BAB 9

1364 Kata
"ULI!" "APA?" "Loe sadar nggak sih, barusan bilang apa?" Kami berdua saling berteriak. Minuman kaleng yang dia pegang sedari tadi segera dia lemparkan dan dia bertolak pinggang membelakangi aku. Handuk yang membungkus rambutnya juga sudah dia tarik asal dan lemparkan ke sembarang arah. Napasnya terdengar terburu. "Arghhh, Roy kampreeeet! Kenapa pula jadi gue yang jadi selingkuhan loe, bangsaat!" teriaknya. Dia berteriak beberapa kali seperti orang gila tapi tetap memunggungi aku. "Oh Tuhan, kayak nggak ada pria lain aja di dunia ini yang bisa gue kencani. Kenapa pula gue harus selingkuh dan selingkuhan gue itu suami teman gue sendiri. Laki-laki yang dari awal bertemu tidak gue suka. G!laaa! G!laaaa!" Dia berteriak g!ila beberapa kali lalu berbalik dengan kedua tangan di pinggang. Dia menatap aku dengan mimik wajah yang benar-benar seperti orang g!la atau orang yang putus asa. "Bukti apa yang Loe punya, tell me!" ujarnya pelan setelah menghela nafas berat beberapa kali. Kali ini dia tidak berteriak lagi tapi dia bicara dengan suara mengeram. Mungkin dia mau marah tapi tidak bisa. Giginya merapat saat bicara dan tangannya meremas pinggangnya. Ihh, takut! Aku mengusap pipiku yang semakin basah oleh air mata dan menyedot ingusku beberapa kali. Aku yang punya jiwa lemah ini langsung ciut begitu di gertak terutama oleh orang dekatku. Kekuatan yang aku bangun dari rumah tadi kini hancur di hadapannya. Padahal, aku sudah latihan melabraknya lalu memakinya tadi tapi sepertinya aku akan gagal karena air mataku duluan yang bertindak. Tapi, dia kok marah? Kok nggak ciut karena ketahuan, malah minta bukti. Apa aku salah target? "Bukti apaaaa yang loe punya Uli makanya loe nuduh gue yang jadi selingkuhan suami loe?" geramnya padaku bahkan hampir mencakar wajahku. Tubuhnya sudah membungkuk di hadapanku sementara kedua tangannya terlipat di dadanya. "Show me, Cepat! Jangan asal nuduh dengan bukti yang tidak jelas." "It--itu, waktu ulang tahunmu. Kamu bilang pergi sama orang terdekat jadi nggak bisa rayain bareng kami. Dan habis itu, kamu pamer buket mawar. Baru-baru ini aku menemukan bill dari toko bunga dan billnya tepat di hari ulang tahunmu." "Apa lagi?" "Ehm, dua minggu lalu, aku lihat kamu terburu-buru ke Lexus hotel. Dan mas Roy sudah di dalam. Aku coba telpon kamu tapi kamu abaikan panggilanku. Kamu bahkan nggak nelpon balik. Kamu pasti lupa karena udah asyik berduaan sam--" "STOP!" Lizzy berteriak memotong ucapanku. "Maksud loe gue nggak nelpon balik karena lagi berduaan dengan laki loe itu? Making love gitu? Cuih, najis gue Uli. Ogah! Mending gue jomblo seumur hidup daripada harus jadi pelakor di rumah tangga teman gue. Apalagi loe bukan sembarang teman lagi, loe itu udah kayak saudara gue. Sister Uli, sister. Oh Tuhan, kenapa loe beg0 bangat sih Uli." Dia berdiri dan ke kamar, sebentar kemudian dia keluar dan melemparkan ponselnya padaku. "Passwordnya tanggal lahir gue. Buka dan lihat galeri, buka juga aplikasi hijau gue. Lihat disana, gue ngapain ke Lexus hari itu " Aku menggeleng. Aku mana ada muka lagi di depan dia. Dari cara dia bicara dan marahnya padaku kayaknya aku udah salah menuduh. "Dasar bod0h! Otak loe emang udah beku sejak kenal sama si Roy kampret itu. Makin beku jadi batu setelah bucin sama dia. Itu nggak bisa di jadikan bukti Uli, itu cuma kebetulan aja. Loe tahu kan perasaan gue ke laki loe gimana? Gue nggak suka dia sampe ke tulang-tulang gue. Masa gue mau jadi selingkuhannya? Astaga Tuhan, tolonglah si Uli ini." Suaranya udah mulai lembut dan dia sudah duduk di sampingku dengan kedua kaki terangkat di sofa. Dia menatapku lalu berdecak sambil geleng-geleng kepala. Raut wajahnya tidak marah lagi, tidak kesal lagi tapi dia tersenyum yang di tahan. Fix! Dia sedang mengejekku. Jadi malu sendiri. Untung Lizzy orangnya baik dan bisa mengerti aku yang punya otak semakin membeku karena bucin. Dan sekarang sekarat berpikir karena di selingkuhi. Dia meraih ponsel dari pangkuanku dan membuka galeri, dia menunjukkan beberapa poto orang yang sedang berantam. Ada juga video dimana pelakunya saling berteriak mengumpat satu sama lain. "Mama gue ribut disana karena ada yang kasih tahu kalau bokap disana bareng ani-ani. Pihak hotel tahan nyokap karena udah buat keributan makanya gue kesana terburu-buru. Anyway, hari itu emang loe lagi ngintai Roy disana?" "Ho oh, dia bilang ada meeting di Lexus jam dua. Padahal kan aku udah bilang ke kamu, aku pernah lihat parking card vip punya mas Roy. Jadi aku ikutin dia kesana karena mau memastikan dia meeting atau bareng selingkuhannya. Begitu dia masuk, kamu masuk terburu-buru juga sambil nelpon." Setelahnya dia terbahak dan aku semakin malu. Aku malu karena aku tidak punya kepercayaan pada temanku sendiri. "You need some healing, Uli. Pikiran kamu perlu di pulihkan. Just go on holiday. Toko loe bisa di handle sama asisten loe itu. Otak loe udah rusak gara-gara si Roy, Uli. Ck ck ck ck." Dia kemudian memelukku dan mengusap pundakku. "Gue bersumpah, gue tidak ada hubungan apapun dengan laki loe dan gue akan standing beside you untuk mencari tahu siapa perempuan itu. Sementara ini, jaga sikap loe dulu, kontrol emosi loe dan usahakan Roy tidak curiga bahwa loe udah mulai mengendus permainannya. Kumpulkan bukti dan kita bisa diskusi setelah ada bukti itu. We can go there and asking for rekaman cctv biar bukti loe lebih akurat. Jangan asal tuduh kayak tadi dengan bukti yang hanya menduga-duga dan cocoklogi." Air mataku semakin tumpah karena kebodohanku selama dua minggu ini. Bagaimana bisa aku langsung menuduh Lizzy main serong dengan suamiku sementara aku tahu dia sangat tidak menyukai lelakiku itu. "Maafin aku, Liz. Aku udah mikir buruk tentang kamu selama beberapa hari ini." **** "Udah tenang? Pulang sana. Ini malam minggu, pergilah kencan dengan suami loe biar hubungan kalian lebih erat lagi. Jangan biarkan dia punya waktu luang yang bisa dia pakai untuk selingkuh." Aku menopang wajahku dengan kedua telapak tangan yang aku satukan dan aku masih tetap berbaring di atas kasurnya. "Jam berapa?" "Jam lima lewat." Aku tertidur sekitar satu jam lebih ternyata. Setelah lelah menangis dan minta maaf pada Lizzy dan Lizzy juga curhat mengenai cinta segitiga orang tuanya. Kami akhirnya tidur berdampingan di kasurnya dan ternyata dia duluan bangun dari aku. "Tapi Uli, pikirkan yang aku bilang tadi. Selingkuh itu penyakit yang tidak ada obatnya. You punya dua pilihan. Cerai or bertahan." "You know my mom so well, Liz. Mama pasti akan marah sama aku dan nggak akan setuju kalau aku bilang mau cerai. Mama pasti ak--" "Tante Letare pasti ngerti. Beliau tidak akan rela anaknya hidup dalam penderitaan rumah tangga. Beliau tidak akan pernah mau mengulang kisahnya pada anaknya. Talk to her slowly. And trust me, tante Letare akan pilih loe cerai aja dari pada di duakan. Yang gue sangsiin sekarang yah loe. Loe pasti yang nggak rela cerai dari si kampret itu. Ihh, kesal gue. Pria sok ganteng." "Tapi dia memang ganteng, Liz. Bukan sok ganteng." "Halah, gantengan Leon dimana-mana. Loe aja yang beg0." Aku menghela nafas berat seraya memejamkan mata sejenak. "Please. I don't wanna hear that anymore," bisikku. Hening sejenak. Ada hawa masa lalu yang berhembus dan aku tidak suka itu karena aku tidak ingin mengingat luka yang hampir pulih. Aku harus fokus pada masalahku sekarang instead of teringat cerita masa lalu yang sudah menjadi kenangan yang hampir pudar. Lizzy benar, mas Roy sudah pernah selingkuh dan aku marah. Dia berubah tapi hanya sebentar. Sekarang dia mengulanginya lagi entah sudah berapa perempuan yang dia kencani dalam dua tahun ini. Aku harus memikirkan ini dengan matang dan aku harus mempersiapkan diriku. Saat aku bergegas hendak pulang, Lizzy memanggilku. "Just wanna tell you, tanaman di pot kamu bisa mati karena rumput liar yang kamu biarkan tumbuh di sekitarnya." "Maksud kamu?" "Nothing, just leaving!" *** Sudah tiga hari aku masih kepikiran dengan kalimat Lizzy. Apa maksudnya, ya? Pot di depan rumahku semuanya tumbuh subur karena aku rajin merawatnya. Nggak ada rumput liarnya yang bisa mengganggu bunga-bunga kesayanganku. Saking kepikirannya aku, aku mencari tahu maknanya di gugel dan hasilnya error. Aku menggaruk kepalaku yang akhir-akhir ini mau gatal tiba-tiba dan menyerap semua ide yang tadinya sudah cemerlang. Alhasil, novel baruku stuck di tempat karena terlalu banyak ide tapi tidak nyambung. Ini pertama kalinya aku nge blank parah selama karir menulisku. Aku juga tidak fokus di toko dan lebih mempercayakan tokoku pada asistenku, Nindi. Entahlah, semua berjalan tidak baik karena si Roy sialan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN