“Nah.. dr. Lee Dana dah datang,” ujar Tika memperkenalkan Dana kepada para perawat lain yang berkumpul. “Kenalin dok, ini Helen, Resti sama Mira.” Tika memperkenalkan satu persatu perawat yang ada di depannya.
“Mereka satu bagian sama saya di IGD, dok. Cuman kami kadang-kadang aja kebagian shift kerja yang sama.”
“Dana Lee, mohon bantuannya,” ucap Dana menggunakan bahasa Indonesia, lalu menundukkan kepala.
“WOW!” pekik ketiga perawat lain yang sedang bersama Tika.
“Saya terkejut. Bahasa Indonesia dokter benar-benar bagus,” puji Helen.
“Saya juga. Nggak bakalan ada yang mengira kalau dokter orang asli Korea kalau kayak gini,” lanjut Resti membuat Dana tersenyum simpul. “Ikam ja yang sipit kalah, Mir,” olok Resti pada Mira membuatnya mendengus.
“Sialan!” dengus Mira kesal. Dani terkekeh pelan mendengar pertengkaran kecil yang diperlihatkan kedua perawat di depannya. Mengingatkannya kepada Da ni dan Dini yang selalu berselisih paham sepanjang waktu. Walaupun, Dana sendiri bingung kenapa masing-masing dari mereka tetap bertahan dan bekerja sama sebagai Artis dan Manager, jika dilihat dari track record perselisihan mereka.
Dana Menilai satu persatu perawat sebaya yang akan bekerja sama dengannya itu. Helen yang terlihat paling tinggi diantara mereka dengan badan sedikit berisi, wajah kuning langsat dengan kaca mata yang bertengger di wajahnya membuat Helen terlihat cukup cantik. Resti, yang begitu mungil, membuatnya terlihat seperti anak SMA yang menggunakan pakaian perawat, lalu Mira, gadis asal Samuda ini memang terlihat lebih sipit dari ketiga temannya yang lain. Dengan kulit lumayan putih, namun dengan wajah yang dipenuhi dengan bekas-bekas jerawat, sedikit memudarkan kecantikan yang ia miliki.
“Saya kira dokter nggak mau ngumpul sama kita,” ucap Mira lemah membuat Dana dengan cepat menggeleng.
“Bukan seperti itu, saya hanya segan menyapa duluan dan tak tau bagaimana cara dekat dengan kalian.” Keempat perawat itu dengan serempak ber-Oh ria.
“Mulai sekarang, jangan segan lagi, dok. Bergaul seperti biasa. Anggap saja kami teman dokter untuk bicara dan mengetahui seluk beluk kota Sampit.” Dana tersenyum simpul lalu mengangguk.
“Mana pentolnya?” tanya Tika sedikit keras pada Mira yang menepuk keningnya.
“Astah. Kada ingat dibuka[1],” ucap Mira dalam bahasa Banjar bergegas menaruh dua plastik hitam di atas meja.
Dana mengernyitkan kening, saat Mira mengeluarkan tempat mika berukuran sedang, plastik bening berisi cairan merah kental.
“Wuih!” pekik ketiga teman lainnya yang saat tempat mika itu terbuka memperlihatkan tumpukan benda bulat beraroma daging yang membuat Dana meneguk air liurnya.
“Nukar di muka Mentari lo?[2]”
“iih ah. Mana pamannya tu semakin rami ja berjualan. Hibak lalu manusia,[3]” gerutu Mira dalam bahasa Banjar kembali membuat Dana mengernyitkan kening tak mengerti.
“Indonesian, please,” ujar Resti dijawab dengan gerutuan mereka bertiga.
“Pina harat nyuruh pake bahasa Indonesia, sorang pake bahasa Inggris[4],” dumel Tika melemparkan remasan plastik yang tepat mengenai hidung Resti membuatnya mendengus kesal.
“Jangan diherankan, Dok. Mereka emang sedikit ‘rada-rada’.” Dana terkekeh kecil saat Helen membentuk garis miring pada dahinya dengan jari telunjuk.
“Pentol, dok,” tawar Helen menyodorkan makanan bulat yang sudah dilumuri dengan saus tomat pedas, sedikit mengingatkannya pada tteobokki atau kue beras pedas. Jajanan asal negara asalnya yag bisa dijumpai di pinggir jalan.
“Ini apa?”
“Bola daging, dok. Orang Jakarta bakalan bilang kalau ini bakso. Tapi, orang Kalimantan menyebut bakso tanpa kuah ini dengan Pentol. Di Kalimantan, baru bisa disebut Bakso jika lengkap dengan Mie, kuah dan sayuran. Jika tidak, cukup panggil ‘dia’ dengan sebutan Pentol,” jelas Tika disela dengan canda.
“Enak kan, dok?” tanya Resti setelah Dana memakan pentolnya. Dana mengangguk merasakan rasa gurih dari daging yang digiling dengan tepung kanji.
“Rasanya mengingatkan saya dengan omuk.”
“omuk bukannya kue yang berasal dari daging ikan yang sering dijual dengan tteobokki itu bukan, dok?” tanya Tika yang dijawab anggukan Dana.
“Saya penasaran dengan rasa tteobokki. Ngeliat banyak artis di drama Korea yang memakan makanan itu dengan begitu nikmat.”
Dana hanya mengangguk, menusuk kembali pentol keduanya. Ia sudah mengerti dari jauh hari kenapa banyak masyarakat Indonesia yang pertama kali dipikirkan saat melangkahkan kaki di Korea Selatan adalah merasakan bagaimana tteobokki dan omuk. Begitu pula, dengan kedua sahabat Indonesianya. Kedua jajanan itu selalu menjadi favorite mereka.
“Dokter Dana di Koreanya tinggal dimana?” tanya Resti mulai kepo.
“Seoul.”
“Dimananya? Pusat kotanya?” tanya Resti antusias.
Dana hanya mengangguk membenarkan, tanpa ingin memberitahukan mereka bahwa ia tinggal di daerah Gangnam. Salah satu kawasan elite di Korea selatan.
“Tinggal di daerah kota sering lihat artis nggak, dok?” tanya Mira tiba-tiba membuat Dana tersentak.
“Ikam kira Seoul seluas Sampit yang bisa ngelihat Artis dari Jakarta yang lewat saat handak[5] konser?” celetuk Helen membuat Mira merenggut.
“Yee... Kali aja pas dokter lagi ngafe-ngafe gitu ketemu sama personel Super Junior, 2pm, Big Bang, Infinite atau yang lagi heboh ni duo pasangan artis kesukaan kita. Double K.”
“Double K?” tanya Dana bingung memikirkan siapa yang dimaksud Mira.
“Iya, dok. Kim Dani dan Kim Jun Hoo. Ah.. Sumpah mereka so sweet banget di drama terbaru mereka. Chemistry Song – song couple mah, nggak ada apa-apanya.”
“Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ...,” Dana tersendak pentol yang ia makan saat Mira mengucapkan kedua orang yang begitu ia kenal.
“Kenapa, dok?” tanya Keempat perawat itu panik. Dengan cepat, Resti mengambil es teh ada di dalam plastik dan memberikannya kepada Dana.
“Pelan – pelan, dok,” ujar Tika menepuk punggung Dana pelan. “Ikam ni bepander terlalu besemangat apa da dokter sampai kesadakan![6]” dumel Tika pada Mira yang langsung menunduk.
Dana hanya tersenyum simpul, sebelum kemudian mengangguk. Tangan kanannya mengurut dadanya yang sedikit sesak akibat tersendak. Ia tak dapat menyalahkan Mira. Ucapan terakhir yang dikatakan Mira tadi membuatnya tersendak. Matanya menatap keempat perawat muda itu, memikirkan bagaimana reaksi mereka jika mengetahui bahwa dia adalah sahabat dari Kim Dani, artis dan penyanyi paling populer di Korea sekarang.
“Ah, iya.. Dokter yang menggantikan shift saya belum datang?” tanya Dana mencari keberadaan orang yang akan menggantikannya.
“Dr. Kurniawan. Maklumin aja kalau dia telat, satu sampai dua jam dari jam kerja yang seharusnya. Dia raja telat soalnya,” celetuk Helen membuat ketiga temannya mengangguk.
“Selain dokter itu tidak ada yang lain?”
“Ada kok, dok. Ada dua dokter jaga sama tiga dokter intern yang menangani IGD. Dokter Enno yang dokter liat tadi, dr. Kurniawan yang mungkin nanti datang. Dokter Wulan, Tri sama Yuniar yang masih menyelesaikan internship mereka. Kadang-kadang, dr. Sakti juga turun tangan saat banyak pasien.”
Dana mendengarkan dengan seksama saat Helen mulai menjelaskan tentang dokter-dokter yang akan bekerja sama dengannya. Dr. Enno yang terkesan penutup dan lebih suka menyendiri seperti dirinya dulu, dr. Kurniawan, dokter yang kata mereka lumayan tampan namun memiliki sifat flamboyan bahkan cenderung begitu ramah pada orang-orang yang baru diketahuinya, ketiga Trio dokter Intern yang lebih banyak menghabiskan waktu mereka dengan bergosip daripada membantu dokter lain. Lalu, dr. Sakti. Dokter dingin yang mempunyai aura magis jika berada di dekatnya. Walaupun, dia dokter yang paling tampan di rumah sakit ini, tapi sikap dingin dan ketegasan yang ia perlihatkan membuat semua wanita yang awalnya menyukainya mundur teratur karena segan.
“Hayo ... pada ngomongin gue, ya?” sapa suara berat dari belakang Dana membuatnya terkejut.
“Dokter Kur, udah datang. Ce elah, dok. Tembuni bepatak di pinggir batang, pina harat bepander pake Lo-gue[7],” celetuk Tika membuat ketiga perawat lainnya tertawa termasuk Dina.
“Dokter Kur? Sembarangan dikiranya kita ayam!” ucap dokter flamboyan itu dengan sedikit teriak.
“Ngomongin apa?” tanya dr. Kurniawan menusuk pentol yang ada di atas meja lalu langsung memakannya. “Wow, siapa ini?” tanya dr. Kurniawan saat menyadari keberadaan Dana di depannya.
“Dia dokter dari Korea yang mulai bekerja di rumah sakit ini mulai kemarin. Dokter main tidur ala kebo segala sih, makanya nggak kenal.”
Dr. Kurniawan merapikan rambutnya lalu mengusap tangannya sebelum kemudian menyodorkan tangan. “Kurniawan. Panggil aja Awan.”
“Dana,” ucap Dana menyambut uluran tangan dr. Kurniawan.
“Nama yang cantik,” jawabnya lagi mengecup tangan Dana sehingga membuatnya tersentak dan menjauhi.
“Dokter ngambil kesempatan dalam kesempatan itu namanya. Main cium sembarangan, bukan muhrim kali, dok. Itu juga Awan. Dari mana Awan, jelas-jelas panggilan dokter di sini Kur kalau nggak Nia, enak aja dipanggil Awan,” celoteh Mira membuat dr. Kurniawan melotot kepadanya yang dibalas dengan lototan yang sama.
Dana mengusap tangan yang baru saja dikecup dr. Kurniawan tadi sekaligus memperhatikan penampilannya. Kaus Polo shirt berpadu dengan celana jean belel yang dikenakannya membuatnya tidak terlihat seperti dokter. Tipe bad boy dan player yang akan dengan mudahnya mematahkan hati wanita yang sudah tidak disukaninya nanti.
“Dokter Dana,”
“Ya...” jawab Dana saat mendengar dr. Kurniawan memanggilnya. Sedikit mendengus saat senyum ala player tercetak jelas di wajahnya.
“Kalau ada sesuatu yang tidak dokter mengerti silahkan datangi saya. Saya dengan senang hati membantu dokter.”
Dana sedikit tersentak dan membeku saat dokter bad boy nan flamboyan itu mengedipkan mata. Dana hanya terkekeh pelan seraya menatap keempat perawat dan dokter tampan itu berinteraksi tanpa batasan seperti biasanya. Helaan napas leganya kembali terdengar, setidaknya setelah ini ia mempunyai teman-teman baru yang bisa membuatnya membagi keluh kesah tentang pekerjaan bersama mereka.
Mata Dana kembali menerawang,mengingat keempat sahabatnya yang begitu baik kepadanya. Menyemangatinya disaat ia terpuruk saat di tinggalkan Won dulu. I miss you, guys.
Batin Dana berharap akan bertemu dengan keempat sahabatnya lagi secepatnya ...
[1] Astaga, lupa dibuka
[2] Beli di depan Mentari, kan? (Bahasa Banjar)
[3] Iya. Mana jualan pamannya semakin ramai. Banyak orang yang beli. (Bahasa Banjar)
[4] Sombong, kita disuruh pake bahasa Indonesia, situnya pake bahasa Inggris.
[5] Ingin
[6] Kamu ini ngomong terlalu bersemangat sampai membuat dokter tersedak!
[7] Ari-ari ditanam di pinggir sungai, sombong banget biaca pake Lo-gue