“Terimakasih sudah membantu kami tadi.” Setelah mengantarkan Jenin ke kelas tadi, kini Aleya dan Saviero berjalan di halaman sekolah, kendaraan mereka sama-sama terparkir di luar gerbang. “Sama-sama, saya senang membantu kalian.” Saviero berujar sambil tersenyum ramah. Saviero adalah sosok pria yang tegap dan berwibawa, dilihat dari fisiknya saja sudah menunjukkan bahwa ia bukan orang sembarangan. Terlebih lagi saat ini Saviero mengenakan pakaian yang rapi dan wangi, tidak seperti dirinya yang bahkan belum mandi tadi pagi. Keduanya bagaikan angsa dan itik buruk rupa, tentu saja Aleya adalah itiknya. Ia merasa tidak percaya diri saat berjalan di samping Saviero. “Ah ya, Anda hanya sendiri, tidak bersama suami?” tanya Saviero pada Aleya. Untuk sejenak dahi Aleya berkerut samar, ia t

