##Bab 6 Luka Batin Istriku
Tok ... tok ... tok ....
“Masuk!” teriak Pak Wijaya. Akhirnya kuputuskan untuk mengakhiri pembicaraan pada pihak asuransi. Petugasnya belum selesai memberikan aku informasi tapi sudah kututup teleponnya, karena ada seseorang yang mengetuk pintu.
Dibukanya daun pintu yang terbuat dari kayu jati itu, kemudian masuklah sosok wanita yang ternyata Mayang. Kenapa ia bisa tahu aku berada di sini, di ruangan Pak Wijaya?
Aku menoleh keheranan, mataku terpanah pada wanita yang berdiri di samping pintu yang terbuka lebar.
“Maaf, Pak. Kalau saya lancang ke sini, tapi tadi saya sudah bicara pada Bu Tiara melalui sambungan telepon,” terang Mayang. Kemudian, Pak Wijaya pun mengangguk. Ia tersenyum, lalu menghampiriku dan menepuk-nepuk pundak ini.
“Selesaikan masalahmu dulu, silahkan bicarakan ini berdua di taman atau di tempat yang menurut kalian nyaman,” suruh Pak Wijaya. Ia membuatku terharu, mana ada atasan sebaik Pak Wijaya dan Bu Tiara?
Aku tersenyum, dan meraih telapak tangan Pak Wijaya.
“Terima kasih, Pak. Saya janji akan datang jika sudah selesai,” jawabku sembari menggenggam tangan bos yang sudah seperti saudara sendiri.
Kemudian, aku menggandeng tangan Mayang. Ia pun tersenyum merekah melihat ke arahku. Tak kusangka wanita pujaan datang ke kantor secara mendadak.
“Pak, saya ucapkan terima kasih banyak, salam untuk Bu Tiara,” jawab Mayang. Ia pun tidak melupakan itu, ucapan terima kasih terhadap orang-orang yang telah berjasa. Kemudian, kami pun keluar dari kantor.
Aku bahagia sekali jalan bergandengan tangan bersama dengan Mayang, sudah lama sekali tidak melakukan hal seperti ini. Namun, ada yang terlupakan, kedatangannya ke rumah sakit yang ia bilang ke poli gigi ternyata itu bohong. Baiknya kutanyakan ketika berada di tempat yang Mayang tunjuk.
“Kita mau ke mana?” tanyaku pada Mayang. Biarkan ia yang memilih lokasi yang tepat untuk berbicara serius.
Mayang pun menoleh ke arahku yang sedang memegang setir, ia tersenyum tipis, kemudian menarik tangan ini yang berada di gagang setir.
“Loh, aku sedang ngendarain, Sayang,” ucapku sambil melirik ke arahnya yang tiba-tiba meraih tanganku yang sebelah lalu menciumnya.
“Kita ngobrol di danau, tempat pertama kali bertemu dulu, mau kan?” rayu Mayang. Aku pun mengangguk kemudian membelokkan setir, karena beda arah dengan tempat saat ini.
“Kita ke sana, ya. Tempat pertama kali kita bertemu,” ujarku mengindahkan ucapannya.
Setiap kali menempuh perjalanan, aku selalu melirik ke arah Mayang, kulihat wajahnya yang seperti tertekan dan banyak pikiran. Pandangan matanya ke depan, tapi tatapannya terlihat kosong.
Kenapa setelah melahirkan aku tidak peka terhadapnya? Kenapa selalu menyibukkan diri di kantor. Ketika lelah, kadang malah bermalam di rumah ibu. Ini yang membuatku menyesal telah menyia-nyiakan waktu saat bersama keluarga kecilku.
Mayang pasti kesepian, tidak ada tempat mengadu dan berkeluh-kesah, hanya saja ia tidak berani mengutarakan ini padaku. Atau ia sengaja merahasiakan sesuatu padaku? Bahkan bisa jadi ia diancam oleh ibuku?
Batin ini jadi menerka-nerka, apa yang sebenarnya ia rahasiakan selama ini. Mungkin, bila orang tua Mayang mengetahui hal ini, pastinya aku akan dijadikan tempat pusat kesalahan. Mereka pasti akan menyalahkanku yang tidak perhatian lagi pada Mayang.
Suara angin sepoi-sepoi di danau sudah terdengar, kebetulan mobilku dibuka kacanya oleh Mayang. Ia tampak bahagia melihat pemandangan danau, tempat kami bertemu sebelum berteman lalu berpacaran, hingga akhirnya memutuskan untuk menikah.
Dengan cepatnya, Mayang buka pintu mobil, lalu turun dan mengayunkan kakinya ke arah tepi danau. Ia membentangkan kedua tangannya. Kemudian, tiba-tiba Mayang duduk di rerumputan dan menutup wajah dengan kedua tangannya.
“Mayang, kamu nangis?” tanyaku ketika tiba di samping Mayang.
“Mas ....” Ia memelukku erat-erat, kemudian mendekapku sangat kencang.
“Kamu kenapa, Mayang? Kok nangis?” tanyaku lagi sambil menyeka air matanya.
Wanita yang pernah meluluhkan hati ini dari banyaknya wanita di dunia, kini mengeluarkan butiran air mata yang kesekian kalinya.
“Sekarang, jangan ditunda-tunda lagi, tak perlu menunggu tanggal 5 September, ceritakan padaku sekarang, Mayang!” suruhku menghadap tepat di depan matanya.
Ia menghela napas, kemudian mengembuskannya kembali. Aku pikir inilah saatnya ia akan ceritakan semuanya padaku.
“Baiklah, Mas. Aku akan ceritakan semuanya. Kamu harus siap mendengarkan semuanya, ya!” seru Mayang, aku pun mengangguk.
“Ya, Sayang. Aku sudah siap,” jawabku singkat.
“Bermula dari dua tahun lalu, Mas. Ketika aku melahirkan Caesar.” Mayang pun mulai bercerita di hadapanku.
???
Flashback 2 tahun lalu
POV Mayang
Owe ... owe .... Suara tangisan bayi itu pecah memekikkan telingaku. Namun, rasa bahagia menghampiri, ketika ia disandarkan pada d**a ini, suara tangisan mungil itu tiba-tiba terhenti seakan tahu bahwa ibunya kini akan melindunginya sampai akhir hayatnya nanti.
Aku yang masih tersadar pun tersenyum, tak mampu membelainya, karena tangan ini masih penuh selang infus. Namun, dengan memandang wajahnya saja, aku sudah amat bahagia.
Arya Putra Maulana, nama yang kami berikan untuk anak pertamaku. Ia dilahirkan dengan proses Caesar. Dokter yang menyarankan untuk melakukan tindakan operasi. Ini demi keselamatan ibu dan bayinya.
Aku dan Mas Ardan bahagia menyambut kedatangan bayi mungil yang bernama Arya. Hingga setelah proses operasi pun Mas Ardan tak mampu lepas dari Arya. Ia selalu berada di dekatnya, tidak mau jauh-jauh dari anak laki-lakinya.
Hari pertama, mamaku datang membesuk aku dan cucunya. Bahagia yang terpancar tentunya ia juga rasakan.
“Sayang, selamat, ya. Akhirnya, Mama memiliki cucu tampan,” ucap mamaku ketika ia datang. Papa juga mencium kening wajahku, mereka sangat menyayangi anaknya ini.
“Ardan, bagaimana dengan biaya rumah sakit ini?” tanya mama.
“Emm, udah kok, sudah dibayar oleh ibuku,” jawab Mas Ardan. Aku agak sedikit terkejut, kenapa ibu yang membayarnya? Kenapa Mas Ardan tidak pinjam uang kantor saja?
“Kalau belum dibayarkan, biar Papa yang tanggung,” jawab papa. Namun, Mas Ardan tipe laki-laki yang tidak ingin merepotkan keluargaku.
“Sudah kok, Pah. Ini tanggungjawab seorang suami, pasti akan kulakukan apapun itu.” Kami pun semua terdiam, dan tidak membahas masalah ini lagi.
Kebahagiaan kami sudah lengkap dengan hadirnya Arya di dunia ini. Apalagi mama dan papa, ia bahagia mendapatkan cucu laki-laki. Namun, yang membuatku sedikit sedih, dari keluarga Mas Ardan, belum ada satu pun yang datang.
“Mama pulang dulu, besok kalau pulang ke rumah, kabari Mama, ya!” pesan mama sembari memberikan kecupan untukku.
“Ya, Mah. Nanti kami kabari,” sahutku. Lalu mereka pun meninggalkan rumah sakit tempatku dirawat inap.
Hari kedua paskah operasi Caesar, barulah mertuaku datang bersama adik iparku Rayyan dan Sita. Namun, mereka datang di saat Mas Ardan sedang mengambil pakaian ganti untuknya.
“Bu, Rayyan, Sita,” sapaku sambil mengulurkan tangan yang masih terpasang infus. Wajah mereka tidak seperti mama dan papa kandungku ketika menjenguk anak cucunya.
“Bagaimana paskah Caesar? Enak?” cetus ibu. Batinku terasa tersayat-sayat. Ucapan yang tidak ingin kudengar dari orang yang membesuk, tapi malah mertuaku sendiri yang bicara seperti itu.
“Sakit, Bu. Tapi terbayarkan dengan senyuman Arya,” jawabku.
“Wanita belum dikatakan sempurna jika melahirkan dengan cara dibedah!” cetusnya lagi, seketika air mata ini pun mengalir membasahi pipi. Namun, aku hanya mampu menghela napas panjang agar tidak terbawa emosi.
“Iya, Bu. Maaf aku bukan wanita sempurna untuk anak Ibu,” jawabku singkat.
“Seperti Sita dong, ia melahirkan normal, kamu lemah banget sih, ngeluarin bayi sekecil itu saja nggak mampu!” celetuk ibu lagi. Terlihat wajah sombong terpancar juga dari wajah Sita.
Aku memejamkan mata sejenak, berusaha untuk tenang, karena kondisiku belum benar-benar pulih.
“Bu, makasih ya, sudah bantu biaya persalinanku,” ucapku. Walau bagaimanapun, kemarin Mas Ardan bilang, bahwa ibu yang membayarnya.
“Seandainya kamu lahiran normal, nggak akan mengeluarkan biaya sebanyak itu,” cetusnya lagi. Astaga, ia masih mengungkit persalinanku. Siapa juga yang menginginkan melahirkan Caesar? Ini semua di luar kehendakku.
“Maaf, Bu.”
“Kamu tuh nggak tahu, Mas Ardan pontang panting nyari pinjaman untuk biaya persalinan kamu, makanya jangan lemah jadi orang!” terang Sita membuatku sulit berkata-kata.
“Memangnya Mas Ardan pinjam uang ke mana?” tanyaku penasaran. Sebab, Mas Ardan bilang bahwa uang untuk persalinan dibayarkan oleh ibu mertuaku. Kenapa sekarang ia bilang uang itu adalah hasil pontang panting cari pinjaman?
Bersambung