Chapter 10 : Teman lama Laura.

1001 Kata
Saat Laura dan Keenan tengah asik memakan makan siang mereka di sebuah restoran khas Jepang, seseorang menghampiri keduanya, ia menatap Laura seolah ia mengenal Laura dengan baik. "Stevan?" "Aku pikir kamu akan melupakanku." "Mana mungkin. Kamu teman baikku waktu SMP dulu. Duduk, Van." Stevan pun duduk di bangku hadapan Laura. Keenan yang melihatnya, ia menatap Laura. Lelaki itu menaikkan alis sebelah kanannya untuk mengisyaratkan bahwa saat ini ia sedang meminta penjelasan dari Laura. "Ini Stevan, teman SMP aku dulu. Saat masuk SMA, Stevan pindah ke Surabaya. Dan baru sekarang kami ketemu lagi," Laura menjelaskan secara rinci. "Siapa?" tanya Stevan dengan nada pelan dan dengan matanya yang menatap ke arah Keenan. "Dia Keenan," ucap Laura memperkenalkan Keenan. "Calon suami?" tanya Stevan lagi. "Jangan asal bicara deh," ucap Laura dengan wajahnya yang tersipu. "Bye the way, sekarang bagaimana? Kuliah?" tanya Stevan. "Kemarin sih aku dapat beasiswa. Untungnya beasiswanya bisa nanti ngambilnya. Jadi sekarang aku kerja dulu. Karena pihak sekolah hanya membiayai kuliahku, bukan hidupku," sahut Laura. "Beasiswa ke mana?" tanya Stevan penasaran. Laura mengisyaratkan bahwa itu adalah rahasia. ... Setelah selesai makan siang, Keenan mengantar Laura kembali ke kafe karena gadis itu harus kembali bekerja. Namun, sepanjang perjalanan, Laura menyadari bahwa raut wajah Keenan seperti sedang kesal saat ini. "Kenapa, Ken? Kesal dengan Stevan?" "Hm." "Kan tadi aku sudah kasih tahu siapa dia. Seharusnya yang kesal itu adalah Stevan." "Kok gitu?" "Karena kan yang kenal aku duluan si Stevan, bukan si Keenan." "Alasan dia harus kesal, apa?" "Karena aku sudah punya teman cowok selain dia." "Jadi, selain Stevan, kamu enggak ada teman cowok lagi?" "Teman sekelas sih ada, Tapi enggak ada yang sedekat kayak aku dengan Billa." "Kayak kamu dengan aku, begitu?" Laura memajukan bibirnya. "Ekspresi macam apa itu?" Laura pun terkekeh. "Iyain aja deh. Biar si Keenan enggak kesal lagi dengan si Stevan," ucap Laura dengan candaannya. "Ngeselin," gumam Keenan. "Sudah diiyain, masih aja ngatain kalau aku ngeselin," ucap Laura. Keenan merasa takut akan Stevan, karena ia tahu bahwa dari tatapan Stevan kepada Laura begitu lain. "Kenapa tiba-tiba jadi diam?" heran Laura. Keenan hanya menggelengkan kepalanya. ... 2 Hari berlalu setelah hari di mana Laura dan Stevan bertemu. Hari ini, tanpa Laura duga, Stevan datang ke kafe. Keduanya saling mengobrol ringan layaknya teman pada umumnya seraya Stevan menunggu pesanannya selesai dibuat. "Jadi, dia teman lama kamu?" tanya Karin setelah Stevan meninggalkan area kafe dengan membawa satu cup kopi. Laura menjawab pertanyaan Karin dengan anggukan kepalanya. "Ganteng, Ra," gumam Karin. "Mau aku comblangin?" tanya Laura. "Takutnya dia enggak suka dengan aku. Kelihatan banget kalau dia itu dari kalangan atas," sahut Karin. "Dia sama kok kayak Billa, enggak terlalu pemilih soal teman atau pasangan," ucap Laura. "Sepertinya dia lebih cocok kalau dengan Billa," sahut Karin. "Belum apa-apa sudah mau menyerah aja, Rin," ucap Laura kemudian ia terkekeh. "Pagi, Keenan," sapa Karin mengalihkan pembicaraan karena Keenan datang. "Tadi aku enggak sengaja lihat Stevan keluar dari sini," ucap Keenan kepada Laura. "Beuh! Kacang mahal! Apalagi kalau kacang bioskop," sindir Keenan. "Keenan nih. Karin nyapa, bukannya sapa balik gitu," timpal Laura. "Enggak penting," sahut Keenan. "Orang sabar harus cantik," gumam Karin. "Eh, salah deh. Orang cantik harus sabar." "Sudah enggak waras, Rin?" tanya Keenan. "Harus sabar, enggak boleh tumpah emosinya," gumam Karin lagi. "Pesan apa, Ken? Kayak biasa?" tanya Laura ketika ia menyadari bahwa di belakang Keenan sudah mulai antre. "Kayak biasa," sahut Keenan. Karin pun membuatkan apa yang memang biasanya dipesan oleh Keenan dipagi hari. "Tenang aja, Ken. Stevan datang hanya untuk beli kopi aja kok," ucap Karin. "Tahu apa soal Stevan?" tanya Keenan heran. "Tahu tempe!" sahut Karin dengan kesal. "Jangan sampai aku pingsan di sini, ya," ucap Laura menengahi. Karin dan Keenan pun sama-sama langsung mengakhiri adu argumen mereka. Mungkin jika Laura tidak berkata seperti itu, Karin dan Keenan tidak akan berhenti beradu argumen dengan hal yang enggak terlalu penting, menurutnya. ... "Seandainya Stevan benar-benar menaruh hati pada Laura, gimana?" "Elo selalu begitu, Ken. Selalu curiga dengan orang lain. Stevan kan teman baik Laura, kalau Stevan beneran suka dengan Laura, mungkin sekarang mereka sudah pacaran." Keenan menatap Angga yang duduk di hadapannya setelah sahabatnya itu menuturkan kata yang membuatnya semakin bimbang. "Kalau ternyata Stevan baru akan mengungkapkan perasaannya kepada Laura, bagaimana?" "Jangan bodoh. Ambil kesempatan duluan. Sebelum keduluan sama Stevan." "Gua tahu kalau untuk saat ini, Laura enggak akan mau menerima gua sebagai kekasihnya." "Kenapa elo bisa bicara begitu?" "Karena gua tahu kalau Laura masih mengingat dengan jelas perkataan menyakitkan yang Jihan lontarkan untuk dia tempo hari." "Lo pikir, seandainya elo enggak mengungkapkan apa isi hati elo, Laura akan semakin berpikir bahwa dia enggak akan pantas untuk berdiri di samping elo." "Benar juga, ya?" "Baru mikir, 'kan? Bodohnya dipelihara sih>" Keenan pun segera berdiri dari tempat duduknya. "Gua mau jemput masa depan dulu," ucapnya sebelum pergi dari tempat Angga. "Enggak bayar?" tanya Angga. "Nanti gua ke sini lagi," sahut Keenan. "Kapan?" tanya Angga lagi. "Jangan posesif, Ngga. Gua akan balik ke sini beberapa jam lagi kok," sahut Keenan. "Pengin muntah gua dengar kata posesif," ucap Angga. Keenan tidak menyahuti perkataan Angga, lelaki itu segera pergi dari hadapan sahabatnya. ... Hanya membutuhkan waktu 20 menit dari bar milik Angga, Keenan sudah sampai di kafe. Dilihatnya, Laura sudah siap akan pergi meninggalkan kafe. "Hampir aja aku terlambat menjemput kamu," ucap Keenan. Laura hanya tersenyum menatap lelaki yang sangat perhatian padanya itu. Keenan pun langsung membukakan pintu mobil untuk Laura. Di mobil, Keenan menancapkan gasnya menuju rumah Laura. "Ra, sejujurnya aku cemburu dengan adanya Stevan." "Cemburu?" Laura merasa heran dengan ucapan Keenan. Mengapa ada kata cemburu padahal keduanya tidak menjalin kasih. "Sudah aku bilang sebelumnya, 'kan? Aku menyukaimu." Laura terdengar sedang terkekeh, gadis itu merasa lucu dengan ucapan Keenan. "Apa yang lucu, Ra?" "Keenan, seharusnya kamu dengarkan ucapan Jihan. Ucapannya ada benarnya, 'kan? Aku dan kamu ibarat..." "Sudah berapa kali gua bilang?! Jangan memikirkan perkataan Jihan lagi!" Laura terdiam, baru sekali ini ia mendengar bahwa Keenan sedang dalam kemarahan padanya. "Lo dengari kata orang yang lain benci dengan elo, sama saja dengan elo menyakiti hati lo sendiri."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN