Bab 15. Penyembuh Luka Hati

1256 Kata

"Dhafa? Kamu kok bisa ke sini?" pekik Jendra dengan mata membelalak. "Ya bisa lah, aku kan punya uang. Aku bisa bayar tiket pesawat meski aku enggak bisa nerbangin pesawat kayak kamu, Kapten," balas Dhafa santai dengan tangan berada di dalam saku. "Iya tau, maksudku ... ah sudahlah, aku lelah, aku mau masuk ke kamar." Jendra berjalan dahulu menuju meja resepsionis. Melihat Mutia yang mendorong koper besar langsung membuat Dhafa merasa iba dan geram. Pria itu langsung mengambil alih koper—tidak lebih tepatnya merampas koper yang Mutia bawa tanpa persetujuannya. "Eh, Mas Madhafa, jangan. Biar saya saja yang bawa." Mutia hendak merebut kembali koper yang sudah berada di tangan Dhafa. "Enggak!" balas Dhafa dengan nada tegas. "Aku laki-laki dan bukan banci! Aku enggak tega lihat gadis seca

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN