Pagi itu, Mutia dengan cekatan menuangkan teh hangat ke cangkir milik Panji dan Nurma, lalu meletakkan poci teh di tengah meja. Jendra duduk di ujung meja dengan wajah yang tetap dingin, fokus pada layar ponselnya. “Mas, ini tehnya,” ujar Mutia sambil meletakkan cangkir di depan Jendra dengan hati-hati. Jendra hanya melirik singkat, lalu menggeser cangkir itu sedikit menjauh. Mutia menggigit bibir, menahan tangis dan perasaan sedih yang kembali merambat di hati. “Jendra, berhenti main ponsel saat sarapan. Hargai makanan yang sudah disiapkan istrimu,” tegur Panji dengan tatapan tajam. Jendra mendengus pelan, lalu meletakkan ponselnya di meja. “Iya, Pah.” “Mutia, ayo duduk dan makanlah yang banyak biar kamu selalu sehat.” Nurma tersenyum lalu melirik ke arah Jendra. "Mama pengen deh cep

