Suara rintik hujan terdengar dari ruang perawatan Amor. Di ruangan itu dia sendiri. Pembantunya dia minta pulang, sementara Evas belum kembali. Hawa yang sejuk, membuat pikiran Amor sedikit tenang. Meski terus terbayang foto-foto sang suami.
Rasanya Amor tidak ingin percaya. Suaminya tampan, pasti banyak wanita di luar sana yang melakukan segala cara untuk menghancurkan rumah tangganya. Tetapi, di satu sisi dia percaya jika Evas menduakannya.
Pertama, saat mama mertuanya meminta Evas menikah lagi dan ngotot meminta Amor memberi restu. Dari situ saja Amor sudah bisa berpikiran buruk tentang mama mertuanya. Bisa jadi mama mertuanya dan Evas sudah mempersiapkan semuanya.
Kedua, Amor merasa Evas semakin sering pulang larut. Sebelumnya memang seperti itu, tapi Evas sering memberi alasan panjang. Sebelumnya tidak seperti itu. Artinya memang ada yang ditutupi sehingga harus meyainkan Amor.
Ketiga, tentu saja foto itu. Amor ingat ada seorang lelaki yang menurutnya bukan kurir. Lelaki itu mengenakan setelan seba hitam dan tubuhnya tinggi. Amor yakin, jika itu orang suruhan wanita yang ada di foto.
"Bentar! Apa gue cari siapa pengirimnya?" gumam Amor lalu menoleh ke nakas. Dia melihat ponselnya tergeletak di samping tempat minum. Perlahan dia bergeser dan mengambil ponsel itu. Amor lalu mengakses CCTV rumah.
Amor tidak melihat suaminya itu berada di ruangan lain. Kemungkinan sang suami di kamar atau mungkin sudah pergi. Karena hanya area kamar yang tidak ada kamera. Lantas Amor mencari kontak bagian keamaan rumah untuk mencari tahu.
Tut... Tut... Tut....
"Ke mana, sih?" keluh Amor kala tidak bisa menghubungi. Dia meletakkan ponsel di samping bantal lalu mengambil benda yang tersembunyi di baliknya.
Amor melihat foto-foto Evas yang diambiil candid. Dia mencoba mengingat kapan suaminya itu mengenakan setelan seperti itu. Tetapi, dia tidak mampu mengingat. Evas lebih sering mengenakan pakaian berwarna gelap dan polos. Dia tidak bisa memastikan dari pakaian yang dikenakan lelaki itu.
Amor kembali melihat foto lain, hingga mendapati sebuah tempat dengan gorden kemerahan. Dia mendekatkan foto itu dan memperhatikan dengan saksama. "Kayaknya nggak mungkin ada kamar yang gordennya merah," gumamnya. "Nggak mungkin juga kamar hotel kayak gini."
Ceklek....
"Haduh. Di luar hujan."
Seketika Amor menyembunyikan foto ke balik bantal lalu pura-pura memejamkan mata. Dia menggeliat lalu membuka mata dan menatap Evas. Terlihat lelaki itu mengenakan jaket denim dengan beberapa kantung di tangan.
"Kebangun?" Evas mendekat melihat Amor yang memperhatikannya. "Aku bawa cemilan. Kata dokter kamu bebas makan apa aja."
"Nggak mau."
"Eh, biar cepet sembuh." Evas mendekat lalu meletakkan kantung di samping ranjang. Dia mengambil bungkusan roti sisir dan menunjukkan ke Amor. "Kesukaanmu."
Amor tersenyum. "Suapin."
"Kalau sakit manjanya muncul," canda Evas lalu duduk di kursi samping ranjang. Dia mulai membuka roti sisir itu dan menyuapkan ke Amor. "Enak?"
"Hmm...."
Evas menatap roti sisir yang harganya tidak seberapa. "Lebih enak di bakery lain."
"Tapi, aku lebih suka ini."
"Ya, kamu udah pernah cerita," jawab Evas lalu menyuapi Amor lagi. Dia memperhatikan wajah wanita itu yang tidak lagi pucat. Dia tersenyum lega, artinya tidak ada hal yang serius terjadi.
Amor memperhatikan Evas. Lelaki itu terlihat segar, sepertinya tadi juga menyempatkan tidur. "Kamu jadi nggak ke kantor."
"Nggak apa-apa. Aku nemenin istri dulu."
"Biasanya kalau habis dari luar kota, pasti sibuk," ingat Amor.
Evas tersenyum samar. "Aku harus mentingin istriku." Dia mengusap sudut bibir Amor lalu kembali menyuapi.
Air mata Amor berdesakan keluar. Setiap melihat Evas, dia langsung terbayang foto lelaki itu. Jika sudah seperti itu, rasanya dia ingin menangis histeris. Tetapi, akan membuat Evas curiga lalu menutupi kesalahannya.
"Ayo," ujar Evas kala menyuapi, tapi Amor hanya diam.
Amor membuang muka lalu mengusap sudut mata. "Aku udah kenyang," jawabnya. "Buat besok aja."
Evas melahap roti yang telah dipotong lalu menggulung pastiknya. "Oke," jawabnya. "Tidur aja biar cepet pulih."
"Iya!" Amor memejamkan mata lalu air matanya menetes.
"Jangan nangis." Evas berdiri, melihat air mata Amor yang berdesakan keluar. Dia membungkuk lalu mengecup pipi wanita itu. "Bentar lagi sembuh kok."
Amor mengangguk. Jika sakit dia memang manja dan sering menangis. Evas jelas merasa seperti itu. Padahal, Amor menangisi hal lain.
***
"Jadi, ini rumahnya?"
"Menurut informan saya seperti itu, Pak."
Rex memperhatikan sebuah rumah dengan keseluruhan lampu yang telah padam. Dia memperhatikan pagar kayu dengan ujung runcing itu. Di beberapa bagian kayu itu dimakan rayap. Cat kayu itu juga mengelupas hampir di beberapa bagian.
"Kayaknya udah lama nggak ditinggali," ujar Rex tidak begitu yakin. Dia membuka pintu lalu turun dari mobil. Tidak peduli, kondisi di luar masih gerimis.
Avif—orang kepercayaan Rex—seketika turun dari mobil. Dia menuju bagasi dan mengeluarkan payung. Dia segera membuka dan memayungi Rex.
"Nggak bisa dibuka, nih?" Rex mendorong pagar kayu itu. Tetapi, terlihat gembok besar di bagian dalam.
"Harus banget masuk?"
Rex tidak menjawab. Dia memegang sisi atas pagar kemudian meloncat ke bagian tengah. Kakinya bergantian memijak bagian dalam pagar lalu meloncat turun.
"Pak Rex!"
"Tunggu situ!" ujar Rex lalu memperhatikan halaman rumah yang dipenuhi dengan rumput liar. Dia berjalan ke teras, melihat sisi lantai yang pecah karena ditumbuhi tanaman. Kemudian dia mendekati jendela dan mengusapkan ujung jarinya.
Rex melihat jemarinya tertempel debu yang cukup tebal. Dia meniup debu itu, tapi tidak bisa hilang begitu saja. Lantas dia mengusapkan ke belakang celana.
"Pak Rex!"
"Diem aja di situ!" geram Rex lalu mendekati pintu. Dia memegang gagang pintu yang terasa dingin dan kotor lalu menggerakkannya pelan. Tentu saja tindakannya percuma karena pasti dikunci oleh pemiliknya.
"Ada apa ini?"
Avif seketika menoleh. Dia melihat seorang lelaki yang mengenakan payung dan menggerakkan senter. "Maaf, Pak," ujarnya lalu menatap Rex. "Pak Rex."
"Nggak mungkin, kan, kalian mau maling?" Lelaki itu melihat sebuah mobil hitam yang terparkir. Lalu menatap dua orang yang mendekati rumah kosong di kompleknya.
Rex segera keluar sebelum ada yang mencurigai. Dia lalu menatap lelaki itu dan membungkuk sopan. "Mohon maaf!" Kemudian dia segera masuk mobil.
Sementara lelaki yang membawa senter itu menatap heran. Dia merasa ada seseorang yang hendak mencari tahu rumah kosong itu. "Gue harus kasih tahu pemiliknya!" Dia berbalik dan berjalan tergesa-gesa.
***
Drtttt....
Lelaki yang tidur di sofa dengan posisi miring itu tersentak kaget. Dia merasakan ada getaran yang tidak kunjung berhenti di saku celana. Seketika dia bangkit dan mendapati sang istri yang masih terlelap di ranjang pasien.
Drttt....
Perhatian Evas kembali ke getaran itu. Dia mengambil ponsel dan melihat nama yang tertera. Seketika dia berjalan keluar tanpa menimbulkan suara. "Halo."
"Kenapa seharian nggak hubungi?"
"Istriku sakit," jawab Evas lalu menatap ke kaca pintu. "Tolong jangan telepon dulu."
"Mana bisa? Aku kangen!"
Evas menghela napas panjang. "Udah, ya! Kalau ada waktu aku samperin."
"Chat aja bisa nggak? Aku nggak bisa tidur."
"Ya udah. Tapi, nggak sampai lama." Evas menjauhkan ponsel lalu memutuskan sambungan. Dia kembali masuk dan melihat Amor masih terlelap. Seketika dia mendekati sofa dan berbaring terlentang.
Drttt.... Ponsel Evas kembali bergetar, kali ini getaran itu lebih pendek. Dia lalu membalas pesan masuk itu.
Di ranjang, perlahan Amor membuka mata. Dia melihat Evas yang berbaring agak membelakanginya. Amor menatap lelaki itu, memperhatikan gerakan siku yang samar-samar terlihat.
Amor sebenarnya tidak bisa benar-benar tidur. Rasanya memang beda tidur di rumah dan tidur di tempat baru. Tetapi, dia terus memejamkan mata dan merasa Evas mengiranya sudah tidur. Amor bahkan tahu saat Evas keluar ruangan. Hanya saja dia tidak mendengar ucapan lelaki itu. "Awas aja!" gumamnya. "Gue bakal cari tahu."