Agak siang, Evas mengajak Amor ke mal. Tentu untuk membelanjakan istrinya. Sebenarnya, dia membebaskan Amor untuk berbelanja. Tetapi, istrinya termasuk hemat. Wanita itu tidak selalu membeli koleksi terbaru. Meski saat berbelanja, Amor sering kali kalap mata.
"Silakan. Kamu bebas pilih apa aja," ujar Evas begitu masuk store.
"Oke, Sayang!" Amor memeluk Evas lalu mengecup pipinya. Setelah itu dia meninggalkan sang suami dan melihat koleksi tas.
Evas berjalan menuju kursi yang tersedia. Dia memperhatikan Amor yang sedang memperhatikan tas berwarna hijau lumut. Wanita itu kemudian memanggil pelayan, sepertinya sudah menentukan pilihan. Amor memang tidak ribet. Wanita itu jarang dibingungkan saat memilih sesuatu.
Sambil menunggu, Evas mengeluarkan ponsel. Dia melihat beberapa chat masuk dari koleganya yang belum sempat dibalas. Hingga, perhatiannya tertuju ke chat dari Rean. "Kayaknya nggak mungkin pakai HP ini lagi."
"Sayang!"
Evas buru-buru menekan tombol power lalu menatap Amor. Wanita itu menunjukkan tas berbentuk setengah lingkaran berwarna cokelat muda. Dia mengacungkan jempol lalu memaksakan senyuman. Saat Amor kembali sibuk dengan tasnya, Evas kembali menatap ponsel. Tepat saat itu, ada pesan masuk.
Rean: Istrimu belanja?
Sontak Evas mengedarkan pandang. Dia melihat beberapa pengunjung yang lalu lalang. Tetapi, tidak ada sosok yang dikenal.
Drttt....
Evas kembali menatap ponsel dan mendapati pesan dari Rean.
Rean: Aku nggak akan deketin kok.
Rean: Tapi, boleh nggak aku peluk kamu bentar aja?
Rean: Aku di lantai bawah, deket toilet cewek.
Perhatian Evas tertuju ke Amor yang masih terlihat sibuk. Seketika dia menghampiri. "Sayang. Aku ke toilet bentar."
Amor sontak menoleh. "Oh, iya. Aku tunggu sini, ya!"
Evas memeluk Amor sekilas. "Nggak lama kok." Setelah itu dia berjalan keluar.
Amor menatap Evas yang berjalan santai. Tidak terlihat mencurigakan.
Tentu Evas sengaja tidak membuat Amor curiga. Dia berjalan biasa, seolah menunjukkan tidak ada sesuatu yang terjadi. Tetapi, begitu turun dari eskalator, dia berjalan cepat dan mencari toilet yang dimaksud.
"Evas!"
Panggilan itu tiba-tiba terdengar. Evas mengedarkan pandang, hingga melihat seorang wanita yang mengenakan rok terusan berbahan denim berdiri sambil melambaikan tangan. Seketika dia mendekat dan menarik tangan Norin menuju pilar.
"Ngapain kamu terus hubungi?" tanya Evas penuh selidik.
Bibir Norin mengerucut. Tidak disangka jika Evas membahas hal itu daripada menuntaskan rasa rindunya. "Ya karena aku kangen."
"Aku nggak mau Amor curiga."
"Ck!" Norin mendengus kala Evas menyebut sang istri. "Terus, aku harus apa? Nunggu kamu dateng?"
Evas menggaruk tengkuk. "Beliin aku HP baru. Kayaknya udah nggak aman."
"Udah dari dulu aku nyuruh pakai HP baru, tapi nggak didengerin."
Evas terdiam. Awalnya dia tidak ada niatan untuk mendekati Norin. Mereka bertemu saat dia dan koleganya menonton teater dan di sana ada Norin. Sebagai pemeran utama, Norin sering menyapa penonton, terlebih jika penontonnya bukan orang sembarangan. Dari situlah mereka berkenalan, hingga Norin mendapatkan nomornya.
"Ya udah, aku yang beliin?" tanya Norin melihat Evas tidak lagi bersuara.
"Iya!"
"Terus, ngasihnya?"
"Besok aja!"
"No!" Norin menggeleng tegas. "Kan, kamu bisa samperin aku ke kamar."
"Kok kamu bisa tahu aku nginep sana?"
Norin mengedipkan mata. "Istrimu posesif, kan?" tanyanya. "Nyuruh kamu terus aktifin lokasi? Itu membuka jalan buat nyari kamu, Sayang."
"Dasar!" Evas mengusap puncak kepala Norin. "Udah, ya. Jangan ganggu lagi."
"Nggak mau ngasih hadiah?"
"Duit yang aku kasih udah habis?"
"Bukan hadiah itu!" Norin menggerakkan tangan Evas dengan manja.
Seketika Evas tahu maksudnya. Dia membungkuk dan mengecup bibirnya. "Udah, ya!" Setelah itu dia berjalan menjauh.
"I love you!" teriak Norin, tapi Evas tidak mengubris.
Norin tersenyum samar kala melihat beberapa wanita yang dilewati Evas memperhatikan. Pesona lelaki itu memang kuat. Bahkan, Norin dengan mudah jatuh hati. "Gue pastiin, nggak lama lagi gue jadi Nyonya Evas." Senyumnya semakin lebar setelah mengatakan itu.
***
Hari Senin, Amor kembali menjadi ibu rumah tangga yang tidak banyak melakukan kegiatan. Dua hari sebelumnya terlewati dengan begitu cepat. Rasanya Amor belum siap berpisah dengan dua hari itu.
"Perhatian banget," gumam Amor sambil menatap kantung belanjaan yang belum ditata. "Love you, Suami." Amor lalu mengeluarkan kantung belanjaan itu satu persatu.
Amor mengambil sebuah tas berwarna hijau lumut yang harganya setara dengan sebuah rumah kelas menengah. Dia meletakkan di rak khusus tasnya lalu beralih mengambil tas lain yang juga dibeli.
Tidak hanya tas, Amor juga membeli beberapa heels. Memang modelnya sama, tapi dari segi warna berbeda. Wanita selalu ingin memiliki aksesoris dengan warna yang berbeda, meski modelnya sama.
Tet....
Perhatian Amor teralih. "Siapa?" gumamnya kemudian keluar dari walking closet. Dia menuju ke layar yang tertempel di tembok dekat ranjang dan melihat seseorang yang berdiri di depan pintu gerbang. Kemudian satpam rumah membuka dan menerima amplop cokelat.
Amor mengernyit, merasa aneh karena kurir itu mengenakan setelan serba hitam. "Ck! Penipuan pasti." Dia memutuskan keluar untuk mencari tahu.
"Bu, ini ada paket." Pembantu Amor membawa amplop cokelat itu.
"Dari siapa?" tanya Amor sambil menuruni tangga.
"Tanpa pengirim."
"Jangan-jangan orang nipu." Amor sudah hafal dengan modus seperti itu. Dia menerima amplop cokelat itu dan membawanya ke kamar. "Oh, ya tolong buatkan saya jus jeruk. Nanti antar ke kamar."
"Baik, Bu!"
Amor kembali ke kamar dan meletakkan amplop itu begitu saja. Dia kembali menata barang-barang belanjaannya ke lemari. Wanita, jika ingin menata sesuatu pasti tidak bisa hanya dimasukkan begitu saja. Amor lantas menata ulang sebagian sisi agar sandal-sandalnya tertata rapi.
Tet.... Bel rumah kembali berbunyi.
Kali ini Amor tidak begitu memedulikan. Dia menata sepatu dan mengelompokannya sesuai warna. Dia juga mengecek, sepatu mana saja yang sudah usang.
"Belanja terus, ya!"
Amor berjingkat saat mendengar kalimat itu. Dia menoleh, melihat seorang wanita yang mengenakan rok panjang dengan model abstrak dan blouse putih tanpa lengan. "Mama...." Seketika dia mendekat, hendak menyalami. Tetapi, mama mertuanya melewatinya begitu saja.
Ayum melihat sepatu-sepatu Amor yang tergeletak. Lalu menatap ke rak lain dan melihat tas yang cukup mencolok. "Habisin duit lagi?"
"Ma. Nggak gitu," jawab Amor berusaha sabar. "Evas yang belanjain aku."
"Evas memang baik. Jangan kamu manfaatin dong."
Amor tersenyum kecut mendengar tuduhan itu. "Mama ke sini mau apa?"
"Emang nggak boleh dateng ke rumah anak sendiri?" Ayum berbalik dan menatap Amor yang kesulitan menjawab. "Evas sudah lama nggak pulang," lanjutnya kemudian keluar kamar.
Amor segera mengikuti sebelum mendapat sindiran keras. "Evas minggu ini sibuk, Ma."
"Nggak kamu larang, kan?"
"Mana mungkin, Ma!" jawab Amor sambil menuruni tangga. "Mama mau minum?"
Ayum tidak langsung menjawab. Dia berjalan menuju ruang kerja Evas lalu memutuskan masuk. Amor bergegas mengikuti, bingung dengan tindakan mama mertuanya.
"Mama nyari apa?" tanya Amor penuh penasaran.
Ayum meletakkan tas jinjingnya lalu menghadap Amor. "Ruangan ini nggak boleh sembarangan orang masuk, kan?"
"Iya, Ma."
"Mama perlu ngomong sama kamu," ujar Ayum membuat ekspresi Amor berubah khawatir. "Kamu udah isi?"
Tanpa sadar tangan Amor terkepal. Dia sudah menebak jika mama mertuanya tidak akan jauh-jauh menanyakan kehamilan. "Belum, Ma."
"Keluarga kita butuh keturunan. Mau siapa nanti yang lanjutin perusahaan?" tanya Ayum.
Amor mengangguk. "Tunggu sampai...."
"... nunggu kamu hamil?" tanya Ayum. "Sampai kapan? Nunggu sampai Evas tua?"
Amor menarik napas panjang. "Aku kepikiran buat bayi tabung."
"Telat banget!" jawab Ayum. "Kenapa kamu nggak nyuruh Evas nikah lagi aja? Mama yakin, ada yang salah sama tubuhmu."