Pagi datang terlalu cepat. Cahaya matahari mulai masuk menembus tirai jendela kamar mereka. Jendra terbangun lebih dulu dan tanpa sengaja melihat Mutia yang masih terlelap di lantai. Wajahnya tampak damai, meski garis kelelahan jelas terlihat di bawah matanya.
"Kenapa dia mau tidur di lantai? Kenapa dia enggak pernah protes atau melawanku?" batin Jendra.
Tapi, sebelum pikirannya melayang lebih jauh, Mutia mulai bergerak. Dia membuka mata perlahan dan langsung melihat Jendra yang tengah menatapnya. Mereka berdua saling diam untuk beberapa detik.
“Selamat pagi, Mas Rajendra,” ucap Mutia dengan suara serak karena baru bangun tidur.
Jendra buru-buru membuang muka dan bangkit dari tempat tidur. “Aku mau mandi.”
Mutia hanya menunduk dan mulai membereskan bed cover serta bantal hatinya. Namun, dalam hati, Mutia merasa ada yang berbeda dari tatapan Jendra pagi ini. Ada sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya—sesuatu yang hampir mirip dengan … perhatian.
"Apa mas Rajendra bakal berubah?" batin Mutia sambil tersenyum.
Di meja makan, suasana sarapan terasa canggung. Nurma dan Panji tengah sibuk membicarakan acara keluarga yang akan diadakan akhir pekan nanti, sementara Mutia diam, hanya fokus pada makanannya.
Jendra sesekali melirik Mutia, tapi segera mengalihkan pandangannya saat mata mereka hampir bertemu. "Astaga, lagi-lagi aku liatin gadis kampung itu!"
“Jendra, habis ini temani Mutia belanja ke supermarket, ya! Ada beberapa barang dan bahan makanan yang perlu dibeli untuk acara nanti,” perintah Nurma.
“Saya bisa pergi sendiri, Ma,” potong Mutia cepat. "Saya akan pergi sama Mbak Sari saja."
Mutia merasa, pasti Jendra akan menolak pergi dengannya. Itu sebabnya dia memilih pergi dengan Sari saja.
“Enggak, Mutia. Kamu harus pergi sama Jendra. Dia yanga akan menemanimu, bukan Mbak Sari!" balas Nurma tegas.
Jendra mendesah pelan, tapi akhirnya mengangguk. “Iya, Mah. Nanti aku antar."
Mutia menatap Jendra sekilas, namun segera kembali menunduk. 'Tumben Mas Jendra enggak marah-marah dan nolak.'
Di tengah lorong supermarket yang penuh dengan barang-barang, Jendra berjalan di belakang Mutia yang tampak sibuk memilih beberapa bahan makanan dan barang-barang yang ada di daftar yang ditulis Nurma.
Sesekali, Mutia mengangkat satu peralatan dan menoleh ke arah Jendra untuk meminta pendapat. “Mas, bagus yang mana?” tanya Mutia sambil membawa dua piring keramik.
"Terserah kamu saja, aku mana paham tentang barang pecah belah," jawabnya dengan nada dingin.
Saat Mutia sibuk memilih barang-barang lain, ada seorang pria yang lewat. Pria tinggi besar itu tidak sengaja menabrak bahu Mutia dan membuat gadis mungil itu sedikit oleng.
“Maaf, Mbak!” ujar pria itu.
Jendra refleks memegangi bahu Mutia agar tidak jatuh dan menatap pria itu tajam. “Lain kali hati-hati kalau jalan!”
"Maaf, Mas." Pria itu mengatupkan tangannya lalu buru-buru pergi.
Mutia menatap Jendra dengan kaget. “Mas Rajendra, terima kasih,” ucapnya pelan sambil tersenyum manis.
Jendra tidak menjawab, tetapi langkahnya melambat dan kini dia memilih berjalan di samping Mutia, bukan lagi di belakangnya.
'Apa Mas Rajendra akan benar-benar berubah? Dia barusan menolongku dan melindungi aku, kan?' batin Mutia dengan mata berbinar-binar.
Sesampainya di rumah, Mutia dikejutkan dengan kedatangan seseorang. Seorang laki-laki dengan seragam SMA tersenyum saat melihat Mutia keluar dari mobil Jendra.
"Dek Narendra," panggil Mutia sambil berlari kearah laki-laki itu agar bisa memeluknya.
"Jangan lari-lari, Mbak. Nanti jatuh!" jawabnya lalu memeluk tubuh Mutia dengan erat.
"Kamu kenapa di sini, Dek?" Mutia mendongak sambil mengelus pundak Naren.
"Aku punya kejutan buat Mbak Mutiara." Naren dengan semangat mengeluarkan amplop putih dari kantongnya dan memberikan pada Mutia. "Bacalah surat yang ada di dalam sini, Mbak!"
Mutia mengangguk, dengan cepat dia membuka amplop itu dan membacanya. "Ya Allah, selamat, Narendra. Selamat, kamu lolos tes, kamu beneran akan jadi Pak Dokter."
"Iya, Mbak, Alhamdulillah. Ini semua karena doa Mbak Mutiara." Naren menghapus air mata di pipi Mutia. "Jangan nangis, Mbak! Aku enggak suka lihat Mbak Mutiara nangis."
Kedua Kakak beradik itu tampaknya tak sadar jika Jendra sedang memperhatikan mereka. 'Dasar lebay,' batin Jendra lalu masuk ke dalam rumah.
Baru saja Jendra merebahkan tubuhnya di ranjang, pria itu kembali duduk. "Tunggu, jadi itu sebabnya gadis kampung itu pasrah dinikahkan denganku. Dia pengen adeknya bisa masuk jurusan kedokteran?" gumamnya sambil menganggukkan kepala.
"Nggak salah lagi sih, pasti mas kawinku juga udah dijual sama dia buat biayain Adeknya itu," imbuhnya dengan penuh keyakinan.
Pintu kamar Jendra terbuka, lalu Mutia masuk ke dalam dan berkata, "Mas Rajendra, ayo kita makan siang bareng."
Jendra menggeleng cepat. "Enggak! Aku enggak lapar. Lagi pula enek tau satu meja sama dua orang kampung. Sana kamu makan sendiri saja!"
Mata Mutia berkaca-kaca mendengar penghinaan dari Jendra. "Mas boleh menghina saya sepuasnya, tapi tolong Mas ... tolong jangan hina adek saya."
"Ck, malah mau ngedrama kamu!" bentak Jendra lalu berdiri. "Sana kamu buruan pergi! Aku mau tidur siang! Jangan ganggu aku!"
Mutia mengangguk lalu menghapus air matanya sebelah keluar dari kamar. "Maaf, Mas Rajendra."
Setelah pintu kamar ditutup, Mutia menyandarkan tubuhnya di pintu dan ambruk. Dia menangis sembari memeluk lututnya. Hatinya seperti diiris-iris pisau yang tajam.
"Kupikir Mas Jendra akan berubah, kupikir dia akan mau mulai mencintaiku. Ternyata ... dia tetap saja membenci aku," batinnya dengan tubuh bergetar.
"Tidak hanya membenci aku, dia juga ... juga membenci keluargaku ternyata," imbuhannya lalu semakin erat memeluk lutut.
Mutia tidak tau jika ternyata saat ini ada sepasang mata yang sedang menatapnya dari ujung tangga. Lelaki muda dengan seragam SMA nya itu mengepalkan tangan erat-erat.
"Maaf, Mbak Mutiara. Maaf ... saat ini aku tidak berdaya. Tapi ... tapi aku janji akan membuat Mbak Mutiara bahagia," janji Naren bersungguh-sungguh.
Naren kembali menuruni tangga perlahan, dia kembali duduk di ruang makan bergabung dengan keluarga Jendra yang lain. Dia memaksakan dirinya untuk terus tersenyum dan berbicara ramah meski hatinya sedang merasa sakit.
"Selamat ya, Naren. Kamu pinter banget deh bisa masuk jurusan kedokteran. Apalagi dengan beasiswa penuh, kamu luar biasa," puji Nurma.
"Terimakasih, Tante," jawab Naren sambil menganggukkan kepalanya.
"Sekarang kamu panggil Mama saja ya! Kamu kan juga anak Mama." Nurma mengelus puncak kepala Naren.
Naren mengangguk dan merasa lega. "Baik, Mama. Terimakasih."
Lalu datanglah Mutia dan duduk di samping Naren. "Maaf, Mah. Kata Mas Rajendra dia belum lapar. Dia mengantuk dan mau tidur siang saja."
"Owh, ya sudah. Kalau begitu kita makan siang sekarang saja ya," ajak Nurma dengan semangat menatap orang-orang yang sudah duduk di meja makan.
Naren menatap Nurma lalu Mutia sebelum memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. "Setidaknya Mama Nurma orangnya baik sekali. Pasti Mbak Mutia benar-benar disayangi seperti anak sendiri."
Meski Mutia selalu mengatakan pada Naren jika dia semakin bahagia setelah menikah bersama Jendra. Naren, remaja yang akan beranjak menjadi dewasa tidak bisa lagi dibohongi saat tadi dia mendengar teriakan Jendra dan melihat Mutia menangis.
"Sabarlah sebentar lagi Mbak Mutiara. Jika dia tidak bisa membahagiakan kamu. Aku akan membawa kamu keluar dari sini dan melindungi kamu. Aku berjanji akan belajar sungguh-sungguh dan akan membuatmu bahagia, Mbak." Kembali, Naren berjanji pada dirinya sendiri.