Setelah dilakukan pengecekan CCTV dan aku dinyatakan tidak bersalah, aku lega meskipun sikap Pak Bara sangat menyesal telah menuduhku. “Lia, maafkan saya... Saya-“ seperti saat ini ia bersimpuh tanpa malu didepan ruang rawat. Aku mendorong bahunya pelan. “Bagun, Pak. Saya sudah memaafkan anda, tapi saya masih ingat kalau anda pernah tidak mempercayai istri sendiri dibanding mantan istrinya, cukup lucu bukan untuk di ceritakan pada orang-orang.” Aku tersenyum miring, dari mulai tingkah Mbak Mala hingga Pak Bara membentuk diriku menjadi Lia yang tega, yang awalnya aku hanya bisa bersabar dan baik hati. Pak Bara tetap memeluk lututku, aku merasakan rok yang kupakai basah oleh air matanya. “Saya terlalu hina menuduh dan tidak percaya pada istri saya sendiri.” Gumamnya pelan yang dapat k

