Suara orang berlalu lalang terdengar di sekitar kantin Universitas yang ada di samping rumah membuat Dana beberapa kali melirik ke arah samping kanan dan kiri untuk menyapa beberapa staf dan dokter rumah sakit yang ikut makan siang di kantin kecil yang ada di bagian belakang Kampus ini. Dia melirik ke arah Kurniawan yang kini terdiam. Wajah jenakanya yang dulu sering dia perlihatkan kepadanya berubah menjadi serius. Sesuatu yang jarang diperlihatkan oleh rekan kerjanya itu, bahkan hampir tak pernah dia perlihatkan. Pria di depannya ini selalu memasang tampang ramah dan mudah senyum, berbeda dengan hari ini. Kata – kata yang dia ucapkan tadi seolah berhasil membuka topeng yang pria itu berikan kepada semua orang yang ada di rumah sakit termasuk dirinya. “Dokter jadi traktir saya makan sia

