Part 4

453 Kata
Aku menguap lebar, semalaman begadang membuat pagiku mengantuk, bahkan kedua mataku terasa berat sekali untuk dibuka. Bahkan aku menukar jadwal Nita agar aku mengajar nanti saja, menghabiskan diri di ruang guru yang lumayan sepi ditemani hembusan pendingin ruangan yang memanjakan permukaan kulit. Baru saja memejamkan mata, suara Atika membuat tidurku terusik. “Lo kebo banget, Li.” Gerutu Atika sambil menarik map merah yang kutindih dengan lengan. “Minggir dulu kek, kejepit nih map gue.” Atika mendorong-dorong lenganku. Aku berdecak disela-sela tidurku, lalu menggeser lengan. “Ganggu banget lo, Tik.” Balasku sinis sambil mencoba memejamkan mata, akhirnya kantuk tersebut sudah pergi. “Abisnya lo kebo banget, gue takut mapnya kena iler.” Celetuk Atika sambil membalik-balik map bersih yang hanya kugunakan sebagai alas lengan. “Enak aja! Gue tidur gak pake iler.” Jawabku sambil menyandarkan cermin dan mulai mematut wajah. “Habis ini gue mau langsung pulang deh, tukeran piketnya ya Tik.” Sambungku sambil cekikikan. Atika memutar bola matanya malas. “Sumpah kalau lo begadang lagi mending gausah masuk deh, Li. Nyerempetin banyak korban.” Gerutu Atika sambil menyusun map-map kedalam boks. Aku hanya tertawa merapikan kerudung lalu menyambar slingbag milikku. “Gue curi pulang dulu, byebye...” tanganku melambai-lambai kearah Atika yang dibalas dengan tatapan tajamnya. Sembari melirik-lirik anak-anak yang bermain di taman, aku terus berlari menuju pagar yang ditutup. “Bu Lia mau kemana?” Aku meneguk ludah kasar, seperti maling yang tertangkap basah mencuri, jantungku tiba-tiba berdetak keras. Ternyata ada Pak Bara yang sedang bersandar didepan kap mobilnya. “Ehm... Saya mau pulang.” Jawabku jujur sambil tersenyum tipis. “Pulang? Bukannya sekarang bukan waktunya pulang?” “Saya izin sakit, Pak...” Dia hanya mengangguk-angguk saja. Memasukkan kedua tangan nya di saku celana. “Boleh saya bicara sebentar?” baru satu centi melangkah suaranya diangkat kembali. Aku menatap Pak Bara dengan kening berkerut. “Boleh...” dengan menekan egois agar tidak mementingkan rasa ingin pulang, berat hati aku mendekati Pak Bara dan rasa penasaran menyeruak, menebak-nebak apa yang akan ia bicarakan. Pak Bara berdehem panjang, mengusap-usap tengkuknya beberapa kali dan menghembuskan nafasnya gugup. “Saya...” Aku masih menunggu, sambil memutar-mutar ponsel digenggamanku, menunggu pembicaraan selanjutnya. Ia masih diam menata wajah datarnya. “Saya sebenarnya suka-“ Brukk... Akibat tangannya yang tak sengaja menyenggol ponselku, akhirnya benda persegi panjang pipih tersebut terjatuh tengkurap. Mataku otomatis melotot, berjongkok dan menyelamatkannya cepat. “Yaallah... Jangan mati duluan.” Gumamku sambil mengusap-usap layar ponselku yang sudah retak. Beberapa kali mencoba untuk menghidupkan tetapi ternyata ponselku sudah mati. Aku menghela nafas panjang, menarik nafas sebanyak-banyaknya, masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa ketidak sengajaan Pak Bara membuat ponselku direnggut nyawanya. “Ah, maaf saya tidak sengaja...” setelah beberapa menit terdiam akhirnya ia membuka suara. Kepalaku mengangguk-angguk kecil saja dengan tersenyum masam. “Kalau bapak mau bicara silahkan, masih saya tunggu...” sebisa mungkin aku bersikap halus dan lembut kepada wali murid didik ku ini meskipun beberapa menit lalu membuat hati dongkol setengah mati. Ia menatapku dalam, lalu menggeleng. “Tidak, lupakan. Maafkan saya, besok saya akan ganti rugi ponselnya, untuk sekarang saya undur diri.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN