Dengan sigap Okto membukakan pintu mobil untuk Hania, gadis manis itu sudah rapi mengenakan pakaian panjang dan tudung untuk menutupi kepalanya. Sesuai dengan janjinya tadi, Okto lah yang mengantarkan Hania ke rumah Ardi dalam rangka mengirim doa empat puluh harian kematian almarhum. Hanya Hania dan Okto saja yang berada di mobil itu, suasana hening pun dirasakan oleh Okto. Ia melirik ke kaca diatasnya, Hania terdiam mengamati padatnya jalanan di sore hari ini. Jam-jam pulang kerja memang akan lebih ramai dari biasanya. Tak membutuhkan waktu lama untuk mereka tiba di rumah almarhum, tenda dan kursi-kursi sudah ditata dengan rapi. Hania keluar dari mobil diikuti oleh Okto, ibu dari Ardi pun memeluknya dengan erat. “Nak Hania apa kabar?” tanya perempuan paruh baya itu. “Baik, Bu.” Ja

