tau perasaan aku gimana? Aku gak suka sama dia, norak gitu! Makanya aku ajak kamu ketemuan buat ngomongin masalah ini." Aldi membenarkan letak duduknya untuk menghadap Alena. "Jadi gimana? Kamu pilih aku apa Alan?" "Ald! Kamu dan aku tau, aku cuma cinta sama kamu. Yang pasti aku pilih kamu lah. T-tapi masalahnya, gimana caranya?" "Gini, aku nggak mau mikirin perasaan Alan gimana nanti kalo kita udah nikah. Tapi aku udah rencain ini dan nantinya Alan bakal mikir kalo itu hanya kesalahan." "Kamu yakin? Terus kalo nanti kita udah nikah pasti kita bakal serumah kan? Gimana sama Alan kalo dipermasalahkan lagi?" "Kamu gak perlu khawatir. Tinggal bilang aja kalo kita nggak bisa tukeran lagi karena udah sah. Dan aku yakin Alan bakal mikir dua kali buat kembali lagi sama kamu." Alena terseyum, lalu ia memeluk Aldi dengan erat. "Makasih, sayang." "Jangan bilang makasih dulu. Kan belum terjadi." Aldi hanya terseyum sambil mengelus rambut gadis itu dan mengecupnya. ●▪●▪● Alan dan Aldi kini sedang berada di kampusnya. Mereka masuk fakultas yang sama, kata Adam biar tidak ribet saja. Mereka bertiga sedang berada di kantin. Di sana ada tidak hanya si kembar saja, Alena juga ikut hadir dan duduk di samping Alan. Sedangkan Aldi berada di hadapan mereka. Aldi mengambil ponselnya yang berbunyi, ia mengernyit ketika yang menelfon itu tangan kanannya Papa. "Hallo," ucapnya sambil melirik Alan "..............." "Yang bener!" kata Aldi menyentak. "..............." "Sekarang Papa di rumah sakit mana?" "..............." Aldi tidak membalas lagi ucapan pria di telepon itu, ia menyampirkan tasnya di bahu kanannya dengan wajah yang terlihat khawatir. "Ada apa, Di?" tanya Alan heran. "Papa drop lagi, sekarang di rumah sakit." Alan sangat terkejut, ia juga segera mengambil tasnya dan pergi begitu saja tanpa mengajak Aldi atau kekasihnya. "Kamu gak apa-apa kan pulang sendiri?" tanya Aldi pada Alena. "I-ya sih, tapi aku boleh ikut gak?" "Sayang, sekarang keadaannya sedang panik. Nanti kalo Papa udah baikan kamu boleh datang, ya." Alena hanya mengangguk saja. "Yaudah, hati-hati!" "Iya, kamu juga." Aldi segera menyusul Alan. Walaupun ia tahu pasti adiknya itu sudah pergi duluan, lantaran cowok itu membawa motornya, sedangkan Aldi membawa mobil. Kadang-kadang juga mereka membawa mobil jika salah satunya sedang malas berkendara. ●▪●▪ Alan dan Aldi kini sudah berada di depan ruangan Adam yang sedang menjalani pemeriksaan. Mereka tidak hanya berdua, di sana juga ada dua pria yang membawa Papanya ke rumah sakit. Sudah hampir sepuluh menit mereka menunggu di sana, namun belum ada yang tahu keadaannya. Pintu ruangan terbuka meperlihatkan seorang dokter pria yang selama ini selalu menangani Adam ketika sakit. "Gimana keadaan Papa, Om?" Alan langsung menyerangnya dengan pertanyaan. "Keadaan Papa kalian semakin buruk. Om sarankan lebih baik Papa kalian dibawa ke Jerman. Pengobatan di sana lebih baik dan bisa memjamin Papa kalian sembuh." Alan menghembuskan nafas kasar. Ia langsung membelakangi dokter itu dan mengusap wajahnya kasar. Begitu juga dengan Aldi yang terlihat bahunya melemas. "Di, gimana?" tanya Alan setelah menenangkan diri beberapa saat. "Kalo itu yang terbaik buat Papa, gue setuju." "Oke kalo gitu, gue bakal ikut ke sana." "Gue juga," sahut Aldi tegas Pria yang menjadi kepercayaan Adam itu, kini ikut bersuara. "Tuan muda, lebih baik kalian tetap di sini. Pernikahan kalian tinggal tiga minggu lagi. Lebih baik kalian tetap di sini, biar saya dan beberapa anak buah saya yang menemani tuan Adam." Alan dan Aldi tidak terima dengan usulan pria yang sudah dianggap kakaknya itu. Umur pria itu kira-kira 35 tahunan dan sudah lama bekerja dengan Papanya. Namanya Dendi. "Gue gak mau, bang! Papa lagi sakit masa kita gak jagain sih," bantah Alan. Sedangkan Aldi lebih banyak diam. Namun ia juga sedang dilanda khawatir. "Percaya sama saya. Saya akan selalu memberi kabar tentang kondisi tuan. Lagipula di Jerman ada orang tua tuan Adam yang bisa menemaninya." Alan kembali menatap dokter itu dengan tatapan penuh harap. "Lakukan yang terbaik buat Papa, Om!" "Kami akan berusaha, Lan." Pria itu menepuk bahu Alan untuk memberikan kekuatan. "Kalian cukup berdoa untuk kesembuhan Papa kalian." "Om, kita bisa melihat Papa sebelum pergi ke Jerman?" Aldi berbicara, dan pria itu menganggukkan kepalanya. Alan dan Aldi langsung masuk setelah mendapat anggukan. Mereka melihat Daniel yang terbaring lemah di atas brankar dengan alat-alat medis yang tertempel di badannya. Alan sampai tidak tahan melihat Papanya seperti itu, baru kali ini ia melihat Papanya sakit sampai parah seperti itu. Biasanya hanya akan dirawat beberapa hari dan itu pun dalam keadaan sadar. Alan itu memang paling dekat dengan Papanya. Aldi juga sama dekatnya, bahkan Adam tidak pernah pilih kasih. Namun Alan yang sering bercanda dengan Papanya, membuat Adam lebih dekat dengan lelaki itu. Alan mendekati sang Papa dan menangis dalam diam, begitu juga dengan Aldi. Siapa yang tidak tahan melihat orang satu-satunya yang berharga dalam hidupnya, hanya bisa terpakar lemah di atas kasur. Ini baru pertama kalinya kondisi Adam seperti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN