1. Anak Bisu
"Nathan, kumohon berhentilah membentak dan memukulnya," Wanita cantik dengan rabut coklat itu mendekap anaknya dengan erat. Melindungi tubuh mungil tersebut dari amukan sang pria di hadapannya yang tengah berdiri menjulang tinggi.
Nathan Navelino, itu namanya, sosok yang di takuti siapa saja bahkan anak juga istrinya. Perawakannya begitu tegas, tatapannya tajam bak hewan pemangsa, dia licik dan juga kejam.
Nathan menjabak rambut Clarissa, membuat perempuan yang sudah lama menjadi istrinya itu merintih menahan sakit.
"Aku tidak akan peduli sekalipun kau bersujud padaku!" Bentak Nathan tanpa rasa bersalah sedikitpun, "Seharusnya kau berterimakasih padaku, jika aku tidak keras pada anak ini maka dia akan tumbuh menjadi lelaki lemah dan tidak bisa diandalkan," lanjutnya.
"Nathan ... tolong lepaskan ini sakit," Pinta Clarissa dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Bibir pucat itu bergetar saat mengatakan hal tersebut, netra coklatnya memandang takut ke arah pria yang dia cintai.
Nathan menyeringai, dia melepaskan jambakannya hingga kepala Clarissa terbentur pinggir kasur. Mata tajamnya menatap bocah kecil yang terus menangis dalam pelukan Clarissa.
"Hei Nak, kenapa kau tidak berbicara? Lihatlah wanita yang melahirkanmu ini sedang terluka, apa kau tidak ingin menghiburnya?" Ucap Nathan setelah mensejajarkan posisinya dengan anak kecil di hadapannya dan mencengkeram erat dagu sang anak hingga membuatnya menagis kencang.
"Dasar cengeng. Kau ini bocah lelaki atau perempuan? Kerjanya hanya bisa menangis dan bermain." Cibir Nathan lalu berdiri dan menatap Clarissa juga anak lelaki itu secara bergantian.
"Uruslah anakmu dengan benar agar aku tidak menghukumnya, ajari dia dengan sungguh-sungguh sebelum aku yang mengajarinya. Lihatlah anak seumurannya yang sudah berbicara lancar sedangkan dia? Hanya bisa menangis dalam pelukanmu." Jelas Nathan lalu pergi begitu saja tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Clarissa menahan sakit di area kepalanya, memandang sang anak dengan tatapan teduh. "Jangan takut, Ibu ada di sini tenang lah." Ujar Clarissa sambil mengelus punggung kecil nan rapuh itu.
"El sudah berusaha dengan baik, besok kita coba lagi Ibu yakin kau akan berhasil." Tatapan teduh dia berikan pada sang anak, matanya melebar saat tangan mungil itu menyentuh dan memperlihatkan warna merah di telapak tangan itu.
Clarissa dengan cepat mengambil tangan El dan menghapus jejak darah pada tangan bocah itu. "Ah, ini hanya cat merah yang ayahmu berikan untuk mengihas wajah Ibu, bagaimana cocokkan?" Bohongnya agar El tak merasa lebih takut lagi.
El menggeleng tanda bahwa dia tidak menyetujui ucapan sang Ibu. Anak itu seolah tahu bahwa Clarissa berbohong, dia ingin berbicara tapi tak bisa jadi yang hanya bisa dia lakukan hanya kembali menangis.
Clarissa di buat terkejut kembali. Biasanya El hanya diam sambil memandang bingung wajahnya, bukan menagis kencang seperti ini. "Hei, tenang lah sayang, apa ayahmu begitu kencang memukulnya? Maaf karena Ibu telat menyelamatkanmu."
***
Nathan berjalan dengan angkuh keruangan kerjanya, memandang remeh setiap orang di kantornya dan enggan membalas sapa'an mereka. Bagi Nathan dialah atasannya, dialah orang yang memang sudah seharusnya dihormati, bukan mereka yang bekerja di bawahnya.
Tiba di dalam ruangan Nathan duduk di bangku kebesarannya, mengerjakan tugas serta dokumen-dokumen yang telah menunggunya. Mata tajam itu begitu fokus pada komputernya, sesekali berganti pada sebuah map yang di baca.
Suara telepon menghentikan dirinya, Nathan memandang ponselnya lalu berdecih. Dia tidak langsung menjawab dan kembali pada tugasnya
Seiring jarum jam berjalan, Nathan tak pernah mengalihkan perhatiannya dari pekerjaan menggunung itu. Dia juga membiarkan panggilan telepon dari Clarissa hingga wanita itu tak lagi meneleponnya.
"Masuk!" Ucap Nathan saat mendengar ketukan pintu dari luar ruangannya.
Pintu terbuka menampilkan sosok perempuan cantik dengan tubuh yang menggoda. Agatha Christie sekretaris dari seorang Nathan itu dengan lancang duduk di pangkuan sang atasan dan lihatlah lelaki yang tadi mengeraskan wajahnya kini melembut seakan sudah biasa dengan kelakuan perempuan cantik itu.
"Lionel, bisa kah kita makan di luar hari ini?" tanya Agatha dengan tangan yang tak bisa diam mengelus tubuh Nathan.
"Yah, memangnya kau mau makan di mana?" Jawab Nathan sambil mengelus surai keemasan itu dengan lembut.
"Aku ingin ke restoran yang baru saja buka, katanya di sana menu makanannya begitu lezat, desain interionya juga menarik. Aku ingin mencobanya." Seru Agatha dengan nada ceria yang membuat Nathan tersenyum. Senyum yang tidak pernah dia tampilkan pada keluarganya.
"Baiklah, kita harus bersiap-siap dulu." Tangan Nathan membereskan berkas yang berjejer. Dia tidak merasa terganggu atas tindakan Agatha yang duduk di pangkuannya atau tangan wanita itu yang mengelus rahangnya juga beberapa area sensitif.
"Oh yah, bagaimana keadaan isrtimu? Apa anakmu sudah bisa berbicara kau tahu keponakanku begitu berisik, dia sangat aktif dan lincah, ada saja yang di ucapkan olehnya."
Mendengar itu Nathan menghentikan gerakan tangannya. Tatapannya begitu lurus ke arah Agatha. "Aku ingin menemui keponakanmu nanti, sepertinya seru berbicara dengan anak kecil." Kata Nathan yang tidak membalas ucapan Agatha mengenai anak dan istrinya.
Dalam dirinya Nathan begitu itu pada keponakan Agatha yang mempunyai umur lebih muda dari anaknya tapi, sudah bisa berbicara dan melakukan hal aktif lainnya, berbeda jauh dengan anaknya yang pasif dan cenderung lemah menurut Nathan. Padahal Umu El sudah menginjak angka 10 tahun, tapi anak itu belum juga bisa berbicara.
"Lionel, kenapa kau tidak menjawab pertanyaan, Ku tentang anak dan istrimu?" tanya Agatha dengan wajah merajuk.
"Sudahlah lebih baik kita berangkat jangan membahas mereka. Aku malas." Jabwa Nathan sambil menurunkan Agatha dari pangkuannya dengan lembut.
"Tidak! Aku ini penasaran kau tahu bukan seperti apa aku?"
Nathan menghela napas. Gadis keras kepala seperti Agatha itu memang harus mendapatkan apa yang dia inginkan jika tidak maka Agatha akan mengamuk dan marah padanya.
"Kau tahu anak itu tidak ada perubahan, usianya sudah sepuluh tahun, tapi dia belum juga bisa berbicara, aku tidak tahu bagaimana bisa seperti itu padahal kata dokter dia baik-baik saja." Jelas Nathan mengingat-ingat sebulan lalu dia membawa paksa El dari Clarissa untuk di periksa perkembangan anak itu.
"Berarti istrimu harus lebih giat melatihnya, atau kau harus turun tangan? Mungkin dia terlalu di manjakan."
Nathan diam sejenak dan tak lama dia mengangguk setuju mendengar pendapat itu. "Hm, kau benar, sepertinya anak itu terlalu di manjakan jadi terlihat bisu seperti itu."
"Nathan dia anakmu." Ujar Agatha yang terdengar lembut di telinga Nathan.
Sebelum menjawab Nathan membuka pintu ruangannya untuk Agatha. "Dia bukan anakku sebelum dia bisa berbicara, setelah aku mendapatkan semuanya aku akan menceraikan Clarissa dan membawa anak itu dan mendidiknya dengan tegas agar dia bisa menjadi lelaki sebenarnya di masa depan. Kau sudah tahu itu Agatha."
"Yah, maaf aku terus membahas pembahas yang sama." Ucap Agatha dengan rasa menyesal. Dia merangkul lengan Nathan dengan mesra dan memasuki lift yang terdapat beberapa karyawan di dalamnya.
Kedua karyawan itu saling pandang lalu mundur kebelakang, sudah biasa melihat pemandangan di depannya. Sang pemimpin dan sekretarisnya yang begitu mesra, hubungan antara Nathan dan juga Agatha sudah menjadi rahasia umum di perusahaan ini bahkan hubungan buruknya dengan Clarissa juga tersebar dengan luas.