BAB 8

1440 Kata
Tinggal bersama bahkan tidur bersama dengan orang yang sedang berbohong pada kita dan kita tahu dia sedang berbohong tapi menahan diri untuk tidak membongkar kebohongannya adalah pekerjaan yang berat. Sungguh menguras tenaga. Aku harus pura-pura amnesia atas apa yang aku ketahui, aku harus tersenyum padanya every day bahkan kiss him dua kali sehari minimal. Oh my god! Lelah hayati, Bang! Selama dua minggu ini aku benar-benar menahan amarahku. Aku juga tidak menghubungi Lizzy dan dia pun sama. Malam tadi, aku tidur lebih awal karena selama dua minggu ini aku kurang istirahat. Ada untungnya hatiku sedang galau karena ketika hatiku sedang kacau atau aku sedang galau biasanya aku menjadi orang yang puitis. Kata-kata yang tertuang dalam tulisanku itu luar bisa bermakna dari pada sebelumnya. Entah kenapa, pada saat seperti itu, aku pandai sekali merangkai kata dan membuat beberapa bab dengan penuh emosional. Kemarin aku membaca ulang novel yang sudah hampir tamat tapi belum aku upload. Luar biasa! Karena hatiku sedang senang, akhirnya aku pergi tidur lebih cepat tanpa memberitahukan pada mas Roy yang juga sibuk di ruang kerjanya. Fyi gaes, rumah kami memang empat kamar. Satu kamar utama dan tiga lainnya dengan ukuran lebih kecil yang kami persiapkan untuk anak-anak kami dan juga jika orang tua menginap. Karena tiga kamar kosong, kami membuat ruang kerja untuk masing-masing agar tidak ada yang bau apek karena tidak di tempati. Sementara satunya, aku jadikan mini teater. Karena tidurku cukup, aku merasa segar saat bangun. Aku langsung keluar kamar karena aku lihat mas Roy masih tidur pulas. Aku menggelar matras yoga di teras belakang dan aku melakukan yoga ringan sekitar tiga puluh menit. "Segarnya!" Aku menghirup udara tanpa polusi itu dengan senang hati. Sebentar lagi, saat hari sudah terang, udara tidak akan sebersih ini lagi karena kendaraan sudah banyak lalu lalang. "Masak apa ya enaknya hari ini," ujarku setelah aku selesai yoga. Aku duduk bersila sambil scroll ponsel mencari ide masak hari ini. Aku tiba-tiba teringat masakan mamaku yang super lezat tapi gampang di buat. Sayur pecel! Ya, gampang karena sayurannya di rebus saja sementara bumbu kacang ada kok yang sudah siap pakai. Kalau untuk racik sendiri seperti mamaku, sudahlah, mending tidak usah masak. Ribet dan capek! Aku berjalan cepat ke dapur dan memeriksa isi kulkas. Aku mencebik karena sayuranku juga sudah habis yang artinya aku harus segera berbelanja. Aku yang berasal dari keluarga cukup, sejak kecil sangat jarang belanja di super market apalagi ikan segar, sayuran dan buah. Mahal! Mamaku sering mengajak kami bergantian ke pasar yang jarak tempuhnya dari rumah hampir satu jam naik angkutan umum. Mengingat itu, aku jadi kepengen pulang kampung. Ciah, yang punya kampung. "Mas, udah bangun?" Aku menekan handle pintu kamar seraya bicara. Aku tersenyum ke arah suamiku yang barusan seperti pencuri yang ketahuan. Ketika aku masuk, dia buru-buru menarik selimut hingga sebatas d**a dan seperti melemparkan sesuatu ke dalam. "Hmm, baru bangun. Kamu kok cepat bangat bangunnya?" jawabnya dengan suara yang cukup keras. Dia merentangkan tangan dan aku mendekat. Memberikannya pelukan hangat di pagi hari dan morning kiss seperti yang biasa kami lakukan sehari-hari. "Tadi malam kan aku tidur cepat, jadi bangunnya juga cepat. Oh yah, aku mau ke pasar sebentar, ntar kalau aku pulangnya lama, tolong oles sendiri roti sarapan kamu yah," ujarku memberitahu. Aku menyisir rambutnya dengan jemariku yang entah kenapa sedikit basah menurutku tapi aku tidak protes. Karena aku sudah bisa menduganya. Lalu aku mengecupnya sekali dan berlalu setelah mengambil dompet. Membiarkannya menghabiskan pagi yang cerah ini dengan video call dengan kekasih hatinya. "Setelah aku pergi, silahkan bersenang-senang. Telanjang pun, terserah." ***** Makan sepuasnya dan sekenyang-kenyangnya akhirnya membuatku merasa begah. Setelah istirahat sebentar, aku mulai rutinitas di pagi hariku, membersihkan rumah dan taman kecil di samping. Minggu ini juga waktunya merapikan bunga-bunga di pot yang aku susun di depan rumah. Setelahnya, aku akan berangkat ke toko bukuku yang hanya berjarak tiga kilo meter dari rumah. "Lagi?" Aku mengingat-ingat jadwal suamiku satu minggu ini. Ya, beberapa kali dia pulang telat katanya karena lembur di kantor dan aku percaya karena istri pak Daniel mengupload story di sosmed sedang jalan jalan di mall dengan anak-anak saja karena papanya anak-anak lembur. Aku kira selama seminggu itu mereka lembur tapi ternyata tadi malam tidak karena aku baru saja menemukan tiket bioskop lagi di kantong celana suamiku dan juga bill fast food by drive thru. Sepertinya mereka mau mencoba berbagai rasa makanan. Aku mengepalkan tanganku kesal karena aku begitu mencintainya dan terlalu percaya padanya selama ini. Selain itu, aku juga marah pada diriku sendiri karena aku terlalu percaya diri selama ini bahwa cinta dia hanya untukku seorang. *** Aku menekan bell sudah dua kali dan tidak ada yang membuka pintu. Kemana orang ini pergi? Biasanya jam segini dia masih ada di apartemen and doing nothing. Aku menekannya lagi dan lagi dan berharap telinganya bocor karena bunyi bel yang bersahut-sahutan tidak henti. "Sabaaaaar!" teriaknya dengan kencang. Aku rasa urat lehernya hampir pecah karena berteriak tadi. Aku juga bisa membayangkan wajahnya yang merah merona karena marah. Cute! "Who the hell are you knocking my door like a horse?" Anjir! Dia mengumpat di balik pintu. Aku menahan bibirku untuk tidak tersenyum. "Kenapa nggak masuk aja, Oneng? Bukannya loe tau password unit gue? Pengeng kuping gue, Uliiiiiii. Loe sengaja mau bikin gue tuli? Iya?" murkanya saat dia membuka pintu and i don't care ketika dia merepet janda. Dia membanting pintu dengan keras lalu berlalu meninggalkan aku di luar pintu. "Aku nggak bisa sembarang masuk, ntar kamu lagi sama cowokmu dan lagi cippokan atau nganu kan aku yang kena semprot kamu lagi. Ogah juga jadi saksi bejatmu!" ujarku seraya berjalan di belakangnya setelah masuk dengan menekan kode rahasianya. Aku bilang begitu karena aku mau memancing dia. Pasti akan ada saltingnya kan kalau di singgung soal begitu jika benar dia jadi selingkuhan suamiku. Sayang sekali, aku tidak bisa melihat rautnya karena dia memunggungi aku. "Saksi kampret! Ngapain juga gue nganu di unit gue. Nggak estetik bangat," jawabnya tanpa menoleh. Aku menghempaskan bokongku di sofa empuknya sementara dia berjalan terus ke arah kulkas dengan kimono pink dan rambutnya di bungkus dengan handuk pink juga. Girly bangat a***y! Fyi, dia yang punya perusahaan dan jarang sekali ke kantor. Dia lebih senang mendem si apartemen bermain game seharian atau kalau sudah bosan dan kalah terus, dia akan melukis tidak jelas. Tapi anehnya, lukisannya selalu terjual dengan harga mahal. Aku heran dengan orang yang punya jiwa seni lukisan, cuma garis garis berwarna aja di bilang 'ini sangat bagus', 'sangat hidup', 'luar biasa'. Kampret lah! "Mau ngapain loe? Mau curhat lagi?" Aku adalah tipe orang yang tidak bisa menahan diri terutama pada orang dekatku. Seperti sekarang, mataku langsung berkaca-kaca apalagi dia adalah tersangka utamanya. Menurutku. Aku ingin sekali mencakar wajahnya yang mulus itu biar dia tahu rasa. Biar dia jelek dan tidak di sukai orang lagi terlebih suamiku. "Iyah. Aku udah punya bukti. Ada tiket bioskop dan juga bill restoran aku temukan dari saku celana dan juga lacinya. Ternyata dia udah lama selingkuh. Billnya udah dari beberapa bulan lalu." Aku akhirnya menangis sesenggukan disana karena tidak bisa langsung melabraknya. Aku ingin dia merasa kasihan padaku karena telah menusukku dari belakang. "Dasar bod0h! Aku kan sudah bilang dari kemarenan. Cerai! Tapi loe pura pura tuli." Aku menatap temanku Lizzy yang berjalan menjauh dariku. Dia benar-benar marah ketika aku datang lagi ke apartemennya dan menceritakan kasus yang lagi lagi sama dengan beberapa waktu sebelumnya. Bosan? Jelas! "Selalu aja belain suami loe itu sampai dia benar benar bawa perempuan itu ke rumah kamu dan bilang mereka udah nikah siri. Besok nggak usah kesini lagi dengan cerita yang sama kalau nggak mau dengar saran dari gue. Capek tahu. Pengeng telinga gue dengarnya," lanjutnya seraya meletakkan sekaleng soda dingin di hadapanku. Aku tahu dia kesal tapi dia tidak akan pernah mengabaikan aku sampai kapan pun. "Nih!" Aku menangkap sekotak tissu yang dia lemparkan ke pangkuanku. "Kamu tahu kan Liz, mamaku itu sangat pantang kata cerai. Sekali menikah seumur hidup, itu terus pesannya. Nggak mungkin kan aku ke rumah mama dan bawa kabar perceraian. Mamaku bisa sesak nafas tiba-tiba, Liz." Aku mengusap air mataku dengan tissu lalu mengepalkan tissu itu di genggamanku. "Mama kamu pasti ngerti. Kamu aja yang ngotot pertahanin laki loe si peselingkuh itu. Dasar bucin!" Aku menatapnya sebentar. Apa dia benar-benar ingin aku bercerai lalu dia bebas dengan suamiku? Oh my God Lizzy, teman macam apa kamu, hah? teriakku dalam hati. "Mean girl, pelakor itu you, kan?" Aku melemparkan gumpalan tissu di tangan hingga mengenai dadanya dan memang di tangkap oleh dia sambil melebarkan mata dan mulutnya padaku. "What? Who?" Aku mengangguk dengan tetesan air mata di pipiku. Sakit sekali! "Me?" "Iya, kamu. Kamu selingkuh sama mas Roy. Mau ngelak lagi? Aku punya bukti, Lizzy!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN