Chapter 9 : Perhatian.

1008 Kata
Setelah cairan infus sudah habis, Laura segera dibawa pulang oleh Keenan. Sepanjang perjalanan pun, Laura hanya memejamkan matanya. Karena ia merasa bahwa kepalanya masih sedikit sakit. "Makanya tadi aku bilang tambah aja infusnya. Kamu malah keras kepala." "Aku enggak mau terlalu merepotkan kamu, Ken." Laura menyahuti perkataan Keenan dengan mata yang masih terpejam. Gadis itu masih bisa mendengar dengan jelas setiap kata yang keluar dari mulut lelaki yang sedang mengemudi di sampingnya. "Keenan.." Ucapan lirih yang keluar dari mulut Laura membuat hati Keenan merasa sakit. Sebab, ia sangat takut jika sakitnya Laura malah semakin parah ketika ia sudah dibawa pulang. "Balik ke rumah sakit lagi, ya?" Hening... Laura tidak menjawab perkataan Keenan lagi. "Ra.." panggil Keenan. "Aku mengantuk, Ken. Mungkin efek obatnya. Aku tidur ya." Ucapan Laura berhasil membuat Keenan merasa sedikit lega. Ia pikir bahwa Laura pingsan, tapi ternyata gadis itu sudah siap menuju alam mimpi. ... "Bagaimana keadaan Laura?" Hanna menatap Keenan, raut wajah perempuan itu nampak khawatir. "Tadi sepanjang perjalanan ke sini, Laura tidur. Mungkin karena efek obatnya juga. Kamu enggak perlu khawatir," sahut Keenan. Keenan membawa Hanna menuju kamar Laura, di mana di sana sudah ada Billa, sang sahabat Laura yang menemani Laura. "Kayaknya efek obatnya keras banget. Sampai Laura tidur kayak orang pingsan," ucap Billa seraya menatap Keenan. "Kata dokternya tadi, obat Laura memang sengaja dimasukkan obat tidur. Supaya Laura istirahatnya banyak," sahut Keenan. Billa menatap Laura yang tidur dengan nyenyak di atas ranjang. "Sejak Laura tinggal sendirian di sini, aku sudah sering ajak dia tinggal di rumah aku aja. Bahkan Papa aku juga setuju kalau aku ajak Laura tinggal di rumah supaya Laura enggak tinggal sendirian. tapi Laura tetap keras kepala enggak mau ninggalin rumah ini," pungkas Billa. "Aku pikir kalau Laura hanya keras kepala denganku," sahut Keenan. "Semenjak saya kenal dengan Laura, saya tahu bahwa Laura adalah anak yang mandiri. Makanya dia enggak mau repotin orang sekitarnya," timpal Hanna, ... "Kalian pulang saja. Laura biar sama aku," ucap Billa. "Hari juga sudah mulai malam," sambungnya. "Harusnya aku yang bilang begitu. Kamu yang pulang, Laura biar aku yang jaga," sahut Keenan. "Kamu mau ngapain? Mau jadikan Laura bahan gosip komplek karena mengizinkan cowok menginap di rumahnya?" tanya Billa. "Aduhhh, kenapa kalian jadi ribut sih? Lebih baik kalau kalian berdua yang pulang. Aku sudah merasa baikan kok. Aku janji, kalau ada apa-apa, aku bakalan hubungi kalian," ucap Laura menengahi. Seketika itu, Keenan dan Billa langsung menatap ke arah Laura. "Apa? Mau marah? Marah aja, tapi habis itu aku usir kalian," ucap Laura. "Beneran, Ra?" tanya Billa. "Daripada kalian berdua rebutan mau nginap di sini. Lebih baik kalian pulang ke rumah masing-masing," sahut Laura. "Tapi, aku enggak akan tenang kalau ninggalin kamu sendirian, Ra," ucap Keenan. "Benar, Ra," Billa membenarkan ucapan Keenan. "Tadi aku bilang apa? Apa perlu aku ulangi?" tanya Laura. Keenan dan Billa langsung menggelengkan kepala mereka secara bersamaan. "Lalu? Apa kalian akan tetap ribut di sini dan membuat kepalaku kembali pusing atau kalian mau pulang sekarang?" Laura memberi pilihan kepada dua orang yang ada di hadapannya. "Pulang, Ra," ucap Keenan dan Billa bersamaan. Billa menatap Keenan dengan tatapan kesal. "Mau berantem lagi?" tanya Laura. Billa dan Keenan pun langsung menggelengkan kepala mereka secara bersamaan lagi. "Ingat, ya. Kamu harus tepati perkataan kamu tadi," ucap Keenan seraya mengenakan jaketnya. Laura pun hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian, Keenan dan Billa meninggalkan Laura seorang diri di rumah. Laura tersenyum seraya menatap kepergian Keenan dan Billa. Gadis itu merasa bersyukur karena memiliki teman-teman yang sangat perduli terhadapnya. ... 2 hari setelah kejadian hari itu, Laura kembali ke kafe untuk bekerja. Wajahnya nampak lebih segar dan ia kembali bersemangat untuk meemulai hari. Seperti hari-hari biasanya, senyuman manis menghiasi wajah ayunya. "Kalau capek, istirahat dulu, Ra. Jangan dipaksakan untuk bekerja," ucap Hanna. "Iya, Bu," sahut Laura. Hanna tersenyum sebelum ia berjalan memasuki ruang kerjanya. ... Setelah mengenalnya, aku tahu apa arti cinta yang sesungguhnya. Bukan karena paras maupun harta apalagi tahta, melainkan karena baiknya perasaannya. "Lo yakin kalau dia enggak akan memikirkan perkataan Jihan lagi?" tanya Angga pada Keenan yang masih sibuk menatap kertas-kertas di tangannya. "Kenapa lo tanya begitu?" tanya Keenan kembali. "Setelah dengar cerita elo tentang bagaimana sifat Laura, gua tiba-tiba merasa kalau enggak yakin kalau Laura akan mengabaikan ucapan Jihan tempo hari," sahut Angga. Keenan berdecik kesal, lelaki itu memutar bola matanya dengan malas, ia tahu bagaimana Laura dan ia yakin jika Laura akan melupakan ucapan Jihan yang hanya akan membuatnya sakit kepala. Kemudian, lelaki itu kembali melanjutkan pekerjaannya. "Gua mau tanya deh." "Tanya apa lagi, Angga?" Keenan kesal dengan Angga yang datang ke kantornya hanya untuk mewawancarainya. Walau Angga adalah sahabatnya. "Lo sama Laura juga punya jarak umur yang cukup jauh, Keenan. Laura belum 20 tahun, sedangkan elo sudah hampir kepala 3." Keenan melempar pulpen yang ia pegang ke arah Angga. "Coba ngomong sekali lagi, gua berapa kepala?" "Hampir, 'kan?" "Baru juga 26 tahun." Angga tertawa puas, ia berhasil membuat Keenan naik pitam. Kemudian, Angga beranjak dari tempat duduk. "Nanti malam ke bar, 'kan?" tanyanya pada Keenan. "Lihat nanti," sahut Keenan. "Okey. gua pergi," ucap Angga. Keenan hanya menganggukkan kepalanya dan menyuruh agar Angga berhati-hati mengemudi karena hujan baru saja reda dan jalanan pasti basah dan licin. ... "Sedang apa? Apa sudah makan siang?" Isi pesan itu masuk di ponsel milik Laura. Laura langsung menekan nomor kontak orang yang mengirim pesan itu padanya. "Ada apa, Pak?" "Heh! Sejak kapan manggil aku dengan sebutan itu?" "Habis, sifatnya sudah seperti bapak tua." "Keluar sini. Aku di depan kafe." Laura langsung mengakhiri sambungan telfon dan langsung berjalan menuju depan kafe. Dilihatnya, Keenan sudah tersenyum seraya menatapnya. "Beneran kayak makhluk astral kamu tuh. Sekejap datang, sekejap pergi." Keenan hanya terkekeh. "Ayok makan siang sama-sama," ajak Keenan. "Ke mana?" tanya Laura. "Ke mana kamu mau?" tanya Keenan kembali. "Gini nih, tipe manusia minta dicakar. Ditanya malah nanya balik," ucap Laura kesal. "Aku ikuti apa yang kamu mau aja," ucap Keenan. "Kamu mau makan apa?" tanyanya. "Aku mau makan kamu," sahut Laura. Seketika itu juga, Keenan menarik lembut pipi Laura. Ia benar-benar sudah gemas dengan gadis di hadapannya saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN