Hari keduabelas di Korea. Rianti bangun dari tidur dalam keadaan kesiangan. Tubuhnya terasa remuk setelah ia baru balik ke kamarnya pagi dini hari pukul tiga. Ia tiba ke unit apartemen dalam keadaan letih, kusut, pegal, perih di bagian v****a. Pikiran mumet. Mengharu biru atas kegilaan yang baru saja ia alami. Saat berendam di jacuzi, pikirannya menerawang atas kejadian yang baru saja ia lakukan. Sempat timbul rasa sesal karena mengkhianati suaminya. Tapi mengingat kesalahan yang dilakukan Ucok, rasa bersalah dengan cepat sirna. “Ini salah Bang Ucok. Ini salah Bang Ucok. Ya, ini semua gara-gara Bang Ucok mangkanya aku jadi begini,” demikian ia berucap seolah merapal mantera. Ucapan-ucapan retoris tadi membuat ia tenang. Matanya terpejam, dan bayangan apa yang terjadi sejak dini hari di

