Part 22

941 Kata

“Please, Lia... Izinkan Mala untuk menginap di sini beberapa minggu.” Aku memalingkan wajah, sudah tak bisa lagi menahan air mata, menatap Pak Bara dengan sejuta kesedihan dibaliknya, ia berjongkok, menggenggam tanganku sambil memohon-mohon agar Mbak Mala menginap disini karena telah diusir oleh keluarganya. Tanpa mendapat alasan yang jelas, Mbak Mala menangis pagi-pagi memohon-mohon pada Pak Bara untuk menampungnya. “Saya gak bisa nolak, sekalipun menolak bapak tetap kekuh kan?” cicitku, aku mulai putus asa bertahan diatas hubunganku ini, namun aku masih ingat ada buah hati yang harus kujaga, yang membuatku bertahan sejauh ini. Pak Bara menerbitkan senyumannya, memajukan kepalanya hendak menciumku namun aku mendorong tubuhnya, cepat-cepat berlalu. “Mama! Ara mau makan nugget, tapi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN