Bagian 9 : Pameran

1947 Kata
Pameran Seni Budaya yang di adakan hari ini oleh Ayara bersama dengan Mahasiswa lainnya dari jurusan Seni dan Budaya. Dari pagi Ayara sudah berada di kampus karena menjadi bagian dari panitia penyelenggaraan pameran tersebut. Ayara dan Joanna berada di divisi yang berbeda karena Joanna lebih memilih untuk bergabung dengan divisi acara sementara Ayara bergabung dengan divisi publikasi dan dokumentasi. Renata sendiri bukan mahasiswa jurusan Seni dan Budaya karena itu dia akan pergi ke kampus agak siang, itu yang ia katakan di grup chat mereka bertiga. Ayara tengah memotret suasana yang terjadi di sekitaran pameran ini, salah satu lukisan karya dirinya juga di pajang di pameran hari ini, lukisan yang sudah ia buat selama dua minggu dan merupakan lukisan yang mengambil pemandangan salah satu tempat di kota Bandung, dengan objeknya berupa Masjid Raya Kota Bandung. Ada juga lukisan wajah Zea, ya meski ucapan Zea waktu itu terkesan main-main nyatanya Ayara menjadikan Zea sebagai model dari objek lukisannya. Bahkan gadis itu tak mengetahui hal ini karena Ayara mengambil foto dari akun media sosial milik Zea. Sebenarnya bukan tanpa alasan juga, lukisan ini nanti akan ia berikan pada Zea yang sebentar lagi berulang tahun. “Yara..” panggil seseorang membuat Ayara menoleh ke belakang di mana suara itu berada. Seorang laki-laki berkemeja kotak-kotak hitam tengah berjalan ke arahnya. Dia adalah Satria yang tak lain merupakan salah satu seniornya di jurusan Seni. “Ada apa, Kak?” tanya Ayara setelah Satria berada di hadapannya. “Ada yang mau beli lukisan lo,” ucap Satria pada Ayara. “Lah bukannya kita enggak jual lukisan yang di pamerin ya. Kan ini acara pameran biasa bukan bazar,” balas Ayara dengan alis mengerut. “Sebenernya boleh aja kalau ada yang minat, tapi ijin dari si pemilik lukisan. Beberapa punya mahasiswa lain juga malah ada yang di beli sama dosen.” “Emang lukisan yang mana, Kak?” tanya Ayara mengingat lukisan karya nya ada dua buah. “Yang wajah cewek.” “Aduh.. Jangan deh, itu buat pajangan aja. Lagian mau gue kasih ke orang lain. Mending yang Masjid Raya aja.” “Orangnya pilih lukisan wajah, lo samperin sana. Anak-anak kan enggak bisa putusin gitu aja.  Itu lukisan punya lo.” “Oke, bentar. Nanti gue ke sana,” ucap Ayara membuat Satria mengangguk paham. Kemudian laki-laki itu kembali ke stand lukisan jurusannya. Ayara pun menyusul Satria yang sudah lebih dulu pergi, dalam hati ia terus bertanya-tanya kenapa harus lukisan wajah Zea yang malah ada yang ingin membeli. Itu kan termasuk koleksi pribadi, lagi pula dia memamerkan lukisan itu bukan untuk di jual. Karena jumlah lukisan yang akan di pamerkan kurang jadi mau tak mau lukisan itu yang ikut di pajang bersama lukisan yang lainnya. Sesampainya di stand Seni Lukis, Ayara terdiam di tempatnya saat ini. Ia mengenal bahkan hanya melihat punggungnya saja, ia sudah tahu kalau yang berdiri dekat lukisan miliknya adalah Arion, ya calon suaminya. Ayara pun menghampiri laki-laki itu. “Kak Arion,” panggilnya membuat laki-laki yang begitu serius memperhatikan setiap detail lukisan Ayara menoleh ke arah samping. “Jadi ada apa Kakak ke sini?” tanya Ayara. “Lihat doang.” “Kata Kak Satria, ada yang mau beli lukisan ku jadi itu Kakak?” “Satria?”                 “Iya, ini seniorr aku,” Ayara menunjuk laki-laki yang berdiri di hadapan Arion. Satria tersenyum ramah, meski ada banyak pertanyaan yang mampir di pikirannya, pertanyaan tentang siapa laki-laki yang berada di hadapannya ini dan apa hubungan Ayara dengan laki-laki ini? Setahu dia Ayara memang memiliki Kakak laki-laki tetapi dia cukup kenal dengan Dokter Bima yang merupakan Kakak Ayara. Karena Dokter Bima pernah memeriksa adiknya yang tengah sakit waktu itu. “Ini lukisan kamu?” tunjuk Arion pada lukisan yang sedari tadi ia perhatian. Apalagi lukisan ini mirip sekali dengan salah satu adik kembarnya. Zea. Membuat Arion penasaran dan ingin membeli lukisan tersebut, ia tak menyangka bahwa lukisan ini karya calon istrinya. “Iya, tapi aku enggak mau jual lukisan ini.” “Mirip Zea.” “Memang, ini aku bikin buat dia. Sebentar lagi kan dia ulang tahun.” Arion menganggukkan kepala, “Aku beli nanti juga kan buat hadiah.” “Enggak mau, ini hadiah dari aku khusus buat Zea. Kakak beli aja sendiri lukisan yang lain buat hadiah Zea.” Balasnya. “Ck.. ya udah kalau gitu kamu temenin aku makan di kanti kampus ini,” ucap Arion menarik tangan Ayara bahkan gadis itu belum sempat menjawab permintaan Arion. Kepergian Ayara bersama dengan Arion membuat Satria yang sedari tadi melihat interaksi mereka kembali bertanya dan semakin penasaran dengan hubungan Ayara dan juga laki-laki tersebut.   *** Ayara dan Arion sudah berada di salah satu kantin dan laki-laki itu juga sedang makan menu yang tadi di pesannya sementara Ayara hanya memesan segelas jus jeruk tanpa berniat untuk makan seperti Arion. Dia masih jengkel dengan apa yang di lakukan oleh laki-laki yang tengah menyantap nasi dan ayam di hadapannya ini. Bagaimana tidak, Arion yang sayangnya adalah calon suaminya ini selalu saja seenaknya sendiri padahalkan sekarang Ayara sedang sibuk di acara kampusnya tapi Arion malah menarik dia ke kantin tanpa mendengar jawaban dari mulutnya. “Kakak kenapa ke sini sih?” tanya Ayara yang sedari tadi diam. Akhirnya ia mengeluarkan suaranya setelah menahan kekesalan dalam hatinya. “Main.” “Enggak ada kerjaan banget sih, harusnya kan Kakak di rumah sakit ngapain main segala ke sini.” “Emang kampus ini punya kamu?” “Bukan.” “Terus kenapa kamu larang aku ke sini?” “Ya.. itu.. karena.. ah udah deh makan aja sana.” “Yang ngajak bicara duluan siapa.” Ayara semakin kesal mendengar perkataan Arion, ia pun memilih untuk menutup mulutnya dan membiarkan Arion makan dengan tenang. Arion selesai dengan makanannya, laki-laki itu pamit untuk kembali ke rumah sakit kembali. Dalam hati Ayara menggerutu kenapa tidak tadi saja laki-laki itu pergi dan ke rumah sakit. Mengganggu dia saja. Setelah Arion berpamitan Ayara pun kembali dengan tugasnya sebagai juru potret dalam acara ini. Sekarang sudah waktunya makan siang, ia pun bergegas mencari Joanna untuk makan bersama, Renata juga sudah mengabarkan bahwa gadis itu baru saja sampai di kampus.   *** Arion baru saja masuk ke dalam ruangannya di rumah sakit tempat ia bekerja. Ia tersenyum kecil mengingat bagaimana ekspresi Ayara tadi yang terlihat kesal saat tahu dirinya datang ke kampus dan melihat pameran yang sedang di selenggarakan kampus tempat Ayara menuntut ilmu.  Sebenarnya ia tak bermaksud untuk bertemu dengan Ayara, ia hanya menemui temannya saja yang saat ini menjadi dosen di kampus Ayara namun setelah berada di kampus itu dan bertemu dengan temannya, ia penasaran dengan acara yang sedang berlangsung di sekitar kampus ini. Akhirnya ia pun melihat acara tersebut yang ternyata pameran lukisan dan juga beberapa kesenian lainnya yang di selenggarakan oleh mahasiswa jurusan Seni dan Budaya. Arion pun melihat lukisan yang di pajang di salah satu stand sampai matanya melihat dua lukisan Masjid Raya dan wajah seorang gadis yang begitu familiar. Lalu ia melihat coretan kecil di bawah lukisan tersebut, ada nama Kavya, ia tak menyadari akan hal itu sampai Ayara datang dan memberitahu kalau lukisan itu karya dirinya. Arion cukup terkejut mengetahui bahwa lukisan yang begitu indah itu ternyata hasil tangan dari si cerewet yang merupakan calon istrinya. Tok..tok.. tok..Suara pintu ruangan membuat lamunan Arion akan kejadian tadi di kampus buyar. Ia pun menatap ke arah pintu yang saat ini sudah terbuka sedikit. Seorang suster masuk ke dalam ruangannya. “Dokter, pasien ruang Anggrek sudah sadar,” ucap Suster tersebut membuat Arion beranjak dari kursinya dan meraih jas putih kemudian keluar dari ruangannya untuk memeriksa kondisi pasiennya yang beberapa waktu lalu menjalani operasi pencangkokan jantung.  Arion berjalan dengan cukup cepat ke ruangan Anggrek yang tadi di sebutkan oleh suster. Langkah cepatnya memang di butuhkan di saat kondisi seperti ini karena seorang Dokter harus cepat tanggap dalam melakukan segala sesuatu yang berhubungan dengan medis, namun juga tak terburu-buru dalam mengambil keputusan. Di sisi lain.. Ayara bernapas lega karena acara pameran yang di adakan oleh ia dan teman-temannya baru saja selesai dan berjalan dengan lancar. Bahkan ada banyak lukisan yang malah terjual termasuk dengan lukisan Masjid Raya miliknya.  Uang yang di hasilkan dari penjualan lukisan tersebut akhirnya akan di sumbangkan ke salah satu panti asuhan yang berada di sekitar kampusnya setelah ia dan panitia lain berdiskusi dan mengambil keputusan tersebut. Sebagian lagi mereka gunakan untuk makan bersama sebagai hadiah untuk panitia yang sudah bekerja dengan keras dalam acara hari ini dan di sinilah mereka sekarang, di salah satu tempat makan padang untuk merayakan keberhasilan acara mereka.  Kursi-kursi yang ada di rumah makan ini hampir setengahnya di isi oleh mereka karena memang panitia acara tadi cukup banyak, bahkan Renata yang tak menjadi bagian dari mereka pun ikut bergabung karena Ayara dan Joan yang memintanya. Mereka pun makan dengan di temani obrolan hangat sesama panitia, dari obrolan serius sampai ke hal hal yang tidak penting seputaran perkuliahan mereka. Ayara dan kedua sahabatnya hanya menyimak namun sesekali juga mengeluarkan suara mereka. Cukup lama mereka berada di sana sampao akhirnya satu per satu dari mereka pamit pulang menyisakan Ayara, Joan, Renata, Satria dan beberapa panitia lain yang masih asik mengobrol. Satria menghampiri Ayara saat mereka keluar dari rumah makan, sejujurnya selama ini ia begitu mengaggumi sosok Ayara yang merupakan junior di jurusannya. Ayara yang mandiri, pintar dan cekatan membuat Satria menyukai gadis itu.  Rasa kagum berubah menjadi tertarik dan kemudian suka. Namun laki-laki itu masih tak berani untuk menyatakan perasaannya pada gadis yang saat ini berada di sampingnya, setidaknya mereka pendekatan lebih dulu itu menurutnya. “Pulang sama siapa?” tanya Satria pada Ayara yang tengah menatap laya handphonenya. Ayara yang mendengar suara Satria pun mendongak menatap laki-laki yang entah sejak kapan ada di sampingnya. “Gue naik taksi online, Kak.” Jawab Ayara. “Ra, gue duluan. Dito udah jemput tu, lo yakin gak ikut kita?” tanya Joan setelah melihat mobil kekasihnya berhenti di pinggir jalan tak jauh dari rumah makan ini. “Nggak deh, gue naik taksi aja. Lagian arah rumah kita kan beda.” “Oke, gue duluan kalau gitu. Ren, lo kapan balik?” “Supir gue lagi di jalan, bentar lagi juga nyampe.” “Kalau gitu gue duluan bye guys, gue duluan Kak Sat,” ucap Joan pamit pada mereka termasuk pada Satria yang memanggil laki-laki itu ‘Kak Sat’ bahkan sering kali di plesetkan menjadi ‘Keset’ untung saja gadis itu sepupunnya yang memang sudah begitu kelakuan dia. “Eh supir gue juga udah ada tu, lo mau ikut gak? Nanti Pak Ujang anterin lo ke rumah,” tawar Renata. “Gak usah, taksi online gue juga lagi di jalan. Kasian kalau gue cancel.” Renata mengangguk, “Gue duluan, Ra. Kak pamit ya.” ucapnya. Setelah kedua sahabatnya pulang, Ayara masih di temani dengan Satria. Laki-laki itu memang sengaja menunggu Ayara di sini sampai taksi yang gadis itu pesan datang. “Yah.. malah di cancel.” Gumam Ayara yang masih bisa di dengar oleh Satria. “Gua anterin aja, Ra.” Tawar Satria akhirnya, ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan seperti ini. “Gak usah, Kak. Gue bisa pesen lagi taksi.” “Udah, ayo. Nanti kesorean, gue juga bawa helm dua kok.” Lama terdiam menimbang-nimbang tawaran seniornya, Ayara pun akhirnya mengangguk setuju lagi pula langit kota Bandung mulai mendung kalau tak cepat pulang bisa bisa malah kesorean dan hujan deras. Apalagi beberapa hari ini memang sering hujan saat menjelang malam.  Ayara pun mengikuti Satria ke arah motor yang berada di parkiran, dalam hati Satria begitu bahagia karena bisa mengantar gadis pujaannya untuk pulang ke rumah. Hari ini akan selalu dia ingat dan menjadi hari spesial untuknya, semoga ada kesempatan lain dan mereka bisa semakin dekat, begitulah doanya dalam hati. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN