Arion menuruni tangga rumah ini, ia sudah memakai pakaian simple. Pakaian berkerah warna hitam dan juga celana jeans, tak lupa dia juga membawa ransel kecil yang berisi sepatu futsal dan juga pakaian olah raga.
Siang ini karena tidak ada jadwal praktek di rumah sakit, pun juga merupakan hari minggu. Arion biasanya pergi bermain futsal bersama dengan teman-temannya sesuai jadwal yang sudah di tentukan. Olah raga yang dia sukai dan sering kali dia lakukan bersama dengan yang lain setiap pekan.
Berada di undakan tangga paling bawah, Arion melihat Ibunya sedang bersama Zea yang wajahnya terlihat begitu serius dari samping, dengan tatapan ke arah rajutan di tangan. Setahu Arion adik kembarnya itu memang tengah ada tugas membuat kerajinan dari benang rajut.
“Ma, Arion pergi dulu,” pamit Arion setelah posisinya kali ini dekat dengan sang Ibu.
“Mau kemana?” tanya Kartika melihat anak sulungnya yang baru saja turun dari kamar sudah rapi dengan pakaian santainya.
“Biasa, futsal bareng teman,” balas Arion.
“Kalau gitu kamu sekalian ajakin Yara ya, biar kenal sama temen-temen kamu,” Kartika mengingat calon menantunya itu.
“Nanti deh, Ma. Kan bukan mau main juga. Yang ada dia bosan nungguin aku di tempat futsal.”
“Nggak, kan ada pacar Dito. Dia ada kan main futsal juga,” ucapnya seolah tidak ingin di bantah, sementara Arion mengembuskan napas perlahan. Bukan ingin menolak saran dari Ibunya tetapi dia juga tidak ingin Ayara nanti kebosanan di sana karena menunggu dia yang bermain futsal. “Sekalian hari ini kan beli cincin, jadi kalian tambah deket,” lanjut Tika pada Arion. Akhirnya laki-laki itu mengangguk dan berpamitan kepada Ibunya.
Arion sebenarnya akan memakai sepeda motornya tetapi karena akan pergi bersama Ayara akhirnya ia pun memutuskan untuk berangkat dengan menggunakan mobil. Setelah masuk ke dalam mobil dan menyimpan tas miliknya di kursi belakang ia pun mulai melajukan mobil meninggalkan halaman rumahnya, pergi menuju rumah Ayara untuk menjemput gadis itu dan tentu saja tanpa mengabarinya lebih dulu.
Kebiasaan Arion.
***
Ayara sedang menonton televisi sambil memakan puding yang tadi pagi ia buat. Puding rasa taro yang amat dia sukai.
Hari minggu seperti ini memang paling enak bersantai di rumah apalagi di siang hari yang begitu terik seperti saat ini, keluar rumah pun rasanya enggan.
Ting tong. Baru saja ia menyuapkan satu sendok terakhir puding, suara bel rumah membuat ia menoleh ke arah pintu dan wajahnya tampak mengernyit, siapa yang datang di siang hari ini.
Ayara tak ada janji dengan siapa pun dan di rumah hanya ada dia saja karena Ibunya baru pergi ke undangan salah satu teman lalu Bima sedang jalan bersama Sania -kekasihnya.
Dengan rasa malas karena merasa acara berleha-lehanya terganggu, ia pun beranjak dan berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang ke rumahnya.
Membuka pintu Ayara melihat seorang laki-laki yang berdiri di hadapannya, mata laki-laki itu seolah meneliti dirinya dari atas sampai bawah kemudian Ayara menatap adakah yang salah dengan bajunya, Ayara terbelalak saat ia baru saja menyadari kalau saat ini ia tengah memakai celana pendek yang hampir tertutup oleh pakaian yang ia kenakan.
“Kak Arion!!!!” teriaknya membalikan badan memunggungi laki-laki yang merupakan calon suaminya itu.
Wajahnya mulai memerah ia begitu malu karena berpenampilan seperti ini di depan laki-laki lain selain Kakaknya. Meskipun Arion itu calon suaminya sendiri tetapi kan masih calon bukan suami.
“Masuk.!” ucap Arion dengan penuh penegasan menyuruh Ayara.
Arion tampaknya benar-benar kesal pada gadis yang saat ini sedang membelakanginya, bagaimana tidak gadis itu memakai pakaian seperti ini.
Apa Ayara tidak malu jika saja orang lain yang melihatnya. Untung saja saat ini hanya dia saja melihat penampilan Ayara, walaupun mereka belum resmi menjadi suami istri setidaknya dia calon suami Ayara jadi tak masalah kan, meski jujur saja ada perasaan aneh saat dia melihat gadis itu dengan penampilan yang begitu berbeda.
Selama ini Arion selalu melihat Ayara dengan penampilan yang begitu tertutup bukan menampilkan pahanya seperti sekarang ini. Bagaimana pun Arion laki-laki.
“Ngapain suruh aku masuk, Kakak juga ngapain sih ke rumah.,” protes Ayara masih tak melihat ke arah Arion.
Laki-laki itu mengembuskan napas pelan, “Nanti orang lain lihat, masuk dulu.” Arion kemudian mendorong bahu gadis di hadapannya ke dalam rumah.
“Kakak juga lihat, Kak Arion juga kan orang lain,” balas Ayara namun tetap melangkah masuk dengan bahu yang di dorong oleh Arion.
“Aku calon suami kamu.”
“Masih calon,” gumam Ayara.
Kali ini mereka sudah berada di ruang tengah, Ayara duduk dengan memegang bantal yang menutupi tubuhnya namun tetap saja masih bisa di lihat oleh Arion, kaki jenjang gadis itu yang begitu putih. Beberapa kali laki-laki itu memejamkan mata kenapa dia bisa berada di situasi seperti ini.
“Pada ke mana?” tanya Arion.
“Pergi. Bunda ke kondangan, Kak Bima jalan sama pacarnya.”
“Ya udah ganti baju sana.”
“Emang mau ke mana?”
“Ikut aku ke tempat futsal, abis itu kita cari cincin.”
“Males, kan Kakak bilang sore baru cari cincinnya.”
“Biar sekalian, sana cepet!”
Akhirnya Ayara mengangguk dan berjalan ke arah kamarnya karena ia yakin kalau tetap menolak ajakan laki-laki itu maka Arion tetap dengan pendiriannya karena selama mengenal Arion sampai sekarang bisa di simpulkan bahwa Arion adalah laki-laki yang sulit di bantah, jika ia bilang A maka kita harus mengiyakannya.
Arion memainkan handphonenya sambil menunggu Ayara selesai berganti pakaian. Suara mobil terdengar dan tak berapa lama seseorang masuk sambil mengucapkan salam.
Arion menoleh ke arah pintu rumah ini terlihat Bima dan seorang gadis yang berjalan beriringan, Arion sudah mengenal kekasih Bima beberapa waktu lalu.
Bima yang menyadari keberadaan Arion menatap rekan kerjanya itu dengan penuh tanya. “Tumben lo ke sini,” ucap Bima tanpa basa-basi. Kemudian duduk di hadapan Arion bersama dengan kekasihnya.
Wanita itu tersenyum ramah pada Arion yang di balas dengan anggukan singkat oleh laki-laki itu.
“Jemput adek lo lah, ngapain lagi,” balas Arion terdengar sewot.
“Biasa aja kali. Emang mau ke mana?" tanya Bima kepo.
“Futsal.”
“Hah? Serius! Lo ngajakin adek gue ke tempat futsal?" Bima tampak terkejut, jelas karena selama ini Bima saja sebagai Kakaknya yang pernah mengajak gadis itu untuk menemani dirinya bermain futsal mendapatkan penolakan secara tegas.
Ayara bilang malas hanya diam duduk sambil menonton futsal lebih baik dia di rumah saja menonton drama korea. Tetapi sekarang Arion yang mengajak, kenapa gadis itu mau mau saja,.
Apa hubungan Ayara dengan calon suaminya ini berjalan lancar? Kalau begitu bagus bukan.
Arion mengangguk singkat membalas pertanyaan dari Bima. Lalu tak lama Ayara bergabung dengan mereka di ruangan tengah sudah mengganti pakaiannya.
“Kak Sania..!! Udah lama banget gak ketemu, kangen,” ucap Ayara saat melihat kekasih kakaknya berada di rumahnya, gadis itu memeluk Sania yang merupakan kekasih Bima dengan erat.
Mereka memang sudah cukup lama tak bertemu mengingat pekerjaan Sania akhir-akhir ini cukup sibuk, maklum dia adalah seorang perawat yang bekerja di rumah sakit yang sama dengan kakaknya.
“Kakak juga kangen, makin cantik aja adik kecil kakak ini,” ucap Sania setelah melepas pelukan mereka. Ayara yang mendengar ucapan Sania malah di buat cemberut.
Kekasih kakaknya ini memang selalu memanggil dirinya ‘adik kecil’ bahkan di usianya yang sekarang 20 tahun panggilan itu masih saja ada.
“Aku udah 20 tahun, Kak. Bukan adik kecil lagi.”
Tawa Sania berderai, "Tapi di mata kakak, kamu tetap adik kecilnya kakak. Abisnya manja banget sih.” Sania masih tertawa melihat ekspresi dari adik kekasinya itu.
Hal tersebut tak luput dari penglihatan Arion, diam-diam laki-laki itu tersenyum kecil melihat bagaimana lucunya ekspresi yang muncul dari wajah calon istrinya bahkan jarang sekali ia melihat gadis itu menampilkan ekspresi seperti ini apalagi di hadapan dirinya.
Seolah tersadar ada yang memperhatikan dirinya, Ayara pun kembali dengan raut wajah biasa. Dua kali dalam satu hari image dirinya seolah turun drastis di mata laki-laki yang saat ini tengah menatapnya.
Dua kebiasaanya yang hanya di ketahui oleh keluarga dan orang terdekatnya sekarang harus terbongkar di hadapan Arion.
“Katanya kamu mau temani Arion main futsal?” tanya Bima pada adiknya itu. Ayara mengangguk lemas.
“Tumben,” celetuk Bima.
“Terpaksa, orangnya maksa," ucap Ayara sambil menatap ke arah Arion dengan tatapan penuh permusuhan. Arion yang melihatnya hanya mengangkat bahu acuh.
“Ya udah sana. Sekalian biar bisa kenal sama teman-teman calon suami kamu,” ucap Bima dengan menekan kata ‘calon suami’ nya. Sementara Ayara hanya memelototkan matanya mendengar ucapan kakak laki-lakinya itu membuat Bima terkekeh berhasil menjahili sang adik.
“Kalau gitu kita berangkat dulu," pamit Arion.
“Bilang ke Bunda ya Kak, aku pergi sekalian cari cincin.” Bima mengangguk kemudian Arion dan Ayara pun segera berjalan ke luar rumah dan berangkat menuju tempat futsal setelah berpamitan pada Bima dan juga Sania.