2. Harta yang Dirampas

1130 Kata
Nathan tersenyum culas, dia berhasil mendapat apa yang dia inginkan selama empat tahun ini. Harta, tahta, jabatan dan segala hal menyangkut kekuasaan kini sudah dia genggam dengan erat melalui cara yang begitu licik. Nathan menatap wanita yang kini tengah menunduk di hadapannya, wanita yang dia gunakan sebagai alat untuk mencapai semua ini. "Ini akan selesai dengan cepat jika kau menandatanganinya." Ujar Nathan lalu mendorong dengan kasar tubuh kurus Clarissa hingga terduduk di kursi yang dia sediakan. Clarissa memandang takut pada lelaki yang berstatus suaminya itu. "Setelah ini apa yang ingin kau lakukan Nat? Apa selama ini tidak ada cinta yang tumbuh di hatimu untukku? Apa kau hanya membutuhkan harta keluargaku? Lalu bagaimana dengan El?" "Cepat tanda tangan dan jangan banyak bicara!" Desak Nathan dia tidak ingin menanggapi ocehan Clarissa malam ini. Nathan ingin semuanya cepat selesai. "Aku sudah berubah seperti yang kau mau, aku sudah mengikuti semua kemauanmu dan menyerahkan segalanya ... bisakah kau memberiku cinta untuk membalas semua itu?" Clarissa sungguh tidak ingin rumah tangganya seperti ini. Semua sudah dia lakukan, ia ingin rumah tangganya tetap utuh. Keyakinannya masih sama seperti beberapa tahun silam bahwa Nathan akan menjadi lelaki baik seperti sebelum mereka menikah, lelaki dengan senyuman tampan dan suaranya yang lembut. Nathan tertawa sarkas mendengar hal tesebut. Nathan hanya butuh harta dan kekuasaan keluarga Gracia setelahnya dia akan membuang Clarissa yang tak lagi berguna, untuk El mungkin ia akan bocah itu masih berguna bagi Nathan. "Kau sungguh naif Clarissa. Apa sikap kasarku selama ini belum cukup membuktikan bahwa aku tidak mencintaimu?" Ujar Nathan dengan tatapan mencemooh. Clarissa menggeleng dengan air mata yang menetes. "Kau mencintaiku Nathan, kau mencintaiku. El adalah buktinya," Mendengar itu amarah Nathan memuncak, dengan kasar telapak tangan besar itu mencapit kedua pipi tirus tersebut dan menatap tajam mata sayu di hadapannya. "KAU!" Bentak Natha. "Hentikan ucapanmu dan cepat tandatangani dokumen ini, jangan memancingku lebih jauh lagi Clarissa Tamara Gracia!!" Lanjut Nathan menekan setiap perkataan yang keluar dari mulutnya. Seakan tuli Clarissa berkata, "Agatha dia bukan wanita yang baik, wanita yang menjadi selingkuhanmu itu mempunyai niat buruk yang tersembunyi dan Alex dia mengihianatimu, dia bermuka dua. Mereka bekerja sama menghancurkanmu Nathan, mereka sudah lama merencanakan ini semua, kali ini percaya lah padaku! Percaya lah bahwa Agatha tidak mencintaimu, Agatha tidak tulus padamu dan Alex membencimu Nathan, mereka ingin membunuhmu!" Clarissa tidak lagi berbicara tentang dia ataupun anaknya melainkan tentang posisi Nathan yang menurutnya dalam bahaya. Gila memang, Clarissa tahu bahwa ucapannya tidak akan pernah dipercaya oleh Nathan sampai kapanpun tapi, dia berharap untuk kali ini saja Nathan mempercayainya. Siang tadi Clarissa tidak sengaja mendengar rencana Alex dan juga Agatha saat kepala keamanan mansion itu tengah menghubungi Agatha melalui sambungan telepon. Suara lelaki yang cukup lama bekerja dengan Natan tersebut sarat akan kebencian yang mendalam, Clarissa tidak mengetahui apa yang sebenarnya membuat Alex begitu membenci Nathan dan berniat membunuh sang suami. "Setelah tidak dapat cinta dariku sekarang bicaramu melantur yah?" Ledek Nathan dan itu bukanlah tanggapan yang diinginkan oleh Clarissa. "Sepertinya aku harus melakukan lebih dari ini agar kau bungkam, suaramu berisik sekali." Clarissa menggeleng mendengar hal tersebut dia menatap kepergian Nathan dengan rasa takut yang teramat dalam akan tetapi tidak ada penyesalan sama sekali atas perkataan yang baru saja diucapkan. Nathan menyumpal kasar mulut Clarissa dengan sapu tangan, dengan kasar Nathan memaksa Clarissa untuk menandatangani dokumen pemindahan nama tersebut. Dia dengan paksa membuat pergelangan Clarissa memegang pulpen diatas meja. Clarissa memandang sendu Nathan. Lalu menatap dokumen di depannya, perlahan tangannya bergerak untuk melakukan apa yang Nathan perintahkan padanya. Nathan yang melihat itu tak henti-hentinya melayangkan senyum kemenangan, lelaki yang berusia 35 tahun itu tidak pernah merasa bersalah atas tindakannya selama ini. Nathan mengambil kertas berharga itu dengan puas. "Kau memang harus di bungkam dulu baru akan menurut." Tubuh Nathan bergerak dan mensejajarkan tubuhnya dengan Clarissa agar Nathan bisa menatap netra coklat itu yang selalu memandangnya penuh cinta. Tak lama dua orang datang memasuki ruangan kumuh ini. Clarissa memandang tajam dua sosok yang baru saja memasuki ruangan ini. "Sayang, kenapa lama sekali? Aku sudah menunggu di kamar tadi." Agatha langsung memeluk lengan Nathan saat lelaki itu sudah menegakkan dirinya. Dan Clarissa cemburu akan hal itu, dia iri Agatha bisa sedekat itu dengan sang suami bahkan menjadi kekasihnya sedangkan dia diperlakukan layaknya b***k. "Aku sudah bilang padamu tunggu lah di kamar." Jawab Nathan dan memandang ke arah Alex, "kau sudah merapikannya?" Alex mengangguk sebagai jawaban, "Sudah, Tuan." "Bagus, usir wanita tidak berguna ini dan jagalah anak bisu itu, aku yang akan mengajarinya mulai sekarang bagaimana cara berbicara." Mendengar itu tubuh Clarissa langsung menegang. Ia tidak masalah jika pergi dari rumah ini, Clarissa tak perlu memusingkan dia akan tinggal di mana nanti karena dirinya masih mempunyai tabungan yang cukup, tapi untuk berjauhan dengan sang putra tercinta dia tidak akan sanggup. Clarissa meraung-raung dan terus memberontak saat Alex menyeretnya dengan paksa. Mulutnya yang masih tersumpal menyisak dirinya. Nathan sendiri tidak peduli akan hal itu, tatapannya kini berali pada Agatha yang terus saja meraba-raba tubuhnya. Perlahan Nathan memiringkan kepalanya lalu mencium Agatha begitu dalam dan penuh hasrat. *** "I hate you!" Nathan terkejut mendengar ucapan yang pertama kali keluar dari mulut seorang bocah yang saat ini dia hampiri. "Ah, bocah kau bisa berbicara?" "Hate you!" El terus saja berkata seperti itu pada Nathan dan menatap Nathan dengan tatapan menantang. Bocah lelaki itu seakan tidak takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. "Baguslah jika kau sudah bisa bicara, kata apa lagi yang akan kau ucapkan? Apa kata perpisahan untuk ibumu?" El terdiam, lalu kembali menatap pria yang selalu memukulnya itu. "I Hate you!" Baru saja Nathan akan memukul wajah El tapi, tindakannya terhenti kala seseorang memeluknya dari belakang. "Lionel kenapa kau berhenti tadi? Kenapa tidak di lanjut, apa kau tidak senang sayang?" tanya Agatha yang kesal saat Nathan menghentikan kegiatan panas mereka saat di ruang bawah tanah tadi. "Bersabar lah, aku ingin mengajari anak ini dulu, dia sudah bisa bicara, ucapannya juga cukup lancar." Jelas Nathan sambil mengelus punggung tangan Agatha yang memeluknya. "Oh yah? Dia berbicara apa?" Nathan diam sejenak. Keraguan dirinya mendadak muncul, entah karena apa Nathan tidak ingin memberitahu ucapan El tadi. "Ibu, dia bicara ibu, sepertinya anak ini ingin bertemu Clarissa." Untuk pertama kalinya Nathan berbohong pada Agatha. setalah tiga tahun mereka menjalin hubungan baru kali ini Nathan berbohong pada Agatha. Agatha mengangguk. "Kalau begitu kita pertemukan saja Clarissa dengan El, hitung-hitung untuk perpisahan ibu dan anak. Benar bukan?" Tanpa ragu Nathan membalas, "Yah, kau benar." "Baiklah kalau begitu hentikan dulu niatmu untuk mendidiknya secara langsung, lebih baik kita lanjutkan kegiatan tadi atau kalau perlu lebih dari itu. Kau tidak keberatan bukan Lio?" Nathan mengangguk dengan senyuman manisnya yang tak pernah dia berikan pada Clarissa maupun El anaknya. Pria itu pergi dengan tatapan yang tak lepas dari El, anak itu terlihat begitu membencinya alih-alih takut seperti tadi pagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN