Ayara dan Arion kali ini sedang berada di toko perhiasan, setelah tadi mereka dari kedai untuk mengembalikan mood Ayara akhirnya Arion mengajak gadis itu untuk ke toko perhiasan mencari cincin untuk pertunangan mereka sesuai dengan tujuan awal di hari Minggu ini.
Ayara tengah fokus dengan beberapa cincin yang menurut dia menarik dan begitu cantik sementara Arion lebih memilih untuk menemani dan memutuskan pilihan pada Ayara saja.
“Kalau yang ini menurut Kakak gimana?” tanya Ayara menunjukkan sebuah cincin pada Arion.
“Bagus," jawab Arion.
“Dari tadi perasaan bilang bagus terus, jadi yang mana dong?”
“Ya terserah kamu.”
“Ck ... ini kan buat acara kita berdua masa semuanya terserah aku.”
“Ya udah ambil ini aja, aku suka.”
“Tapi aku lebih suka yang ini,” ucap Ayara santai.
Ucapan tersebut berhasil membuat Arion gemas, kalau gadis itu suka dengan apa yang menjadi pilihannya kenapa dia meminta Arion untuk memilih juga, memang laki-laki selalu salah di mata perempuan.
“Ya udah terserah.”
“Tu kan terserah lagi.”
Dalam hati Ayara sebenarnya dia ingin tertawa melihat raut wajah Arion yang kesal, Ayara hanya ingin melihat seberapa sabar laki-laki itu menghadapi sikapnya yang seperti ini.
Jahat bukan tapi biarlah anggap saja ini sebagai balasan karena Arion juga sudah membuatnya kesal menunggu lama di tempat futsal tadi.
“Astaga ...”
Arion memijit keningnya pelan, terlalu gemas dengan kelakuan gadis di hadapannya ini. Karyawan yang sedari tadi melihat tingkah pasangan di depannya hanya tersenyum memaklumi, sudah sering melihat perdebatan seperti ini setiap kali ada pelanggan yang datang ke toko ini.
Tawa Ayara berderai. "Bercanda Kak, kita ambil yang Kakak pilih aja,” katanya setelah melihat bagaimana raut wajah Arion yang tampak frustasi. .
Ternyata menyenangkan juga melihat Arion kesal seperti ini.
“Bercandaan kamu nggak lucu, Ay ...”
Ayara terdiam dengan apa yang baru saja Arion katakan.
Apa tadi?
Ay katanya?
Kenapa pipinya seperti berubah memerah mendengar panggilan itu dari mulut Arion.
Selama ini dia sering di panggil dengan nama ‘Yara’ bukan ‘Ay’ jadi wajar kan kalau dia merasa itu panggilan spesial dari Arion untuknya atau dia hanya terlalu percaya diri saja.
“Ya udah ambil model yang ini aja, Mbak," lanjut Arion kepada karyawan toko.
Sementara Ayara masih diam memikirkan apa yang sudah Arion katakan tadi.
“Atas nama siapa?”
“Arion dan Ayara.”
***
Ayara sudah berada di rumah setelah seharian ini menghabiskan waktu bersama dengan Arion bahkan sampai malam hari karena tadi Arion mengajak Ayara untuk makan malam di rumahnya sesuai dengan permintaan Ibu Arion saat mereka selesai dengan urusan mencari cincin.
Saat ini Ayara sedang merebahkan tubuh di atas tempat tidur setelah tadi selesai mandi dan berganti pakaian.
Ayara kembali mengingat panggilan Arion padanya saat mereka di toko perhiasan tadi sore. ‘Ay’ kenapa rasanya manis sekali jika di katakan oleh laki-laki itu bahkan dia sadar ada rasa hangat menjalar di wajahnya juga seperti ada jutaan kupu-kupu menggelitik perutnya hanya karena panggilan dari laki-laki yang bekerja sebagai Dokter itu.
Apakah ini artinya ia mulai menyukai Arion?
Secepat ini?
Tapi Ayara tak ingin terlalu larut dalam perasaan ini, sebuah perasaan yang mungkin saja hanya bahagia sesaat, dia masih tetap dengan pendiriannya untuk tak cepat membuka hati kepada laki-laki pilihan Ibunya, bukan tak ingin namun takut patah di tengah jalan.
Biarkan semua berjalan dengan semestinya karena Ayara juga tahu ketika cinta telah menemukan tempatnya maka ia akan menetap dan tak akan ke mana-mana.
Asyik dengan pikirannya sendiri suara notifikasi yang berasal dari handphone berhasil membuat Ayara kembali tersadar, lalu mengambil handphone yang berada di atas meja sebelah tempat tidur.
Kak Arion : Udah tidur?
Alisnya mengernyit setelah membaca pesan dari Arion, dia merasa aneh saja karena tidak biasanya laki-laki itu mengirim pesan dan menanyakan apakah dia sudah tidur atau belum.
Kenapa sekarang seperti ini?
Kenapa juga satu pesan begitu saja membuat Ayara tersenyum kecil?
Ayara : Belum, kenapa kak?
Balasan itu ia kirim dan tak menunggu lama ia kembali menerima pesan balasan dari Arion.
Kak Arion : Kenapa belum tidur?
Lagi.
Ayara di buat tercengang dengan pesan yang di kirimkan Arion kepadanya, apa benar Arion yang mengetik pesan tersebut?
Kak Arion : Lagi apa?
Belum sempat membalas pesan tadi, sudah ada lagi pesan dari Arion.
Sebenarnya laki-laki ini kenapa?
Ayara : Tiduran aja. Kenapa sih?
Kak Arion : Emang gak boleh chat sama calon istri
'Bruk'
Handphone yang Ayara pegang jatuh begitu saja, untung bukan ke lantai bisa-bisa handphonenya hancur kalau sampai itu terjadi.
Ayara terlalu kaget dengan pesan yang baru saja Arion kirimkan. Fix ! ni bukan Arion tidak mungkin kan laki-laki cuek dan menurut dia menyebalkan mengirim pesan seperti itu kepadanya, atau jangan-jangan Arion terbentur sesuatu sampai ia mengalami amnesia dan lupa dengan sifat aslinya.
Astaga ... bahkan pikiran Ayara sudah ke mana-mana.
Ayara tak berniat membalas pesan terakhir dari Arion tadi, dia segera menyimpan handphone di atas meja kemnbali kemudian merebahkan tubuh dan menarik selimut menutupi hampir seluruh tubuhnya,
Kenapa malam ini begitu panas bahkan sampai hangat ke hatinya?
***
Di kamar Arion.
Arion menatap layar handphonenya, sudah lima menit berlalu tapi tak ada balasan dari Ayara, padahal pesannya sudah bercentang biru artinya gadis itu sudah membaca pesannya kan.
Entah kenapa malam ini dia tiba-tiba saja mengirim pesan pada Ayara bahkan selama ini bisa di katakan mereka jarang bertukar kabar kecuali jika mereka akan bertemu saja. Tapi tadi jarinya seolah bergerak sendiri merangkai kata dan mengirim pesan itu kepada Ayara.
Sebenarnya selama menjalani masa pendekatan dengan calon istrinya ini Arion mulai merasa nyaman bersama Ayara bahkan melihat wajah cemberut dari Ayara menjadi hiburan tersendiri, aneh memang tapi begitu lah dia yang begitu menikmati ekspresi dari wajah Ayara.
Arion tiba-tiba saja mengingat hal yang tak terduga seperti sore tadi di toko perhiasan.
Saat itu panggilan ‘Ay’ begitu saja keluar dari bibirnya saat dia berbicara dengan Ayara. Ada rasa hangat menjalar di hatinya ketika dia memanggil Ayara dengan panggilan seperti itu.
Bolehkah Arion egois karena setelah dia memanggil Ayara dengan dua huruf di nama depannya saja dia ingin hanya dia yang memanggil Ayara dengan panggilan ‘Ay’ nya?
Garis bawahi hanya dia.
Bersama dengan Ayara, Arion menemukan perbedaan yang cukup jauh ketika berpacaran dengan mantan kekasihnya dulu.
Kali ini tak ada barang mewah yang di gunakan untuk membujuk gadisnya saat kesal, tak ada lagi makan malam romantis yang dalam dua minggu sekali di lakukan olehnya, lalu tak ada adegan romantis dan terkesan vulgarr yang di lakukan bersama pasangannya.
Hanya dengan Ayara saja Arion menemukan sesuatu yang baru dan hanya dengan gadis itu saja dia merasa lengkap.
Cukup lama memikirkan tentang Ayara, Arion kembali menatap layar handphone dan tak ada balasan dari Ayara.
Arion beranggapan kalau Ayara sudah tidur akhirnya dia pun menyimpan handphone dan setelah itu memejamkan mata bahkan di saat memejamkan mata sepeti ini wajah Ayara yang pertama kali menyapanya.
Apa yang di berikan oleh gadis itu sampai wajahnya begitu terbayang dalam benak Arion?
Atau Arion telah jatuh hati pada calon istrinya ini?