9-DIMINTA MENDUA?

1169 Kata
"Kenapa kamu nggak nyuruh Evas nikah lagi aja? Mama yakin, ada yang salah sama tubuhmu." Tubuh Amor bergetar mendengar kalimat itu. Seperti ada kilat yang menyambar hingga tubuhnya syok. Lidahnya juga kelu. Sekujur tubuhnya seolah tidak bisa digerakkan. Ayum menatap Amor yang terdiam membeku. Dia mendekat, memperhatikan ekspresi menantunya itu. "Evas udah pengen punya anak. Masa kamu nggak ngerti?" Air mata Amor seketika turun. "Ma," panggilnya dengan napas tercekat. "Tapi, aku nggak bisa lepas Evas." "Tapi, kamu nggak bisa ngasih keturunan, Mor!" "Aku janji mau program bayi tabung!" Amor menjawab sekuat tenaga. Ayum seketika mundur beberapa langkah. Bukan sekali dua kali Amor berbicara kencang di depannya. Sosok wanita yang dikenalkan Evas yang kelihatannya anggun, sekarang hilang sudah. "Kamu mau berapa?" "Apanya?" tanya Amor sambil mengusap sudut mata. "Kamu butuh uang berapa?" Amor menggaruk kening lalu menatap Ayum heran. "Buat ninggalin Evas?" "Buat apa lagi?" tanya Ayum. "Evas terus tersiksa sama kamu." "Dia bahagia sama aku, Ma." "Oh, ya? Seyakin itu?" Amor mengangguk tegas. "Evas bahagia sama aku. Kami bahagia meski belum punya anak," akunya. "Tapi, mama yang terus usik kebahagiaan kami." "Wajar. Orangtua khawatirin anaknya." "Tapi, kekhawatiran mama berlebihan," jawab Amor. Ayum mengibaskan tangan. "Kalau program bayi tabung kalian nggak berhasil, izinin Evas nikah lagi." Jantung Amor berdegup lebih cepat. Haruskah dengan cara seperti itu? Apakah tidak bisa mencari keputusan lain? Keputusan yang benar-benar dibuat oleh Evas dan Amor. Bukan mama mertuanya. Amor merasa setiap rumah tangga pasti ada masalahnya tersendiri. Dia mendapati lelaki tampan, mapan dan perhatian. Sayang, dia mendapat mama mertuanya yang suka memaksakan kehendak. "Saya nggak akan rusak rumah tangga saya karena ucapan mama." "Nggak sopan kamu!" Ayum mendekat lalu menampar Amor kencang. "Nyesel saya restuin kamu." Amor terdiam dengan kepala miring ke kiri. Rasa panas mulai menjalar di pipi. Air matanya mulai berdesakan keluar. Tetapi tekadnya, tidak ingin terlihat menyedihkan. Perlahan dia berdiri tegak dan membalas tatapan Ayum. "Semuanya sudah terjadi, Ma." Setelah itu dia memutuskan keluar. Amor berjalan cepat menuju kamar. Dia sudah tidak bisa menahan sedih dan sakit hati karena perbuatan mama mertuanya. Begitu masuk kamar, dia segera mengunci pintu lalu menumpahkan tangisannya. "Hiks...." Tubuh Amor bergetar hebat. Baginya, ini sakit hati yang paling menyakitkan. Dia tidak percaya, mama mertuanya memintanya mengizinkan Evas untuk menikah lagi. Kalimat itu keluar dari bibir wanita. Tidakkah itu kejam? *** Bip.... "Sayang!" Pintu baru saja terbuka dan teriakan itu melengking. Lantas sebuah pelukan mendarat di tubuh tamu yang baru datang itu. Kemudian ada sebuah tarikan kencang, hingga tamu itu masuk ke ruangan. "Kamu bawa apa?" Norin melihat dua kantung belanjaan yang dibawa Evas. "Buat aku?" "Buat siapa lagi?" Norin meloncat ke pelukan Evas. Dia menghujani lelaki itu dengan kecupan, sangking bahagianya. "Boleh aku lihat?" tanyanya sambil turun dari pelukan Evas. Evas mengulurkan kantung yang dibawa. "Biar nggak ngambek," jawabnya lalu menuju dapur dan mengambil air mineral. Sementara Norin mulai membuka kantung belanjaan itu. Bibir Norin terbuka melihat sebuah tas koleksi terbaru. Lantas dia membuka kantung lain dan menemukan stiletto berwarna biru muda dan sepertinya termasuk ke koleksi terbaru. "Aaaa!" Norin menjerit kegirangan. Seketika dia mencoba heels itu lalu menyampirkan tas di pundak. Evas kembali ke ruang tamu, melihat wanita yang terlihat begitu bahagia itu. "Gimana? Suka nggak?" "Suka banget!" Norin mengangkat kakinya ke meja, menunjukkan kakinya yang tampak cantik dengan stiletto itu. "Tergoda?" Pandangan Evas tertuju ke kaki kecil Norin. Wanita itu mengenakan rok pendek dan seolah tidak peduli saat kakinya diangkat ke meja seperti itu. "Nggak juga!" "Masa?" Norin menurunkan kakinya lalu berjalan mendekati Evas. "Makasih, Sayang." Dia mengecup bibir lelaki itu gemas. Evas tersenyum samar. "HP-nya mana?" "Duh! Kemarin ditungguin nggak muncul," keluh Norin ingat kejadian di hotel. Dia sudah menunggu Evas, tetapi lelaki itu tidak datang. "Tunggu." Dia meletakkan tasnya ke meja lalu menuju kamar sambil mengenakan stiletto barunya. Evas menuju sofa panjang dan menyingkirkan kantung kosong. Dia mengedarkan pandang, menatap apartemen Norin yang cukup sempit, bahkan lebih luas kamar di rumahnya. "Ini." Norin kembali dan duduk di pangkuan Evas. "Udah aku urus semuanya. Kamu tinggal pakai." "Bagus!" Evas mengambil ponsel dan melihat satu kontak yang disimpan. Kemudian dia membuka galeri dan menemukan foto-foto Norin. "Udah aku tebak." Norin mengangkat dagu Evas. "Kalau kangen, bisa lihat foto itu." "Ya. Boleh." "Kamu nginep, kan?" bujuk Norin. Evas langsung menggeleng. "Aku belum pamit...." "... kamu dua hari sama istrimu. Masa luangin semalem buat aku nggak bisa?" Norin mengerucutkan bibir. "Kamu bisa alasan keluar kota. Beres, deh." Pandangan Evas tertuju ke wajah Norin yang tertutup make up. Sering kali saat dia datang, wanita itu berpenampilan menarik. Dia jadi membayangkan jika tidak datang, pasti percuma Norin sudah meluangkan waktu untuk berdandan. "Please. Nginep, ya!" Norin menarik dasi Evas dan mengulungnya dengan jari. "Oke!" Senyum Norin seketika terbit. Membujuk Evas memang gampang-gampang susah. Tetapi, akhir-akhir ini dia selalu berhasil. *** Waktu telah menunjukkan pukul dua belas. Wanita yang berbaring miring sambil mendekap tubuhnya sendiri itu belum juga tidur. Sejak tadi air matanya turun tanpa henti. Sementara pikirannya terus teruju ke ucapan pedas mama mertuanya. Sudah berkali-kali dienyahkan, tapi kalimat itu terus menembus pikiran Amor. "Hiks...." Tangis Amor kembali terdengar kencang. Amor sebenarnya sudah sangat lelah. Hampir setengah hari menangis, membuat tubuhnya kehilangan energi. Terlebih, dia melewatkan makan siang dan makan malam. Sudah bisa dipastikan, kan, lelahnya bagaimana? "Evas nggak pulang-pulang," keluh Amor sambil mendongak menatap jam dinding. Dia sangat membutuhkan Evas dan mendengarkan curhatannya. Tetapi, lelaki itu tidak kunjung muncul. Hal itu semakin membuat Amor sedih. Amor berbaring terlentang, menatap ke layar CCTV yang menunjukkan keadaan di luar. Belum terlihat tanda-tanda sang suami datang. "Dia ke mana, sih?" keluhnya seraya bangkit. Dia mengambil ponsel dan tidak mendapat satu pesanpun dari Evas. Tanpa pikir panjang, Amor menghubungi sang suami. Sebenarnya bukan pertama kalinya Evas pulang tengah malam. Tetapi, lelaki itu masih sempat mengabari, walau terlambat. "Dia nggak kenapa-napa, kan?" gumamnya kala Evas belum mengangkat panggilan. "Ck! Evas!" Amor mencoba menghubungi sekali lagi. Tetapi, hasilnya sama. Dia meletakkan ponsel lalu membingkai kepala. Sekarang, kepalanya semakin berdenyut nyeri. "Gue nggak boleh nyiksa diri," gumamnya lantas bangkit. Amor harus makan agar tidak sakit. Dia tidak akan membiarkan tubuhnya sakit karena ulah orang lain. Terlebih ibu mertuanya. Duk.... Kaki Amor membentur pinggiran kabinet saat tubuhnya terhuyung. Dia berpegangan di kusen pintu dan pinggiran kabinet, lalu membungkuk. Saat itulah perhatiannya tertuju amplop cokelat yang diterima tadi siang. Sambil menunggu pandangannya yang agak berputar, Amor menarik ujung amplop itu sebagai pelampiasan. Hingga, amplop cokelat itu terbuka dan terlihat sebuah foto yang sangat dia kenal. Amor berdiri tegak dan tubuhnya kembali terhuyung. Tetapi, dia tetap menatap foto seorang lelaki yang bergandengan dengan seorang wanita yang wajahnya di-blur. "Siapa, nih?" Amor mendekatkan foto itu ke mata dan melihat foto si lelaki dengan saksama. Semakin dilihat, wajah di foto itu tidak berubah. Itu adalah suaminya. "Ya ampun, Evas!" Amor menurunkan foto itu dan mengambil foto lain. Hasilnya sama, wajah si perempuan di-blur dan hanya wajah si lelaki yang terlihat jelas. Penasaran, Amor membalik foto itu dan mendapati sebuah tulisan rapi. Menurutmu, suamimu setia? Tangan Amor bergetar hebat, lalu semuanya gelap dan tubuhnya ambruk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN