Akhirnya keputusanku sudah bulat, setelah mempertimbangkan jawaban, aku kembali ke Jakarta untuk menemui Pak Bara, melihat kondisinya yang mengenaskan yang mampu mengetuk pintu hatiku. Aku meremas ujung jilbabku, tiba-tiba terserang gugup, masih menunduk didalam mobil sambil menggigit bibir bawahku. Hatiku mengatakan masuk tapi logikaku menahannya, saat ini aku sudah sampai didepan rumahnya. Akhirnya aku turun dari mobil yang kupinjam lewat Mas Rio, sebelumnya aku menginap sehari dirumah Mama dan bertepatan kedatangan Mas Rio dan Mbak Kayla, jadi aku meminjam mobilnya untuk menjenguk keadaan Pak Bara. Setelah memutuskan untuk masuk saja, aku sudah berdiri didepan pintu sambil mengetuknya berkali-kali, pintu terbuka tubuhku langsung terhuyung dipelukan Mami Windi. Ia menangis kencan

