s****n. Entah itu sengaja atau tidak tapi yang jelas libidonya naik. Apalagi ritmenya dibuat seperti gerakan orang lagi ML. Ah Rianti makin tak tahan. Tiadanya sentuhan Bang Ucok membuat ia jadi makin basah. Pijatan dilakukan dengan sentuhan-sentuhan nakal yang menyentuh labia. Ini membuat pantatnya naik ke atas disertai mulut terbuka dan rintihan. Itu tadi…. Nikmat sekali.
“Selesai.”
Mata Rianti yang mulanya merem-melek sekarang terbuka penuh. Suara itu? Mengapa beda? Itu suara pria! Ia bangun dari tengkurapnya dan langsung berbaring. Ia kaget melihat bahwa yang memijit rupanya sudah berganti. Bukan lagi Syenni tapi Kim Joo…. dengan kacamata anti silau dan six pack-nya yang indah.
“Kim? W-where is Syenni?”
“Dia ke kamar kecil.”
“Sejak kapan?”
“Belum lama. Kenapa? keberatan aku yang gantian pijat?”
“Ng..gak sih.”
“Dan pijitanku sudah selesai koq.”
Muka Rianti memerah. Orang ini berarti yang tadi menyentuh labia vaginanya! “Oh okay. T-thanks.”
Ia menyerahkan botol baby oil ke tangan Rianti.
“Jemari kamu lentik. Cantik sekali,” puji Kim saat melihat jari-jari Rianti.
“Terima kasih.”
Kim kemudian melangkah pergi. Rianti heran. Hah? Cuma begini saja tanpa kelanjutan? Koq rasanya menanggung sekali dan ia…. ia nggak mau kehilangan pria itu. Rianti tak peduli dirinya sedang topless dan buru-buru dia mengejar Kim.
“Kim! Wait!”
Tapi karena berlari-lari di pinggir kolam, ia terjatuh akibat lantai yang licin. Kim yang mendengar suara benturan, buru-buru datang menolong. Orang-orang yang lain hanya menonton sewaktu pria itu mengangkat tubuh Rianti yang ramping dan setengah t*******g. Ia membopong ke kursi baring yang baru saja Rianti tinggalkan, dan menaruh badannya tengkurap di sana.
Rianti mengaduh atas perih di punggung dan paha yang dialamin. Dia tak keberatan ketika Kim menawarkan diri untuk mengurut dirinya.
“Bikin malu aja.”
“Ini bukan salahmu. Nggak ada yang perlu dibuat malu.”
“Tapi ini kan…. Ahhh….” Rianti mengeluh ketika pijatan Kim menimbulkan rasa pegal di punggung dan di susul paha. “Pelan-pelan.”
“Sure, honey.” Kim meneruskan urutanya. Dan Rianti bisa menilai bahwa gaya mengurutnya beda dengan yang Syenni lakukan. Pengurutan yang dilakukannya lebih mantap karena ia memang memiliki postur lebih kuat.
Ia jadi membiarkan orang itu melakukan teknik urutan terhebat yang ia pernah rasakan. Akibatnya dengan cepat rasa pegal dan perih menghilang. Ia jadi mengantuk dan pulas. Entah berapa lama. Ia jadi malu sendiri karena ketika terbangun ia merasa tubuhnya segar. Uh, ia merasa sangat berhutang budi pada Kim. Tapi pria itu belum berhenti mengurut. Dan tidak seperti sebelumnya ketika iseng, kali ini ia tidak mengurut bagian b****g yang membuat dua jempolnya bisa bersentuhan dengan labia. Ah, orang ini gentleman sekali.
“Astaga, kamu mengorok sayang.”
“Aku?” Rianti menutup mulut dengan jari sambil terkikik. “Serius?”
“Ya. Bagaimana tubuhmu?”
Dalam keadaan tetap berbaring, Rianti menggerakkan tubuh. “Wah, nyaman. Thank you.”
“Good. Very good. Berarti tugasku selesai. Aku pergi dulu ya.”
Ah, itu lagi.
“Wait!”
Buru-buru Rianti membalik badan, telentang dan memandang mata Kim.
“Thank you.”
Kim tak ngejawab. Sebaliknya dia malah memandang keindahan b*******a Rianti yang mengkal. Melihat itu, refleks Rianti berusaha menutupi. Tapi dengan santai Kim menyingkirkan dengan menaruhnya di kiri dan kanan. Ah, aneh, Rianti tak melawan. Dalam keadaan begitu dia tak merasa perlu untuk menutup keindahan tubuhnya.
“36?”
Rianti tersenyum dan mengangguk. “36 DD.”
“Indah banget. Apalagi dengan p****l mencuat begini.”
Mencuat? Rianti meneguk ludah. Itu artinya Kim bisa melihat bahwa dirinya sedang terangsang. Gawat! Dia buru-buru mau menutup lagi buah dadanya tapi Kim bergerak cepat. Dia menahan kedua tangan Rianti. Keduanya bertatapan sejenak sebelum kemudian Kim menunduk dan mengecup mulut Rianti. Tak ada perlawanan. Rianti diam saja.
Rianti sempat melihat sekitar. Kolam renang sekarang agak sepi tapi tetap saja masih ada orang di sana. Dan kemudian sewaktu Kim menunduk lagi dengan berani ia melingkarkan tangannya di leher pria itu. Dengan begini sulit untuk Kim buat menghindar dan Rianti lantas melancarkan ciuman kedua. Lebih lama, lebih dalam, karena kali ini ada lidah yang ikut main. Didorong ke dalam mulut yang – biarpun sempat ragu – akhirnya disambut Rania dengan menyedot.
Memabukan.
Dunia seperti terbolak-balik ketika gelombang kenikmatan menerpa.
Kenikmatannya membuat Rianti yang sudah ada di ketinggian gedung jadi merasa lebih tinggi lagi sehingga awan pun sebentar lagi tergapai.
Rianti benar-benar dibuat mabuk cinta. Terbuai karena ciuman penuh kehangatan yang Kim bisa lakukan. Gejolak hasratnya melambung tinggi. Ada bahagia, nikmat, dan kelegaan serta lepasnya beban.
Waktu Kim menarik mulut, Rianti yang merasa kedamaiannya terenggut menyerang lagi. Mencium lagi dan membalas dengan menyertakan setitik unsur nafsu di dalamnya.
Ia sudah benar-benar tak ingat atau lebih tepatnya tak peduli pada lingkungan yang mungkin ada beberapa orang lain di sekitar mereka yang melihati ulah mereka.
Dia juga tak ingat lagi Ucok. Tak mau mengingat, persisnya. Suami yang menurutnya mengkhianatinya karena egois dan lebih suka main sendiri. Terserah kalau itu maunya dia. Rasa bahagia yang meroket itu terlalu sayang dibuang gitu aja.
Jadi waktu ciuman selesai, Rianti dan Kim tertawa bersamaan sambil beradu kening. Mereka bicara begitu dekat sampai masing-masing bisa merasakan desah nafas pasangannya. Kim kini membisik sesuatu ke telinga Rianti. Entah apa yang disampaikan. Yang jelas Rianti lantas tersenyum dan mengangguk. Selanjutnya diapun bangun, memasang lagi piyama handuk miliknya dan membiarkan tangannya digandeng Kim untuk dibawa pergi.
Mereka meninggalkan lokasi sambil – Rianti tahu – diliati beberapa orang yang tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya.
Kim membawa ke salah satu ruang kamar ganti. Begitu sampai di sana mereka berciuman lagi. Kali ini jelas bukan ciuman malu-malu kucing. Tapi ciuman super hot karena ada unsur lidah yang lincah bermain.
Kim mendudukan Rianti di dudukan dalam ruangan kamar dan ciumannya turun ke d**a. Melumat satu demi satu b*******a sambil meremas sedikit kasar. Rianti memejam mata menahan nikmat yang menggila. Matanya terputar sampai bola mata putihnya kelihatan. Dan ciuman serta jilatan lidah Kim tak berhenti hanya bermain di seputar d**a. Dia terus turun sampai kemudian melepas satu-satunya pakaian yang masih menempel, panty alias sang bikini bottom yang dengan gemas dilempar Kim ke udara sampai kemudian mendarat di muka pintu kamar ganti. Seolah jadi penanda bagi orang luar atas apa yang terjadi di dalam sana. Dan belum lagi benda itu mendarat di lantai, ciuman Kim sudah berhenti di kemaluan. Sebuah jilatan panjang dari arah bawah hingga tepat di k******s yang membuat Rianti mengeluarkan lenguhan hebat.
Tindakan Kim membuat nafsu Rianti naik ke ubun-ubun dan membuatnya tiba di k*****s pertama. Gila, itu adalah o*****e paling hebat yang Rianti pernah alami. Badannya sampai tergetar-getar karena sensasi dahsyat yang terjadi, berbarengan dengan vaginanya yang berkedut-kedut tak karuan. Saat Rianti belum selesai dilanda nikmat, Kim sudah langsung mengubah posisi dengan membuat Rianti mengangkang selebar mungkin di dudukan. Dan Kim tahu pasti wanita itu telah menagih untuk disetubuhi. Rianti mulai mengerang ketika batang besar dan panjang milik Kim mulai menerobos gua kenikmatannya yang basah. Pelan tapi mantap dan pasti.
Setitik air sempat keluar di ujung mata Rianti. Bukan karena sakit perih yang sempat menyengat mengingat ukuran kejantanan Kim yang besar yang telah menerobos v****a. Ia menangis karena sadar ia telah berkhianat dan tidak setia. Ini adalah kejantanan pertama selain kepunyaan suaminya yang ia izinkan untuk masuk ke dalam vaginanya. Ia tidak banyak melihat ukurannya namun yang pasti lebih besar. Jauh lebih besar. Membawanya dalam pengalaman kenikmatan yang baru. Yang hebat dan sensasional. Karena itu ia hanya pasrah dan membiarkan daging kenyal, keras, berurat milik Kim melesak sedalam mungkin. Dan ketika Rianti merasa sudah dalam, benda itu masih terus merangsek masuk lebih dalam lagi. Ia sempat heran, akan seberapa dalam lagi?
Benda itu terus melesak masuk sampai akhirnya mentok dimana bulu-bulu kedua kemaluan mereka menyatu. Rianti yang selama ini hanya pernah merasakan satu kejantanan, kali ini merasakan yang bisa penuh mengisi rongga kewanitaannya. Ia tak pernah membayangkan bahwa kejantanan pria bisa sebesar, setebal, sepanjang ini. Ia merasa diri penuh. Seolah tak tersisa semilipun ruang dalam liang kewanitaannya. Bisa jadi benda kenyal pengantar nikmat itu kini berhenti persis di ujung rahim? Ah, dia tak tahu. Yang ia tahu, Kim mulai menarik benda itu hingga phallusnya sempat menyembul keluar. Dan tak perlu sepenuhnya keluar dan terlepas, benda itu dilesakkannya kembali. Membuat Rianti merintih menahan kenikmatan yang kembali muncul. Kim menarik lagi, menghunjamkan lagi, tarik lagi, tancap lagi, begitu terus berulang-ulang. Rasa perihnya tak ada lagi. Lubernya cairan cement dari Kim dan khususnya dari Rania sendiri telah melenyapkan rasa perih tadi dan menggantikan sepenuhnya dengan rasa nikmat b****i tiada tara.
Kim kembali mengajak dirinya kembali berciuman. Rianti menurut dan makin pasrah ketika sambil berciuman b****g Kim leluasa menghentak-hentak ke dalam s**********n wanita bersuami itu. Dengus nafas keduanya menggebu-gebu. Ciuman sempat terlepas sekali tapi mulut mereka kembali menyatu. Hanya karena keduanya sama-sama telah memuncak nafsu syahwatnya, hanya butuh 10 menit saling genjot dan menggoyang dilakukan, sampai keduanya mencapai k*****s berbarengan. Kim menggeram sambil menancap b****g sedalam dirinya bisa. Badannya bergetar akibat ada muatan jutaan calon bayi yang lagi dikirim ke sebuah rahim milik wanita yang adalah isteri orang lain. Bagi Kim, ejakulasi di dalam rahim wanita seperti itu selalu sangat menggairahkan. Jauh lebih menggairahkan dibanding dengan seorang pacar.
Mulut Rianti ternganga didera sensasi nikmat s*****t luar biasa. Dihajar dua kali k*****s membuat dirinya terkapar karena o*****e kedua ini jauh lebih dahsyat dimana getar dan kedutan tak juga habis biarpun sudah lebih dari satu menit. Rianti ambruk di dudukan empuk dalam sebuah kamar ganti dengan v****a yang kini bocor. Luber mengeluarkan cairan putih kental dari pria yang baru dikenalnya. Pikiran itu membuatnya untuk sesaat merasa diri tak lebih baik dari seorang p*****r.
Ada bermenit-menit ia di kamar itu. Sendirian, karena setelah mengecup keningnya, Kim sudah keluar ruangan dan ternyata tidak balik lagi. Ia lalu memaksa diri untuk bangun
Sadar ia sudah terlalu lama di luar, ia takut Ucok jadi curiga. Jadi saat kembali ke kamar, ia kembali mendapati Ucok yang tengah mengorok. Rianti lantas mandi di bawah guyuran shower, berbenah, dan menemukan lagi bukti Ucok bermain solo. Ia hanya menggeleng kepala sambil tersenyum sebelum kemudian tidur di samping Ucok setelah sebelumnya mencium kening suaminya itu.
“Selamat bobok,” katanya sebelum kemudian menutup dirinya dengan selimut dan mulai tidur dengan menyungging senyum.
Walau belum terlalu malam, hari ini meletihkan sekali. Letih tapi menyenangkan bagi Rianti. Dan herannya…… ia tidak merasa bersalah sama sekali pada suaminya.