Esok harinya, Amor sudah diperbolehkan pulang. Dia dibantu oleh ART dan sopirnya. Sementara Evas tentu saja kembali bekerja. Jika tidak ada masalah, Amor sudah pasti akan merengek meminta ditemani Evas. Tetapi, kali ini dia membiarkan.
Amor merasa harus agak jauh dari suaminya, agar pikirannya sedikit tenang. Dia terpikir untuk tidur di kamar lain dengan alasan agar Evas tidak tertular. Tetapi, alasan itu tidak mungkin diterima suaminya.
"Ada Bu Ayum?"
Tubuh Amor seketika menegang kala mendengar mama mertuanya. Dia menatap depan, melihat sebuah mobil putih di halaman. Ekspresi Amor seketika berubah. Niat hati ingin istirahat, tapi mama mertuanya muncul.
"Udah datang kamu?" Ayum keluar rumah kala mendengar deru mobil. Dia berjalan menuju anak tangga luar, melihat pembantu Evas membukakan pintu untuk Amor.
Amor perlahan keluar dan melihat Ayum yang menatap penuh selidik. Sepertinya Evas yang memberitahu. Dia lupa melarang Evas untuk tidak memberi tahu yang lain.
"Sakit apa? Waktu mama ke sini baik-baik aja." Ayum memperhatikan wajah Amor yang tidak sesegar biasanya. "Kecapekan nata tas baru, ya?"
"Enggak, Ma!" Amor mendekat dan menyalami mamanya. Setelah itu dia berjalan lebih dulu menuju lantai dua.
Ayum segera mengikuti. "Mama udah buatin bubur."
"Iya, Ma."
"Nggak tahu terima kasih!" geram Ayum melihat Amor yang menaiki tangga. Dia lalu menatap pembantu Evas dan menggerakkan tangan. "Siapin." Setelah itu Ayum segera menyusul Amor.
Amor kembali berbaring di ranjang. Dalam hati dia mulai menghitung, yakin sebentar lagi Ayum akan muncul.
"Sakit apa sebenernya?"
Tanpa sadar Amor tersenyum kala dugaannya terbukti. Dia menatap mama mertuanya yang mendekat lalu duduk di pinggir ranjang. "Cuma kecapekan, Ma."
"Jelas kecapekan belanja terus."
"Sebelum itu aku udah capek kayaknya."
"Kalau udah tahu capek ngapain ajak Evas keluar?" tanya Ayum. "Evas jadi nggak bisa ke kantor."
Amor tersenyum kecut. "Aku sakitnya juga nggak tiap hari, Ma."
"Nggak usah jawab kalau dibilangi!" Ayum menatap Amor tak suka. "Dulu, kamu itu penurut. Makin lama ketahuan aslinya."
Rasanya Amor ingin tertawa. Justru dialah yang lebih merasakan itu. Awalnya Ayum seperti mertua idaman. Tetapi, lama-lama seperti nenek sihir. Andai Amor mengatakan itu sudah pasti Ayum mencak-mencak dan menuduhnya macam-macam.
"Cepet sembuh! Biar nggak ngerepotin Evas!" Ayum berdiri lalu memutuskan keluar.
Amor memijit kepala. Sepertinya hari ini akan dia lalui dengan emosi. Dia berharap tidak sampai tumbang dan membuat Ayum kian menyudutkannya.
***
Pukul delapan pagi, Rex duduk di ruang kerja. Perhatiannya tertuju ke deretan kertas yang ditata memenuhi meja. Dia memperhatikan bukti-bukti yang sudah terkumpul, tapi tidak kunjung mendapatkan hasil.
Rex mengambil salah satu kertas dan membaca biodata seseorang. "Dia nggak ganti identitas, kan?" gumamnya sambil memperhatikan foto seorang gadis yang tersenyum samar. "Gue harus cari lo dari mana?" Rex meletakkan kertas itu dan melihat kertas lain.
Kepala Rex rasanya mulai pecah. Ini pertama kalinya dia mencari seseorang dan cukup kesulitan. Dia tidak memiliki sumber utama. Jadi, yang bisa dilakukan hanya menyambungkan benang merah yang belum tentu benar-benar sambungannya.
Kringgg....
Telepon di ujung meja Rex berbunyi. Dia mengangkat gagangnya dan menempelkan di telinga. "Ya."
"Pak, waktunya rapat."
"Sama siapa?" tanya Rex tidak mampu mengingat jadwalnya.
"Tim teater. Untuk menentukan pertunjukan berikutnya."
Rex menghela napas panjang. "Oke! Tunggu lima menit!" Dia meletakkan gagang telepon itu dengan kasar lalu merapikan kertas-kertas yang telah ditata. Dia memasukkan di map dan menyimpannnya di laci.
"Awas aja bakal gue cari sampai ketemu," gumam Rex dengan rahang mengeras. "Nyawa harus dibalas dengan nyawa!" Dia tersenyum samar lalu berjalan keluar. Sejenak, Rex melupakan dendamnya dan harus menjadi sosok pemimpin yang profesional.
***
Pulang kerja, Evas tidak langsung kembali ke rumah. Dia sempat menelepon pembantu rumah untuk mencari tahu kabar Amor. Dia cukup lega karena sang mama masih berada di rumah.
Evas bergagas keluar dari basement menuju pintu lift. Dia lalu mengeluarkan ponsel barunya dan menekan satu-satunya nomor yang tersimpan. Sambil menunggu panggilannya dijawab, Evas melihat panel lift yang terus bergerak naik.
Tring....
Evas hendak melangkah keluar, tapi ada seseorang yang hendak masuk. "Kamu mau ke mana?" tanyanya melihat wanita itu mengenakan pakaian rapi.
Norin tersenyum melihat lelaki dengan setelan abu-abu itu. "Aku harus pergi."
"Ke mana? Aku udah sempetin waktu ke sini." Evas memasukkan ponsel ke saku celana dan memperhatikan Norin.
"Penting, Sayang." Norin masuk lift dan menekan angka satu. Setelah itu dia menghadap Evas. "Atau, kamu mau nunggu?"
Evas menggeleng tegas. "Amor sakit. Aku harus jaga dia."
Norin mendengus. "Terus aja temenin istri."
"Ya gimana? Nanti dia curiga," jawab Evas. "Sebenarnya kamu mau ke mana, sih?"
Norin menghampiri Evas dan memeluknya. "Ada kerjaan bentar."
"Teater udah mulai?"
"Bukan teater."
"Kamu ada kerjaan lain?" Evas seketika mengurai pelukan dan menatap Norin tajam. "Bilang, kerjaan apa itu?"
Norin menggeleng pelan. "Aku mau temui nenekku, Sayang. Ya ampun curigaan banget!" Dia menarik pipi Evas dengan gemas. "Sabtu, deh, kita seru-seruan bareng. Gimana?"
"Asal Amor udah sembuh."
"Amor lagi!" Norin mundur selangkah lalu menghadap ke pintu.
Evas sadar memang tidak bisa meninggalkan Amor begitu saja. Bahkan, dia sadar cintanya hanya untuk Amor. Dia hanya menjadikan Norin partner saat suntuk. "Ya udah, kabari kalau nggak sibuk."
Norin menoleh lalu mengedipkan mata. "Oke, Sayang."
"Percuma dong aku ke sini."
"Sabar. Tunggu hari Sabtu," ujar Norin. "Kamu bebas ngelakuin apapun nanti."
***
Waktu telah menunjukkan pukul sembilan. Amor belum bisa tidur karena Evas belum juga datang. Seharian dia sengaja tidak menghubungi. Dia pikir, Evas akan pulang lebih awal karena dia baru pulang dari rumah sakit. Ternyata tidak.
Amor seketika berperasangka buruk. Mungkinkah Evas menemui wanita di foto? Tetapi, melihat Evas yang gila kerja sepertinya tidak mungkin.
Dap... Dap... Dap....
Jantung Amor seketika berdegup cepat. Dia menatap ke arah pintu, merasa jika itu suara langkah kaki Evas. Tak lama pintu terbuka dan seorang lelaki dengan setelan abu-abu berjalan masuk.
"Belum tidur, Sayang?" Evas tersenyum mendapati Amor yang memperhatikannya. Dia melangkah mendekat lalu mengecup puncak kepala istrinya. "Mama tadi nemenin, kan?"
Perlahan Amor bangkit dan memperhatikan rambut Evas yang agak berantakan. "Aku siapin air hangat, ya!"
"Nggak usah! Kamu baru sembuh," ujar Evas lalu berdiri tegak. "Aku bisa sendiri kok." Dia berbalik dan melepas jas yang mulai menyiksa.
Diam-diam Amor memperhatikan. Evas melempar pakaian itu ke sofa, tapi tidak dengan celananya. Lelaki itu lantas berjalan ke belakang masih dengan memakai celana. "Celananya nggak dilepas sekalian?"
"Nanti kamu kepengen!"
"Dasar!" geram Amor lalu menatap ke kemeja dan jas Evas. Penasaran, dia turun dari ranjang dan mengambil kemeja itu. Dia mengangkatnya agak tinggi berusaha mencari bukti. Sayangnya, tidak ada bekas noda yang tertinggal. Amor lalu mengidu aroma kemeja itu dan tidak ada aroma parfum lain yang menempel.
"Ngapain?"
"Eh...." Amor seketika menjatuhkan kemeja itu dan menatap Evas yang kembali. "Kenapa kok balik?"
"Mau ambil ini." Evas mengambil jas dan kemejanya. "Tidur aja. Hari ini nggak apa-apa nggak ngurus suaminya." Setelah itu Evas menuju kamar mandi. Dia melihat jelas saat Amor mengangkat kemeja dan mengendusnya pelan. Apakah mungkin wanita itu curiga? Evas menggeleng tegas. Selama ini dia selalu bermain aman.
"Duh! Hampir aja ketahuan." Di tempatnya, Amor menghela napas lega.