Aku menunggu pintu kamar mandi tersebut terbuka, dan tak lama pintu kamar mandi terbuka dengan Pak Bara yang berjalan keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk sebatas pinggang, rambutnya yang masih basah ia gosok-gosok kan pada rambutnya, ia menatapku seakan menanti aku mengangkat suara. “Mas, sini...” rengekku sambil menepuk sisi ranjang. Ia menurut, duduk di tepi ranjang yang kumaksud. “Pake baju dulu sana, hushh...” kemudian tanganku mendorong lengan kekarnya. “Kamu ini gimana,by. Suruh Mas deket, pas dideketin diusir.” Gerutunya sambil menyisir baju-bajunya yang digantung oleh hanger, lalu menghilang untuk berganti baju di walk in closet. Sembari menunggu Pak Bara, aku membuka katalog yang berisi baju-baju bayi dan aksesorisnya seperti kereta dorong, kasur, botol dot, dan

