Bagian 8 : Rumah Arion

1360 Kata
+62 : Di mana? Satu pesan masuk dari nomor tak di kenal di terima oleh Ayara. Gadis itu baru saja selesai kelas dan sedang berada di kantin sendirian. Karena kedua sahabatnya sedang ada urusan masing-masing, sementara dia yang tadi merasa lapar memilih untuk ke kantin lebih dulu sebelum pulang ke rumah. Ayara masih menatap layar handphone dan menebak-nebak siapa yang mengirim pesan ini padanya. Sampai notifikasi pesan kembali terdengar dan ia terkejut dengan pesan kedua ini. +62 : Ini Arion Kenapa dia tahu nomor gue? –batin Ayara. Lalu Ayara menepuk keningnya saat menyadari dai mana Arion tau nomor ponselnya, sudah pasti dari sang kakak karena mereka adalah rekan satu profesi dan bekerja di tempat yang sama. Harusnya Ayara meminta Bima untuk tidak memberitahu nomor dia begitu saja pada Arion. Kalau sudah begini, dia harus membalas apa. Ayara masih tetap berdiam duduk di kursi kantin ini, lalu handphonenya berbunyi dengan nomor baru dan dia sudah menebak siapa yang meneleponnya itu. “Aku di parkiran kampus,” ucap suara dari seberang telepon tanpa berniat untuk mengucapkan salam lebih dahulu. “Ngapain?” tanya Ayara. “Jemput kamu. Cepet.” “Iya tunggu ben--” belum sempat Ayara membalas ucapan laki-laki itu sambungan sudah di putus secara pihak. Dasar tidak sopan, batinnya menggerutu. Setelah itu Ayara segera berjalan meninggalkan area kantin menuju tempat parkir untuk menemui Arion. Sepanjang jalan gadis itu menggerutu untuk apa Arion datang ke kampusnya, untuk apa laki-laki itu menjemputnya, bukannya seorang Dokter harus selalu siap siaga di rumah sakit untuk pasien-pasiennya. Mobil hitam yang terparkir dekat pohon terlihat cukup jelas, Ayara tahu kalau itu mobil milik Arion karena laki-laki itu baru saja membuka pintu dan keluar dari mobilnya. Mungkin untuk memudahkan Ayara mencari keberadaan Arion. Siang ini Arion tampak begitu rapi dengan kemeja panjang berwarna navy yang bagian lengannya di gulung sebatas sikut, di tambah celana kain berwarna hitam begitu juga sepatu yang ia kenakan senada dengan celananya. Rambutnya sedikit berantakan tapi itu tak membuat kadar ketampanan Arion menurun. Ayara sudah berada di hadapan Arion yang melipat kedua tangannya sambil bersandar di pintu mobil. Gadis itu menampilkan wajah kesal membuat Arion ingin sekali tertawa namun masih dapat ia tahan. Arion tahu bahwa Ayara kesal padanya karena menjemput dia di kampus secara tiba-tiba. Hal ini karena permintaan Ibunya yang ingin makan siang bersama dengan calon menantu di rumah mereka, membuat Arion harus mencuri sedikit waktu untuk gadis di hadapannya ini. “Ngapain pake jemput segala? Aku enggak minta jemput sama Kakak.” ucap Ayara sewot. Gadis ini memang tak terduga, Arion pikir Ayara adalah gadis yang pendiam dan lembut karena ia melihat saat pertama kali mereka bertemu di restoran Ayara tak banyak bicara di banding kedua sahabatnya saat itu. Tetapi dugaan dia salah, karena Ayara sebenarnya adalah gadis yang ceria dan bisa di katakan cerewet. Hal tersebut sudah dapat Arion temui selama mereka saling mengenal beberapa minggu ini setelah makan malam waktu itu. “Mama mau makan siang sama kamu,” balas Arion kemudian masuk ke dalam mobil kembali. Ayara yang melihatnya lagi-lagi di buat kesal, kenapa laki-laki itu selalu saja melakukan hal yang seenaknya bahkan selama mereka saling mengenal tak pernah sekalipun Ayara merasa istimewa saat bersama dengan Arion. Misalnya dengan di bukakan pintu samping kemudi olehnya, percayalah hal itu hanya ada dalam novel yang Ayara baca saja, tidak di dunia nyata dan dalam hidupnya. Sepanjang perjalanan menuju rumah Arion, keheningan menyelimuti keduanya di dalam mobil ini. Ayara juga fokus pada handphone sedari tadi karena sedang bertukar cerita dengan kedua sahabatnya di grup chat mereka. Dua sahabatnya itu bertanya ia pulang bersama siapa dan minta maaf karena mereka tak bisa menemani Ayara tadi saat kelas sudah selesai. Ayara pun membalas kalau dia di jemput oleh si robot, nama yang ia khususkan untuk memanggil Arion jika bersama dengan sahabatnya. Ya si robot karena bagi Ayara pekerjaan Dokter selalu harus siap 24 jam jadi dia menyebut Arion seperti itu. “Turun gak.” Ucapan Arion membuat Ayara mengalihkan perhatiannya dari layar handphone. Dia menatap ke sekeliling ternyata sudah sampai di rumah Arion. Tadi dia terlalu asyik chatting dengan kedua sahabatnya membuat ia tak sadar sudah sampai tujuan. Seperti biasa Arion lebih dulu keluar dari mobil kemudian Ayara menyusul laki-laki itu dan berjalan di belakangnya. Arion tiba-tiba menarik tangan Ayara membuat gadis itu berjalan di sampingnya, tanpa mereka sadari bahkan sampai di dalam rumah kedua tangan mereka masih saling berpegangan. Mereka berjalan menuju ruang tengah di mana ada Zea dan juga Zoel di sana. “Ma..!! Kak Yara udah dateng ni..!!” teriak Zea setelah melihat Kakaknya datang bersama dengan calon Kakak iparnya. “Gandengan terus ya, Ze,” celetuk Zoel yang menyadari tangan sang Kakak begitu erat menggenggam tangan gadis di sampingnya. Seolah tersadar dengan ucapan adiknya Arion pun perlahan melepas genggaman mereka dan Ayara berjalan lebih dulu bergabung dengan Zea dan Zoel. “Wahh.. calon mantu Mama akhirnya udah dateng. Mama tadi nungguin kamu lho.” Tika yang berajalan menghampiri anak-anaknya menyambut Ayara dengan senang hati. Ia memang sangat menunggu kedatangan calon menantunya ini untuk makan siang bersama di rumah mereka. “Maaf ya, Tante. Tadi masih ada kelas,” ucap Ayara. “Aduh.. kan udah Mama bilang, panggil Mama bukan Tante. Sebentar lagi kan kamu jadi bagian dari keluarga kami, jadi anak Mama juga,” protes Tika membuat Ayara mengangguk dengan tersenyum kecil. “Ah Iya, belum biasa, M-Ma..” “Harus di biasain.” “Pelan pelan kali, Ma,” timpal Zoel. “Ya udah kita makan siang sekarang yuk, Mama udah masak tadi spesial buat kamu.” “Sampe ngerepotin gitu, Ma. Padahal aku bisa bantu kan, kenapa gak tungguin aku aja.” “Gak pa-pa, nanti kan bisa masak bareng kalau ke sini lagi.” Ayara mengangguk kemudian mereka pun menuju ruang makan dan menikmati makan siang bersama. Ayara duduk tepat di samping Arion bahkan tadi Tika meminta Ayara untuk mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Arion katanya agar mereka terbiasa jika nanti sudah berumah tangga. Mau tidak mau Ayara pun menuruti kemauan Tika meski ada tatapan protes dari Arion namun Tika seolah tak menyadari itu semua.   *** “Jadi Kakak pinter ngelukis dong. Zea mau deh jadi modelnya,” ucap Zea pada Ayara. Setelah makan siang bersama tadi Ayara memang masih berada di rumah Arion, sementara laki-laki itu sudah kembali ke rumah sakit meninggalkan Ayara di sini bersama dengan keluarga Arion. Kali ini Ayara bersama dengan Zea dan Zoel di ruang tengah, tadi Tika pergi keluar untuk bertemu dengan temannya dan Ayara pun memang tak ada kegiatan lagi jadi memilih untuk di sini sebentar mencoba akrab dengan kedua adik Arion meski sebenarnya mereka sudah di katakan cukup dekat apalagi Zea dan Ayara yang ternyata sama-sama pecinta oppa korea membuat Zea seolah memiliki Kakak perempuan dan hal itulah mereka menjadi semakin dekat. “Jangan deh, Kak. Yang ada kalau Zea jadi modelnya konsentrasi Kakak buyar, bukannya gambar bagus eh malah berantakan.” “Heh..!! Sembarang aja, masa gambar modelnya gue amburadul,” balas Zea memukul punggung sang kembaran cukup kencang membuat Zoel meringis karena pukulan itu. Ayara yang melihat si kembar beradu mulut hanya terkekeh, dia merasa senang mengenal si kembar apalagi selama ini dia tidak memiliki adik dan keberadaan si kembar Zea Zoel seolah membuat mimpinya terwujud untuk memiliki adik. “Bisa, nanti Kakak gambar kamu. Tapi kamu harus tahan aja kalau lagi jadi modelnya.” “Ah gampang kalau itu, kan tinggal fose rebahan aja.” Zea tertawa. “Yeu.. itu sih gue juga bisa, dodol..!” “Aduh.. kalian enggak bisa akur banget sih.” “Enggak..!” jawab si kembar kompak. “Eh kompak bener.” “Idih.. ogah kompakan sama dia,” ucap Zea. “Lah gue juga ogah kompak sama lo” balas Zoel tak mau kalah. Ayara yang melihat hal tersebut menggelengkan kepala, kenapa mereka tak bisa akrab padahal kembar. Selalu saja ada hal yang membuat mereka beradu mulut tapi meski begitu Ayara tahu kalau si kembar saling menyayangi satu dengan yang lainnya. Pertengkaran kecil di antara mereka malah membuat persaudaraan mereka semakin erat. Begitu yang Ayara tangkap selama mengenal si kembar sampai sejauh ini. Akhirnya mereka pun kembali menonton film dan menikmati waktu mereka bertiga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN