Nilai IPK

832 Kata
Langit New York siang itu berwarna kelabu, seperti ikut menertawakan nasib Grace. Papan pengumuman nilai di gedung Fakultas Humaniora penuh sesak oleh mahasiswa. Bisik-bisik kecewa, teriakan kecil, dan desahan lega bercampur jadi satu. Grace berdiri terpaku di depan kolom namanya, matanya memindai baris demi baris, sampai jantungnya serasa berhenti. Tangannya mengepal. Nilai salah satu mata kuliahnya mendapatkan B-, itu menjatuhkan nilai IPK-nya. Beasiswanya yang selama ini jadi satu-satunya alasan ia bisa bertahan di kota sekejam New York kini terancam. Semester lalu ia selalu A. Tidak pernah sekali pun ia mendapat nilai serendah ini. “Aku tidak terima, aku harus menemui Pak Gabriel!” gumamnya lirih, suaranya gemetar. Luna, sahabatnya, langsung memegang lengannya. “Grace, jangan sekarang. Kau tahu sendiri reputasinya. Dosen killer itu bisa makin mempersulitmu.” Grace menoleh, matanya memerah. “Tapi jawabanku benar. Aku belajar sampai tidak tidur.” Luna menarik napas panjang. “Aku tahu. Tapi memprotesnya terang-terangan hanya akan membuatmu dicap pembangkang. Lebih baik… cari cara lain.” Grace menghela napas putus asa. Kepalanya terasa penuh. Sejak pagi, ibu kontrakan mengiriminya pesan bahwa kontrak kamarnya tak bisa diperpanjang kecuali ia membayar harga baru yang dua kali lipat. Uang tabungannya bahkan tidak cukup untuk sebulan ke depan. “Aku bahkan harus pindah kos,” bisiknya. “Aku tidak tahu harus ke mana.” Luna terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil, berusaha memberi semangat. “Tenang. Aku akan carikan tempat tinggal yang lebih murah. Sekarang fokus satu hal dulu.” Ia menunjuk ke arah parkiran dosen. Grace mengikuti arah jarinya. Seorang pria tinggi dengan jas abu-abu gelap melangkah keluar dari gedung. Rambut hitamnya tersisir rapi, wajahnya dingin, tanpa ekspresi. Langkahnya tegas, seolah dunia tak pernah menyentuhnya. Semua mahasiswa yang melihatnya langsung menyingkir. Gabriel Cruise. “Sekarang kau harus membujuk Pak Gabriel,” kata Luna pelan. Grace menelan ludah. Jantungnya berdetak keras. Pria itulah yang berdiri di antara dirinya dan masa depan. Ia memejamkan mata sejenak, lalu mengangguk. Tak peduli seberapa menakutkan reputasinya, hari itu Grace mulai berjalan ke arah pria yang akan mengubah hidupnya. Saat mobil hitam itu meluncur keluar dari area parkir dosen dengan kecepatan rendah Grace, yang sejak tadi berdiri ragu di tepi jalan, mendadak melangkah ke depan. BRAK! Decit rem memekakkan telinga. Mobil itu berhenti hanya beberapa sentimeter dari tubuhnya. Angin dari hentakan mendadak itu membuat rambut Grace berantakan, jantungnya berdentum seperti hendak meledak. Di balik kaca, sepasang mata gelap menatapnya tajam. Grace menelan ludah. Tangannya gemetar, tapi ia tidak mundur. Ia langsung mengetuk kaca jendela. Gabriel yang berada di dalam menghela napas dan menurunkan jendelanya. “Pak Gabriel,” katanya cepat, takut kehilangan keberanian. “Saya Grace Avelyn. Mahasiswa semester lima. Untuk nilai yang Pak Gabriel beri di mata kuliah Metodologi. Saya tidak terima dengan nilai B- itu.” Gabriel menghela napas panjang, jelas menahan kesabaran. “Nilaimu sudah final. Tidak ada revisi, tidak ada tambahan, dan tidak ada diskusi.” “Tapi jawaban saya benar!” suara Grace bergetar. “Saya butuh nilai itu untuk mempertahankan beasiswa saya.” Wajah Gabriel tetap tak tergoyahkan. “Itu bukan urusan saya.” Ia hendak menutup kaca jendela dan melajukan mobilnya lagi. Namun dalam satu gerakan nekat, Grace membuka pintu penumpang dan langsung duduk di kursi depan. Tangannya dengan cepat menarik sabuk pengaman dan mengaitkannya. Gabriel membeku, menatapnya tak percaya. “Apa yang kau lakukan? Keluar!” Grace menggeleng, matanya berkilat penuh tekad. “Tidak sampai Bapak mau mempertimbangkan nilai saya.” “Kau melanggar batas,” kata Gabriel dingin. “Turun sekarang juga.” Grace menahan air matanya. “Jika saya kehilangan beasiswa ini, hidup saya selesai. Saya tidak punya siapa pun. Tolong… dengarkan saya.” Keheningan menggantung di antara mereka. Gabriel menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras. Gabriel menoleh sedikit, sudut bibirnya terangkat tipis, bukan senyum, lebih seperti tantangan. “Terserah kau saja.” Sebelum Grace sempat berkata apa pun, kaki Gabriel menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil melesat keluar dari area kampus, membelah lalu lintas New York dengan kecepatan yang membuat jantung Grace serasa tercabut dari dadanya. “P-Pak Gabriel! Pelan-pelan!” teriak Grace sambil mencengkeram sabuk pengaman. Gedung-gedung tinggi berubah jadi bayangan kabur. Klakson bersahut-sahutan. Napas Grace terputus-putus, dadanya naik turun cepat. Tiba-tiba Gabriel mengerem mendadak. Tubuh Grace terdorong ke depan, sabuk pengaman menahannya keras. Dunia seakan berputar. Perutnya mual. Gabriel menoleh, suaranya tetap datar. “Masih ingin melanjutkan?” Grace menelan ludah, wajahnya pucat. Tangannya gemetar di atas lutut. “A-aku tidak akan berubah pikiran. Sampai Bapak benar-benar memberiku kesempatan,” ucapnya menahan diri agar tidak muntah. Tatapan Gabriel mengeras. Tanpa berkata lagi, ia kembali melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Kali ini Grace hanya memejamkan mata, mencoba menahan rasa mual, berdoa agar semuanya segera berhenti. Beberapa menit kemudian, mobil memperlambat laju. Grace membuka mata. Di depan mereka berdiri gedung pemakaman, sunyi dan suram, dikelilingi pepohonan tua yang bergoyang pelan.. Gabriel mematikan mesin. Begitu mobil berhenti, Grace menutup mulutnya, napasnya tersengal. Kepalanya berdenyut hebat. “Bapak gila…” gumamnya, lalu membuka pintu dan turun tergesa-gesa. Ia berjalan sempoyongan, mencari toilet terdekat, sementara perutnya terasa bergejolak. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN