Terkuak

1165 Kata
##Bab 7 Terkuak Flashback POV Mayang "Pokoknya kamu harus bayarin utang Ibu, Ardan pinjam uang Ibu loh, lagian siapa suruh Caesar? Jadi wanita kok lemah banget, mules segitu aja udah minta Caesar!" cetus ibu lagi. Astaga, memangnya aku menginginkan itu? Kalau boleh pilih, pastinya akan kupilih melahirkan normal karena tidak perlu menyobek perut ini. Aku menghela napas dalam-dalam, air mata ini menetes ketika mereka mencemooh tentang aku yang melahirkan Caesar. Jangan sampai ucapan mereka membuatku terpuruk, lalu menjadikan Arya korban atas semua ini. Meskipun bekas sayatan operasi masih amat sakit, tapi mendengar penuturan mertua dan adik iparku sangatlah lebih menorehkan luka. Sita, ia itu adik iparku, istri dari Rayyan, adik Mas Ardan. Sita melahirkan putri pertamanya dengan cara normal. Jarak melahirkan antara kami hanya berbeda dua bulan. Sita lebih dulu positif hamil dan pastinya lebih dulu melahirkan. Namun, memang ia lebih beruntung dariku, Sita lebih sempurna dariku. Aku menatap mereka lirih, jika ke sini hanya untuk mengolok-olok aku, kenapa ke sini? Apa maksud dan tujuan mereka hanya bicara tentang utang melahirkan? "Baiklah, nanti akan kubayarkan utang Mas Ardan, bayar ke Ibu tiap bulan?" tanyaku dengan nada datar. "Kamu cicil tiap bulan dari uangmu sendiri, Ibu nggak mau ya kamu bayar pakai uang Ardan. Ini kan kesalahan kamu, kenapa melahirkan Caesar segala?" celetuknya lagi. Dengan d**a yang teramat sakit, aku pun mengangguk dan mengindahkan permintaan ibu mertua. "Baik, aku akan mengganti uang Ibu," jawabku sambil menghela napas. Kulihat wajah ibu tertawa kecil, begitu juga dengan Sita, ia sontak melontarkan senyuman bahkan ada tawa renyah terdengar ketika aku sudah mengindahkan ucapannya. "Ingat, Ardan tidak boleh tahu!" tekan ibu. Aku pun hanya mengangguk. "Bu, berapa perbulannya? Berapa lama aku membayarnya?" tanyaku. "1.500.000 rupiah, nanti ada teman Ibu yang bernama Rika, dia seumuran dengan kamu, tiap bulan akan tagih ke rumahmu selama 24 bulan," jawab ibu. Aku tercengang mendengar penuturan ibu. Bagaimana tidak? Setahuku biaya operasi hanya 20 juta, kenapa aku harus membayar 36 juta? Astaga, apa Ibu pinjam pada rentenir? "Aku nggak mau bayar jika itu uang berurusan dengan rentenir!" tekanku gantian mengancamnya. "Dia bukan rentenir, hanya saja Ibu yang berjanji melebihkannya," jawab ibu. Akhirnya aku hanya mengangguk, dari pada urusan ini menjadi runyam, lebih baik aku setuju saja dulu. Nanti ke depannya bisa kupikirkan kembali, bisa pinjam pada orang tuaku misalnya. Mas Ardan belum datang juga, aku sudah hampir muak berbicara dengan orang tuanya. Seandainya aku bilang pada Mas Ardan tentang masalah ini, pastinya ia akan bertengkar dengan orang tua dan adiknya. "Ingat sekali lagi! Jangan bilang pada Ardan, jika itu terjadi, maka anakmu ini takkan kuanggap cucu, karena ia lahir dengan cara menyusahkan!" tekan ibu lagi. Ya Tuhan, sakit d**a ini, apalagi ia sudah mengancam anakku, bayi yang tak punya dosa pun ia bawa hanya karena proses persalinan yang kutempuh. Aku kuatkan hati ini, meskipun perih kurasa. Biarkan luka yang ia torehkan menjadi goresan hati ini saja. "Kalau Caesar, jangan lupa KB, nanti kamu hamil lagi ngerepotin kami lagi!" celetuk Sita. Aku tidak pernah melukai hatinya, tapi entah kenapa ia sangat membenciku. Sejak menikah kami tak pernah akur. "Kami pulang, ingat ya kalau Ardan sampai tahu dari mulutmu, maka kamu akan menerima akibatnya!" ancam ibu lagi. Astaga, mertuaku kenapa sebegitu kesal hanya karena melahirkan Arya dengan tidak proses normal. Aku terdiam, kemudian mereka pun pergi meninggalkanku sendiri. Namun, tidak lama kemudian, Rayyan kembali ke ruangan. "Mbak, maafkan ibu dan Sita, ya! Aku yakin, Mbak orang yang kuat," bisik Rayyan sembari menggenggam tanganku. Ia menyapu air mata yang menetes di pipiku ini. "Terima kasih, Rayyan. Semoga kamu bisa membimbing istrimu," ucapku padanya. Tidak lama kemudian, Mas Ardan datang, dan terjadilah kesalah pahaman antara mereka. "Apa-apaan ini? Kenapa tanganmu berada di tangan istriku?" sentak Mas Ardan. "Mas, kamu salah paham," isakku. "Aku pulang dulu, jangan dipikirin ya, Mbak!" pesan Rayyan lagi. Kemudian ia pergi meninggalkan ruangan. Entah apa yang membuatnya kembali menemuiku, dan akhirnya Mas Ardan mencurigai kami berdua. "Kamu ngapain, Mayang? Kenapa berduaan dengan adikku?" tanya Mas Ardan. Wajar dia curiga, tapi aku bingung harus berbuat apa. "Mas, nggak usah bahas yang kamu lihat, karena belum tentu benar!" tekanku lagi. Rasanya hati ini sudah enggan berbicara mengenai keluarga Mas Ardan. "Benar, kalian nggak ada apa-apa?" tanya Mas Ardan lagi. "Untuk apa aku bohong? Tubuhku ini sedang tidak berdaya, kamu cekek leherku pun aku pasrah," sahutku sudah bicara ngawur. *** Setelah menyelesaikan cerita masa lalu pada Mas Ardan, aku pun bersandar di bahunya. Tenang rasanya sudah menceritakannya pada suamiku, meskipun belum semua yang kuceritakan. Mas Ardan terus mengecup keningku. Ada air mata yang mengalir di pipinya. "Mas, kamu nangis?" tanyaku sambil tersenyum tipis. "Aku menyesal meninggalkanmu pada waktu itu di rumah sakit," jawab Mas Ardan sambil menyeka air matanya. "Yang sudah lalu biarlah berlalu, Mas. Aku menceritakan ini padamu karena ada sesuatu hal yang mendorongku untuk cerita, termasuk Bu Tiara." Aku yakin ia amat menyesali perbuatan ibu padaku. Makanya, selalu kuurungkan niat untuk bicara kepadanya. Ini semua karena tidak ingin hubungan anak dan orang tua pecah. "Jadi, Ibuku menyuruhmu bayar utang? Astaga, Mayang. Utang persalinanmu sudah aku bayar sejak diangkat jadi manager," tutur Mas Ardan sambil mendesah kesal. "Iya, Mas. Aku bayarkan pada Rika sebulan 1,5 juta. Dan kemarin terakhir aku bayarkan," terangku. "Ibu!" teriak Mas Ardan sembari mengepal. "Mas, sudahlah, utangku sudah lunas pada ibu," jawabku menenangkan. "Dek, utang pada Ibu sudah aku bayarkan tiap bulan 10 juta, sekaligus uang lauk pauk, tapi itu sudah terhitung lunas, lebih dari cukup, kenapa masih meminta padamu!" tekan Mas Ardan. "Aku nggak tahu, Mas. Yang nagih Rika, jadi bayar ke Rika, kata ibu sih dulu pinjam pada Rika," ungkapku. "Kamu tahu rumah Rika? Kita ke sana, tanyakan padanya, untuk apa uang yang ia tagih," usul Mas Ardan. "Ya, Mas. Aku tahu, tidak jauh dari rumah Ibu," jawabku. "Ayo, Dek!" ajak Mas Ardan. Kami pun bergegas ke rumah Rika. Biarkan saja Mas Ardan mencari tahu, kenapa Rika yang menagih utang ke rumahku. Kami meninggalkan danau dan bergegas pergi ke rumah Rika. Ini dikarenakan terlalu banyak utang yang kubayarkan hingga mencapai 36 juta rupiah. Seandainya dulu kutanyakan lebih dulu mungkin berbeda cerita kejadiannya. Namun, ibu terus menerus mengancamku, jika tidak menanggung utangnya pada Rika, maka ia yang akan diincar olehnya. Saat ini, yang kami pikirkan hanya menanyakan pada Rika, untuk apa utang itu? Kalau menanyakan langsung pada ibu, pasti ia berkelit dan bohong pada Mas Ardan. Mobil dilajukan dengan kencang. Ada rasa kecewa yang terpancar di mata Mas Ardan. Sekitar tiga puluh menit dari danau ke perumahan tempat ibu dan Rika tinggal, kami pun tiba di rumah Rika. Namun, betapa terkejutnya kami berdua, melihat sosok ibu berada di rumahnya sembari tertawa riang. "Mas, bukankah itu Ibu?" tanyaku ketika melihat ibu dari kejauhan. Mata Mas Ardan menyipit, lalu menghela napas panjang. "Iya, Dek, itu Ibu. Sepertinya mereka tidak tahu kedatangan kita, lebih baik kamu di sini saja, aku yang ke sana," pesan Mas Ardan. Aku pun mengangguk. Kemudian, Mas Ardan menghampiri rumah bercatkan merah minimalis tersebut. Rasa penasaran kian berapi-api ketika melihat sosok ibu yang melahirkannya berada di rumah Rika sambil tertawa-tawa. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN