Part 21

1152 Kata

Hari ini aku diperbolehkan untuk pulang, karena kondisi yang mendukung dan kemauanku untuk cepat-cepat pulang ke rumah, Rumah Sakit menjadi trauma tersendiri bagiku, dimana dulu Papa telah tiada di tempat ini. Aku menguap bosan sambil melempar pandangan di jendela. Jendela diketuk dari luar, ada Bik Nur yang masih menenteng tas besar berisi pakaian kotor. “Kenapa, Bi?” tanyaku sambil menurunkan kaca mobil. “Nyonya nggak turun? Mau disini terus?” Bik Nur tersenyum hangat. Aku menghela nafas, lalu mengangguk turun dari mobil, diikuti Bik Nur yang berjalan dibelakangku. Aku dituntun oleh Ima—anak bungsu Bik Nur yang masih belum mendapat pekerjaan, jadilah aku menerimanya karena tak tega. “Nyonya mau makan? Minum? Atau mau saya kupasin buah?” Ima buru-buru menyodori beberapa makanan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN