Bagian 10 : Cincin

1291 Kata
“Makasih ya, Kak,” ucap Ayara setelah turun dari motor Satria. Mereka sudah berada di rumah Ayara. “Yoi, sama-sama,” balas Satria tersenyum lebar. “Masuk dulu, Kak,” ajak Ayara sekedar basa basi. “Lain kali aja, gue langsung balik ya takut keburu hujan,” ucap Satria pada Ayara.  Langit memang sudah terlihat mendung, bahkan tadi Satria melajukan motornya agak cepat agar gadis yang dia bonceng cepat sampai di rumahnya tanpa kehujanan. Kalau urusan sekarang biarlah jika memang hujan turun. Ayara mengangguk, “Sekali lagi makasih ya, Kak.”, ucapnya. “Iya, sampai jumpa besok.” Lalu motor Satria melaju menjauhi halaman rumah Ayara. Gadis itu pun segera memasuki rumah sebelum hujan turun karena sudah mulai rintik-rintik. Ayara mengucapkan salam dan berjalan ke dalam rumah, terlihat Ibunya yang sedang menonton televisi. Sarah yang menyadari langkah kaki seseorang menatap ke arah samping, ternyata anak gadis nya sudah pulang. “Pulang sama siapa?” tanya Sarah pada Ayara. “Sama temen, Bun.” “Cewek atau cowok?” “Cowok. Senior Yara di kampus,” balasnya dan Sarah mengangguk mengerti.  Sarah memang selalu bertanya dengan siapa anak gadisnya berteman, agar dia tahu dan Ayara juga tahu batasan. “Yara ke atas dulu, Bun.”  Kemudian Ayara berjalan ke arah kamarnya, seharian ini tenaganya benar-benar terkuras habis. Meski acara di kampusnya tadi hanya acara sederhana saja tetapi tetap saja yang namanya pameran membuat dia kelelahan, belum lagi beberapa hari sebelum pameran di adakan dia juga sibuk mempersiapkan pameran tersebut bersama dengan teman-teman satu jurusannya namun semua terbayar saat beberapa koleksi lukisan yang mereka pajang nyatanya menarik minat pembeli. Berada di kamar, Ayara menyimpan tas di atas meja belajarnya kemudian segera masuk ke dalam kamar mandi karena badanya sudah begitu lengket. Kali ini tak ada tugas yang harus ia kerjakan membuat ia bisa lebih santai atau mungkin menonton drama korea yang belum sempat ia tonton sampai selesai. Menghabiskan waktu sekitar lima belas menit, akhirnya Ayara keluar dari kamar mandi ia juga sudah berganti pakaian dengan kaos berbahan tipis dan celana selututnya.  Ia naik ke atas tempat tidur, merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit di kamarnya kemudian matanya terfokus pada cincin yang tersemat di jarinya, cincin pertunangannya dengan Arion. Sebenarnya mereka belum melakukan pertunangan tapi memang Kedua orang tua mereka yang menginginkan Ayara dan Arion memakai cincin tersebut, entah apa tujuannya. Aneh bukan. “Masih kaya mimpi,” gumamnya. *** Arion menatap cincin yang tersemat di jarinya, ia terus memandangi cincin tersebut. Cincin yang sengaja orang tuanya berikan sebagai tanda pengikat antara dirinya dan Ayara sebelum mereka melangsungkan pertunangan secara resmi.  Awalnya Arion menolak karena untuk apa juga memakai cincin ini kalau belum mengadakan acara pertunangan tapi kekuatan bujuk rayu dari Ibunya berhasil membuat Arion menyetujui apa yang di inginkan oleh Ibunya.  Ia pikir di masa depannya nanti dia akan bertunangan kemudian menikah dengan kekasihnya namun ternyata takdir berkata lain, ia malah bertunangan dengan wanita pilihan Ibunya yang kelak akan menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya.  Arion tidak menyesal dengan apa yang sekarang terjadi namun ia merasa masih begitu asing dengan apa yang sekarang di hadapinya, semua terlalu tiba-tiba baginya dan mungkin juga bagi calon istrinya. Beranjak dari tempat tidurnya, Arion memilih untuk keluar dari kamar. Perutnya lapar dan suasana di luar sedang hujan pas untuk dia membuat mie rebus dengan sayur dan telur. Ia pun menuruni tangga menuju dapur untuk memasak mie. “Lagi apa?” tanya Arion pada Zea yang tengah berjinjit untuk mengambil sesuatu dari lemari di dapur. “Abang..! bikin kaget,” ucap Zea menatap sang Kakak. “Ngapain?” “Ambil mie, aku sama Zoel mau masak mie.” “Boleh dong, bikin buat Abang.” “Ih.. bantuin, Zoel nyuruh masa Bang Arion juga tega nyuruh aku mentang-mentang aku adik kalian,” protes Zea dengan wajah yang di tekuk. “Panggil Zo sana, bilang masak mie sendiri kata Abang.” Zea mengangguk kemudian segera menghampiri Zoel yang sedang bermain game di ruangan tengah. Sementara Arion memilih untuk menyalakan kompor dan memasak air untuk merebus mie. Tak lama Zea kembali ke dapur bersama dengan Zoel yang berjalan di belakangnya. “Kan lagi seru main game, Bang,” ucap Zoel duduk di kursi. “Biar cepet, semuanya jadi kerja sama.” “Bikin mie doang sampe tiga orang.” “Ya udah kalau gak mau, biar Abang sama Zea aja yang makan.” “Eh.. jangan dong, iya mau. Mana sini tugas aku ngapain?” “Tuangin aja semua bumbunya, Zea iris sosis sama sayuran yang ada di kulkas. Biar enak nggak cuma mie sama telor doang,” ucap Arion memberi perintah pada adik kembarnya.  Zea dan Zoel mengangguk kompak kemudian melakukan apa yang sudah Kakaknya perintahkan. Arion sendiri yang memasak mie untuk mereka. Beberapa menit kemudian mie yang mereka masak akhirnya jadi, Arion pun mengajak si kembar untuk makan bersama di ruang tengah sambil menonton televisi. Di luar hujan turun semakin deras membuat suasana begitu pas dengan mie berkuah yang menggugah selera.  Mereka memang sedang bertiga di rumah karena kedua orang tua mereka baru saja berangkat ke rumah Kakek dan Nenek mereka untuk memberitahu perihal acara pertunangan Arion dan juga Ayara. “Bang, gimana Kak Ayara?” tanya Zea di sela sela makannya. “Gimana apa?” “Ya orang nya, cantik baik perhatian atau apa, ish gitu aja gak ngerti.” “Biasa aja.” “Hah? Masa biasa aja? Kalau aku jadi Abang ya, beruntung banget deh punya calon istri kaya Kak Yara, udah cantik baik terus jago masak juga. Waktu itu kita pernah di kasih masakan bikinan dia, iya kan Ze?” ucap Zoel yang di angguki oleh Zea. “Abang belum ada perasaan apa-apa sama Kak Ayara?” “Kalian kepo banget sih.” “Yah.. kita kan penasaran, Bang.” “Udah abisin makanan kalian keburu dingin. Itu urusan Abang, anak kecil gak usah ikut campur.” “Kita udah SMA kali, masa masih anak kecil terus,” gerutu Zea. *** “Dek, besok cari cincin ya sama Arion,” ucap Sarah pada Ayara, mereka baru saja selesai makan malam dan sedang membereskan bekas makan tadi. Ayara yang tengah mencuci piring menatap sang Ibu dengan heran. “Cincin apa, Bun?” tanya Ayara. “Ya buat acara pertunangan kalian nanti.” “Kan ini udah aku pake.” “Itu kan simbol doang, sekarang buat acara resminya. Pokoknya besok kalian cari cincin berdua. Bunda juga udah ngomong sama Tante Tika buat kasih tahu Arion.”  Mau tak mau Ayara hanya bisa mengangguk mengiyakan apa yang di katakan Ibunya. Selesai mencuci piring, dia segera masuk ke dalam kamar. Malam ini ia harus mengerjakan tugas kuliahnya padahal tadi ia pikir tak ada tugas tapi salah satu temannya mengabari kalau Dosen yang tak masuk saat tadi di kelasnya memberikan tugas susulan dan baru di kirim tadi sore.  Setelah berada di kamar ia pun sudah duduk di meja belajarnya dan fokus pada laptop juga buku yang tadi memang ia ambil dari rak buku di sudut kamarnya. Malam ini tugasnya harus selesai. Akhirnya tugas Ayara selesai, dia pun berajak dari meja belajar dan segera merebahkan diri di atas tempat tidurnya, setelah sebelumnya dia mencuci muka dan menggosok gigi.  Hujan masih saja belum reda membuat suasana malam ini begitu dingin, padahal ia sudah mengenakan selimutnya.  Ayara masih belum memejamkan matanya, ia bersandar di tempat tidur sambil memainkan handphonenya, menonton film lewat aplikasi. Kemudian ada sebuah notif pesan masuk, dari layar handphonenya sudah tertera nama Arion.  Arion : Besok cari cincin, sore. Ternyata laki-laki itu sudah di beritahu oleh Ibunya, baguslah jadi ia tak perlu berpikir keras bagaimana cara mengajak Arion untuk mencari cincin.  Ayara pun segera membalas pesan dari Arion, setelah itu menyimpan handphone di atas meja sebelah tempat tidurnya, ia berusaha memejamkan mata sampai akhirnya ia pun terlelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN