5. Michael Schumacher Gracia

1115 Kata
Sudah lima menit lalu Nathan duduk di balkon kamar anaknya, selama itu pula tidak ada percakapan yang terjadi antara anak dan ayah tersebut, sesekali pria berhidung mancung itu melirik ke arah samping yang terdapat sang anak di sana. Nathan berdehem untuk memulai percakapan. "Hai," sapa Nathan dengan canggung. Banyak sekali kata yang ada di otaknya untuk dikeluarkan akan tetapi, kata-kata tersebut tak bisa dirangkai menjadi sebuah kalimat yang bisa diterima oleh anak kecil berumur 5 tahun. Michael Schumacher Gracia, itu yang tertulis di sebuah bingkai dengan ukuran sedang yang berisi foto yang terdapat perempuan cantik dengan menggendong bayi mungil. Bingkai tersebut yang menyambutnya datang di kamar ini. Nathan tersenyum dan ia tidak akan bertanya mengapa di dalam foto tersebut tidak ada dirinya karena dia sendiri yang tidak menginginkan kehadirannya di foto tersebut. "Kau tidak ingin meminta maaf padaku, Nak?" Ujar Nathan setelah tak mendapatkan jawaban dari lawan bicaranya selama beberapa detik. "Hai, El kau tuli?" Nathan mengrtuki dirinya saat berkata seperti itu. Demi apapun bukan itu yang ingin dia ucapkan ketika tidak mendapatkan balasan dari bocah lelaki yang memiliki nama panggilan, El. Nathan mengerutkan keningnya saat Michael menatap kearahnya dengan pandangan yang sulit diartikan juga senyum yang anak itu berikan terlihat aneh di matanya. Senyum itu bukan senyum seseorang menyambut orang lain atau senyum sinis yang biasa dia berikan pada musuhnya. Seingat Nathan seharusnya Michael menatapnya takut, anak itu selalu menunduk saat berdekatan dengannya dan tubuhnya akan gemetar saat ia mulai memukul Michael karena kejadian hari ini juga hari-hari berikutnya. Tapi kenapa sekarang berbeda? El berani menatapnya meski ada keraguan didalam diri anak itu, warna mata yang sama dengannya tersebut tak berkedip saat melihatnya. Sadar bahwa suasan menjadi semakin buruk Nathan tertawa kecil mencairkan suasana. "Aku tahu aku tampan, jadi biasa saja melihatnya oke? Kau juga akan tampan seperti ayahmu ini saat dewasa nanti." Gurau Nathan yang sama sekali tidak berhasil memperbaiki keadaan. Michael semakin tersenyum aneh dan membuatnya sedikit takut, takut jika anaknya di masuki arwah jahat yang membuatnya membentuk senyuman menyeramkan itu. "El, kenapa kau tersenyum seperti itu? Apa ada sesuatu yang indah?" Michael tak menjawab dan Nathan tahu penyebabnya. Anaknya ini punya masalah perkembangan hingga membuatnya tidak pernah bicara dari dulu, awalanya Nathan mengira El mengalami keterlambatan dalam perkembangannya dan perlahan akan menghilang tapi, hingga umur sepuluh tahun anak lelakinya ini juga tak kunjung berbicara, anak bisu begitu dia selalu menyebutnya. El tak pernah mengeluarkan suaranya, bocah itu tidak pernah berbicara sama sekali di kehidupannya yang dulu. Jika boleh jujur datang tidak menyukai situasi ini, dia yang selalu mencari topik obrolan padahal sebelumnya dia tidak pernah melakukan itu sebab, dia yang selalu menerima topik pembahasan. "El, apa yang kau suka?" tanya Nathan yang tidak mendapatkan respon apapun baik gelengan ataupun anggukan. Michael malah memalingkan wajahnya dari Nathan dan menatap kembali ke arah depan "Hal apa yang kau tidak suka? El, bisa kah kau berbicara dan membalas ucapanku? Kau tahu aku seperti berbicara pada angin." Nathan menghela napasnya. Dia sudah kehabisan topik obrolan hingga menciptakan keheningan kembali. "El," Panggilan lembut itu mampu membuat Nathan menoleh ke belakang sedangkan Michael langsung berlari dan menubruk tubuh langsing itu. "Kelihatannya seru sekali yah, apa aku menganggu?" Clarissa menatap Michael dan Nathan secara bergantian, mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi Michael yang hanya sebatas pinggangnya, memeriksa anak itu dengan terliti takut jika sang anak terluka. Bukan salah Clarissa berpikir negatif seperti itu, tapi salahkan Nathan yang tak pernah bersikap lembut pada mereka. Nathan tahu itu, terlihat jelas di guratan wajah Clarissa bahwa wanita itu selalu takut dan waspada saat di dekatnya. "Ah, tidak kau tidak mengganggu sekali, apa makan siang yang kusuruh sudah siap?" tanya Nathan. Dulu dia selalu menolak semua masakan Clarissa, sedikit saja dia tak pernah mau merasakannya bahkan bekal makan siang yang perempuan itu titipkan selalu berakhir di tempat sampah. "Sudah," Jawab Clarissa meski dirinya sedikit bingung mengapa orang yang selama ini menolak jerih payahnya tiba-tiba menyuruh dia untuk menyiapkan masakan yang tidak pernah dimakan sedikit pun. Nathan berjalan mendekat ke arah Clarissa dan juga Michael lalu berkata, "bagus, sekarang juga sudah waktunya makan siang, ayok kita makan bersama di meja makan." "Ha?" Gumam Clarissa secara refleks. Makan bersama? Dia tidak salah dengarkan. Tapi, tunggu dulu makan bersama siapa yang di maksud Nathan? Dia dan anaknya atau selingkuhan pria itu? "Makan bersama, aku, kau dan Michael apa ada yang salah Cla?" Selama ini Nathan tahu bahwa Clarissa mencintainya sangat, sangat, sangat mencintai dirinya jadi Nathan tak perlu takut akan di tolak oleh Clarissa meski wanita itu terlihat linglung. "Ah, itu ... aku tidak salah dengar?" Nathan menggeleng sebagai jawaban. "Ayok makan nanti perutmu bisa sakit jika kau telat makan." Nathan menarik tangan Clarissa disaat bersamaan juga Michel yang menarik-narik ujung baju Clarissa membuat tatapan yang tadinya ke arah Nathan kini berpindah pada bocah tampan itu. "Ada apa El?" tanya Clarissa dengan penuh perhatian. El membawa sang ibu ke arah meja belajar dan menuliskan sesuatu diatas kertas. "El mau makan di kamar saja dengan Ibu seperti biasa." Ucap El dengan lancar membuat Nathan terkejut. Michael bisa berbicara? Anaknya yang dulu berumur sepuluh tahun itu kini bisa bicara?! Lebih parahnya lagi, Michael tak membalas setiap percakapan tadi yang dia coba untuk memulai obrolan panjang ayah-anak itu. Satu lagi Michael tersenyum layaknya anak berumur 5 tahun, senyum berbeda yang anak itu tunjukkan padanya tadi. Apa-apan senyuman itu! Berbeda sekali saat dia tersenyum kearah, Ku! Dan sejak kapan dia bisa berbicara? Nathan tidak terima akan hal itu sekaligus merasa aneh. Bisa-bisanya dia mendapatkan perlakuan berbeda dari anak kecil seperti Michael terlebih itu anaknya sendiri. Clarissa mengusap kepala anaknya dengan sayang. "Maaf El, kali ini kita tidak bisa makan berdua saja, ada Ayahmu." "Lalu?" tanya El. Clarissa tersenyum lembut kemudian menjawab, "El, dengar, ibu tahu El ingin sekali makan di meja makan bertiga seperti selama ini yang El ucapkan ke Ibu, jadi apa sekarang El gak seneng saat pertanyaan dan keinginan El terwujud?" "Itu dulu sekarang El gak mau, cukup Ibu dan El, berdua, tidak ada yang lain." Balas El dengan wajah seriusnya. Nathan merasa aneh akan perkataan Michael, ada yang ganjal dari kata 'dulu' yang diucapkan anak itu apa lagi sambil melirik ke arahnya. Banyak pertanyaan di otak cerdas Nathan. Tentang bagaimana bisa Michael berbicara padahal sebelumnya anak itu tidak bisa bicara sama sekali atau bagaimana bisa Michael menciptakan dua senyuman yang memliki arti berbeda dan lain sebagainya. Michael Schumacher Gracia, anak ini berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Dia berubah tidak seperti yang Nathan kenal, mulai dari ekspresi, senyuman dan tatapan semua terasa berbeda. Apa ada sesuatu yang Nathan lewatkan dulu tentang Michael sang anak? Hingga dia tidak tahu bahwa selama ini baik dulu atau sekarang anak tersebut sebenarnya bisa berbicara. Namun, karena tingkah lakukan dulu membuat Michael enggan berbicara dengannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN