Bagian 12 : Jalan

1245 Kata
Ayara dan Arion baru saja sampai di tempat futsal. Teman-teman Arion sudah mulai berdatangan juga dan berkumpul sambil mengobrol.  Kedatangan Arion dan Ayara di sadari oleh Dito yang saat itu sedang berbicara dengan salah satu laki-laki sambil berdiri menghadap ke arah di mana Arion dan Ayara datang. “Uhuy.! Ada angin apa ni, Arion bawa cewek cuy!” heboh Dito membuat semua orang yang berada di sana menatap ke arah dua pasangan yang baru saja datang. Ayara yang merasa menjadi pusat perhatian tanpa sadar menarik ujung pakaian milik Arion. Dia mungkin sudah biasa berada di perkumpulan bersama dengan kedua sahabatnya tapi situasi sekarang ini berbeda karena orang-orang di sini asing untuknya.  Arion yang melihat ujung pakaiannya di tarik oleh tangan mungil milik gadis yang berada di sampingnya perlahan menarik tangan itu kemudian menggenggamnya. Arion segera mengajak Ayara untuk bergabung dengan teman-temannya. “Wah.. siapa ni, Rion? Tumben banget lo dateng sama cewek.," ucap laki-laki yang memakai kacamata. “Udah lama nunggu lo semua?” Arion memilih untuk bertanya pada mereka mengabaikan apa yang di katakan oleh Josep si laki-laki berkacamata. “Mampus lo!! Di kacangin sama si Rion,” celetuk Dito membuat yang lain tertawa.  “Pura-pura gak denger dia, jawab dulu tu kasian si Josep.” “Tega banget emang dia, mentang-mentang sekarang main futsal ada yang nemenin," ucap Josep. “Pacar gue,” akhirnya Arion pun mengatakan pada teman-temannya membuat mereka menggoda Arion dan Ayara secara bersama-sama. Suasana mulai ramai mengomentari Arion dan seorang gadis yang berdiri di sampingnya, bahkan kedua tangan mereka masih begitu erat saling menggenggam. Lebih tepatnya Ayara yang seolah takut dengan mereka semua.  Mereka baru tahu kalau laki-laki secuek Arion ternyata memiliki kekasih semanis Ayara karena selama ini mereka pikir Arion tak memiliki kekasih.  Benar hubungan Arion dengan mantan kekasihnya dulu memang hanya di ketahui oleh Bima dan juga Dito saja, selain mereka berdua tak ada lagi yang tahu kalau seorang Kafeel Arion Dexter memiliki kekasih seorang model terkenal bernama Venandra Virginia. *** Ayara duduk di salah satu kursi sambil memainkan handphonenya, sudah setengah jam Arion bermain futsal bersama teman-temannya di lapangan yang berada di hadapannya.  Gadis itu mulai bosan karena sedari tadi hanya diam saja, tak ada lagi yang bisa ia ajak bicara setelah beberapa menit lalu seorang gadis bernama Citra yang merupakan kekasih dari salah satu teman Arion malah pamit pulang karena ada urusan mendesak. Akhirnya dia sendirian dengan rasa bosan ini. “Yara,” seseorang memanggil Ayara membuat gadis yang sedari tadi fokus pada handphonenya mendongakkan kepala. “Lho Kak Satria.” Ayara tersenyum setelah melihat Satria di hadapannya. “Hai. Lo lagi apa di sini? Futsal?” tanya Satria terkekeh. Ayara mencebikan bibirnya, “Nggak lah, cuma nemenin doang,” balas Ayara. Satria mengangguk, “Siapa?” tanya dia penasaran karena baru kali ini dia melihat gadis yang di sukainya berada di sini. “Emh..mm... itu Kakak gue, Ya.. kakak,” balasnya sedikit ragu karena ia juga bingung harus menyebut Arion dengan sebutan apa, lagi pula masa dia harus mengatakan kalau dia sedang menemani calon suaminya bermain futsal.  Dia masih belum siap untuk mengatakan itu kepada orang-orang selain kepada kedua sahabatnya. Satria mengangguk mengerti meski masih ada rasa penasaran dalam hatinya, apalagi tanpa sengaja ia melihat laki-laki yang waktu itu ada di pameran kampusnya sedang menggiring bola di lapangan. Namun Satria tak ingin terlalu ikut campur dengan urusan pribadi Ayara apalagi sekarang dia sedang dalam tahap pendekatan pada gadis itu, bisa buruk imagenya kalau dia terlalu ikut campur dan di kira kepo. “Sat..!!” teriak laki-laki dari arah belakang, membuat Satria memutar tubuhnya kemudian dia memberi kode seakan mengatakan ‘tunggu bentar’ pada laki-laki yang memanggilnya tadi. “Kalau gitu gue ke sana dulu ya. Gak enak sama yang lain,” ucap Satria yang kemudian di angguki oleh Ayara. Setelah Satria berlalu Ayara kembali menatap layar handphonennya, ia benar-benar bosan. *** Arion baru saja selesai mengganti pakaian kemudian ia kembali menghampiri Ayara yang masih menunggunya. Ia tahu gadis itu bosan terlihat jelas di raut wajahnya yang tampak di tekuk saat ia selesai futsal dan bilang akan mengganti pakaiannya, gadis itu hanya mengangguk tanpa melihat ke arahnya. “Lama,” gumam Ayara saat Arion berada di hadapannya. Arion mengelus rambut Ayara, “Sorry."  Ayara yang mendapatkan perlakuan seperti itu langsung terdiam ini pertama kalinya Arion melakukan kontak fisik dengannya kecuali genggaman tadi, itu hanya karena ada teman-teman Arion saja begitu pikir Ayara.  Ia tak membalas perkataan Arion tetapi lebih memilih untuk beranjak dari kursi, seolah paham dengan apa yang di inginkan Ayara laki-laki itu berpamitan pada teman-temannya kemudian menyusul Ayara yang sudah berjalan keluar dari tempat futsal. Di parkiran, Arion melihat Ayara yang sudah berdiri di samping pintu mobil kemudian ia pun menekan tombol di untuk membuka kunci mobil dan Ayara langsung masuk ke dalamnya.  Arion hanya menggeleng pelan melihat gadisnya bertingkah seperti itu. Ah... gadisnya? Kenapa itu terlihat manis. Arion pun memasuki mobil, menyimpan tas di kursi belakang kemudian segera melajukan mobil. “Mau makan apa?” tanya Arion memecahkan keheningan. Lama mereka terdiam setelah cukup jauh mobilnya meninggalkan lokasi futsal tadi. Ayara sama sekali tak bicara pada Arion, gadis itu terlalu kesal karena menunggu Arion yang ternyata menghabiskan waktu selama dua jam untuk bermain futsal.  Lama sekali bukan, memangnya laki-laki itu tidak kelelahan sampai bermain selama itu.  Benar-benar menyebalkan. “Terserah,” balas Ayara singkat. Arion yang sadar kalau gadis yang duduk di sampingnya ini masih terlihat kesal, mengembuskan napas pelan ia sama sekali tidak tahu bagaimana cara membujuk gadis itu agar tak kesal lagi.  Sampai akhirnya ia memutar arah mobil menuju tempat tujuan yang lain sepertinya ia harus membuat mood gadisnya membaik lebih dulu. Mobil Arion berhenti di depan kedai es krim membuat Ayara yang menyadari di mana mereka saat ini diam-diam tersenyum, kenapa laki-laki di sampingnya ini tahu cara membujuk dia dengan memberikan es krim.  Apakah Arion cenayang atau memang dia sering mengajak pacar-pacarnya yang dulu ke sini. Apapun alasannya yang jelas sekarang ia senang karena berada di tempat yang dia suka. Arion tahu gadis di sebelahnya ini sedang senang karena ia menghentikan mobil di depan kedai es krim, untung saja memorinya mengingat dengan baik.  Beberapa waktu lalu ia pernah bertanya pada Bima bagaimana cara membujuk Ayara jika gadis itu kesal atau marah, hal tersebut hanya karena ia ingin mengenal gadisnya langsung dari orang terdekatnya yang tak lain adalah Kakak Ayara.  Bima bilang cukup mengajak gadis itu ke kedai es krim dan membelikan apa yang ia mau, cukup sederhana menurut Arion setidaknya ia tak harus membelikan tas bermerk seperti apa yang selalu ia lakukan dulu saat membujuk mantan kekasihnya yang sedang marah. Arion mengajak Ayara keluar dari mobil dan segera masuk ke kedai tersebut, meski marah jika ia di ajak ke tempat ini maka Ayara akan melupakan kemarahannya.  Es krim adalah obat mujarab untuk menghilangkan kesal, marah dan sedih bagi dirinya.  Mereka memasuki kedai yang lumayan ramai mengingat ini hari minggu dan pengunjung di sini rata-rata anak kecil bersama dengan orang tua mereka namun tak sedikit juga orang dewasa yang datang seperti pasangan yang baru saja masuk ke dalam setelah ia dan Ayara masuk ke kedai. Duduk di kursi paling pojok di kedai ini, Ayara dan Arion sedang menunggu pesanan mereka sambil sibuk dengan kegiatan masing-masing.  Tak lama seorang pelayan mengantarkan pesanan ke meja mereka, gadis di hadapan Arion wajahnya tampak berbinar bahkan saat ini ia bisa melihat senyum lebar di wajah Ayara. Sepertinya memang tepat ia membawa Ayara ke sini kalau begitu gadisnya tak akan marah lagi bukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN