Part 5

1279 Kata
Hari Sabtu merupakan kandidat hari yang kubenci dari tujuh hari lainnya, karena pada Hari Sabtu, anak-anak diadakan menanam bersama dihalaman belakang sekolah yang artinya jika aku pulang pasti badan terasa kotor semua dan becek dimana-mana karena mereka menyiram tanaman dengan air yang tidak wajar hingga membuat tanah menjadi berair. Sekarang, aku tengah menyiapkan barisan untuk senam pagi yang dilakukan oleh anak-anak beserta staf guru, senam pagi mengawali berjalannya proses berkebun. Setelah acara senam pagi selesai, dilanjut dengan berkebun, masing-masing siswa sudah dijelaskan tata cara bercocok tanam, cara merawat dan lain-lain. Mereka sudah disediakan sekop kecil, benih, dan air. Seperti yang kubilang tadi, kini tanah kebun becek dengan genangan air yang bercampur dengan tanah, beberapa anak berlarian hingga menimbulkan percikan pada genangan air yang menyiprat dibajuku. Aku diam saja sambil menghela nafas. Melanjutkan berkeliling memandu anak-anak. “Ara lagi nanam apa?” Tanyaku pada Khaira yang fokus menanam, ia merupakan murid pintar dan disiplin, lihat saja, hasil tanaman nya jauh lebih baik dari anak-anak. Khaira mendongak. Seperti biasa, ia tersenyum ceria. “Lagi nanam bunga mawar, Bu Guru...” Jawabnya Aku mengangguk, kembali berkeliling untuk melihat-lihat hasil tanaman mereka. Acara berkebun usai pada pukul setengah sepuluh. Setelah berkebun, setiap siswa diwajibkan mencuci tangan sebelum makan. Untuk konsumsi, sekolah sudah menyediakan. Jadi, kali ini aku dan staf guru membagikan konsumsi berupa satu kotak nasi, snack, dan air mineral. Memberikan waktu empat puluh lima menit untuk waktu istirahat mereka. Aku duduk di ruang guru dengan termenung, bagaimana tidak, handphone ku sudah rusak, biasanya setelah mengajar aku akan bermain game di handphone ku, namun sekarang aku hanya bisa duduk diam sambil memakan bekal yang kubawa dari rumah. Bekal yang kubawa hari ini adalah nugget dan cah kangkung, setiap ada lauk pasti ada sayur nya, begitu kata mama, terkadang aku merasa bosan dengan adanya sayur. Tak hanya fokus makan, aku juga membagi fokus di luar jendela, mengamati anak-anak yang sedang bermain di ayunan, jungkat-jungkit, perosotan, dan lain-lain, kami para guru menjaga murid dengan baik meskipun mempunyai kesibukan masing-masing. Mataku memincing melihat seorang pria yang masuk kedalam taman bermain, pria itu berjongkok memeluk Khaira dan Khail, ya... Itu adalah Pak Bara, pria itu berjalan bersama kedua anaknya menuju ruang guru, apa? Ruang guru? Mataku mendelik saat Pak Bara sudah berada di balik pintu ruang guru, beberapa perhatian guru terpusat pada Pak Bara, namun aku abai saja, aku masih marah soal ia mengagetkanku dan membuat handphone ku jadi rusak. Aku memilih meringkus di pojokan supaya tidak terlihat, aku masih diam saja saat aku dengar ia mencari ku. “Sstt... Li, itu di cariin pangeran, tuh” Bisik Atika sambil mendekat, aku memutar bola mata malas dan menutup kotak bekal milikku lalu kumasukkan ke dalam tas. Aku berjalan malas-malasan kearah Pak Bara, dia hanya diam saja berekspresi satu macam yang ia miliki, datar. Lama menunggu ia buka suara, tiba-tiba aku terkejut saat ia menarik tangan ku menuju bangku panjang yang berada di taman bermain, Pak Bara sudah mengusir dua anak nya untuk kembali bermain, sedangkan aku bersama Pak Bara duduk berdua! Iya berdua saja, apalagi aku masih syok saat ia menarik tangan ku, jantungku berpacu tidak normal. “Kamu masih marah?” Suaranya memecah belah lamunanku. Aku mendengus. “Siapa yang nggak marah kalau hapenya dirusakin. Tapi nggak papa Bapak kan nggak sengaja gak perlu ganti rugi.” Jawabku cepat. Suasana kembali hening. “Saya sibuk, Pak... Jadi kalau bapak Cuma diam saja kenapa sama saya? Kenapa gak ngajak sama yang lain sih?!” Seruku, berusaha menghindarinya. Aku juga ingin menghindarinya agar perasaan asing ini tidak tumbuh merambat ke hatiku, aku juga tidak mau sakit hati tau-tau dia sudah punya pacar atau calon istri. “Saya mau mengajak kamu untuk...” Lagi, ia memenggal ucapan nya dengan menghembuskan napas nya berat. “Menikah” Aku mendelik tak percaya, sedangkan Pak Bara tersenyum tipis, mengeluarkan kotak beludru dari saku celananya, kotak tersebut terbuka, menampakkan cincin polos berwarna perak. Sumpah, ini beneran? Kok ngelamarnya gak romantis gitu, di depan kelas dan depan taman bermain anak-anak? Really? Aku masih syok hanya diam saja mengamati ia meraih jemariku berniat memasukkan cincin tersebut di jari manis ku. Belum sampai tersemat aku sudah menghentikan nya. “Pak... Bukan nya terlalu cepat ya? Emang nya bapak suka sama saya? Cinta sama saya?” Tanyaku sambil menatap lurus mata elang nya yang gelap. Pak Bara mengangguk kan kepala nya tegas. “Entah kenapa saya sudah jatuh cinta dengan kamu sejak kita pertama bertemu...” “Bu Lia?” Aku mengerjap dari lamuanku, ah ternyata tadi hanya ilusi yang berkelana di pikiranku, kenapa denganku ya sampai memikirkan hal-hal yang mustahil sepert tadi. Aku meraup wajah dengan mengehembuskan napas. “Ah iya.” Aku memukul kepalaku sendiri menghilangkan mimpi yang baru saja berlarian, lelucon macam apa aku memimpikan Pak Bara akan melamarku dan mengungkapkan rasa cintanya padaku, sangat mustahil bukan?. “Saya mau ajak kamu untuk membeli ponsel yang baru.” “Ah nggak usah pak, saya nggak semiskin itu buat ngemis-ngemis perhatian supaya di belikan yang baru, saya bisa usaha sendiri pak, saya juga berpenghasilan, dan Bapak kan tidak sengaja.” Jawabku sambil memalingkan wajah, lama-lama berdekatan dengan Pak Bara membuat pipiku memanas, belum lagi Nita yang melihat ku duduk dengan Pak Bara hanya bisa menggoda lewat senyuman nya. “Saya serius untuk mengganti ponsel kamu, saya yang melakukan saya juga yang bertanggung jawab, jadi... Nanti sepulang mengajar, tunggu saya di depan.” Pak Bara menyugar rambutnya, dan itu membuat jantungku berteriak heboh, Pak Bara sangat tampan dengan balutan jas dan kemeja, pakaian nya yang rapi membuat kharismanya semakin menarik, apalagi beberapa guru yang lewat pasti kecantol dan tidak mau mengalihkan pandangan. Lihat saja, Nita dan Atika yang curi-curi pandang pada Pak Bara secara terang-terangan padahal Nita itu sudah punya suami apalagi udah jadi bumil pula. Aku hanya mengangguk saja lalu beranjak dan berlalu tanpa sepatah kata pun, mengenalnya beberapa minggu ini membuat rasa asing memeluk hati, namun aku berusaha menyingkirkan nya, cintaku berlabuh pada tempat yang salah. Selama berjalan di ruang guru, Nita dan Atika menyusulku hingga aku duduk pada meja pribadiku. Aku langsung menelungkupkan kepala di lipatan lengan ku. “Anjir, lo nemu cowok seganteng gitu dimana sih? Lo pake pelet ya, Li?” Todong Atika berapi-api masih melirik-lirik di luar jendela, Pak Bara masih duduk diam di posisinya. “Hus ngawur lo! Enak aja melet-melet orang kaku kek gitu!” Seruku sambil menjitak kepala Atika. “Ehm... Yang udah punya suami mata dan hatinya di jaga, pliss!” Sindirku pada Nita yang tak berkedip menatap Pak Bara dari balik jendela. Nita langsung mengerucutkan bibirnya. “Eh, btw lu diajakin apa, Li? Nikah ya... Jangan lupa loh.” Ucapan Nita membuatku terlempar pada mimpi yang tadi kubayangkan. Aku berusaha melupakan nya malah Nita membuatku kembali mengingatnya. “Jangan lupa apa? Jangan lupa subscribe gitu?” “Bukan, Endang! Jangan lupa undangan nya!” jawabnya sambil menoyor keningku. “Lebih cepat lebih baik lho Li...” godanya sambil menaik turunkan alisnya. “Eh... Kepedean lo! Gue aja diajak beli hape, soalnya kemarin hape gue di rusakin noh!” Aku memamerkan handphone ku yang sudah rusak, layarnya pecah dan tidak bisa hidup kembali. “Widih... Lo pilih I-Phone 11 tuh! Gaskan!” seru Atika. “Iya Li, kapan lagi morotin orang kaya, kalo gue masih perawan, uh... Gue pepet terus gue porotin tuh, kan lumayan...” Nita ikut mengompor-ngomporiku. “Enak aja! Hape gue merk nya Oppo minta nya I-phone, sori gue bukan cewek matre kek kalian, udah deh, gue mau salat dulu ya... Tika, lo nggak salat?” tanyaku sambil membuka loker khusus untuk guru, setelah terbuka aku meraih mukenah berwarna pastel dan mengunci kembali loker. Atika menggelengkan kepalanya. “Gue datang bulan. Udah sono!” Atika mendorongku cepat, aku hanya bisa mendengus dan langsung menuju masjid yang berada di sebrang sekolah. Selesai salat, sambil melipat mukenah, aku menimbang-nimbang tawaran Pak Bara untuk mengganti handphone ku. Dan kuputuskan untuk menerima saja karena aku sudah melihat Pak Bara yang berdiri di depan gerbang sekolah, ia duduk di balik kemudi dengan kepala yang celingukan mencari sesuatu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN