Seseorang yang berhasil membuat air matamu jatuh, tidak selamanya karena jahat. Boleh jadi karena dia sangat berarti untukmu.
–My Kayang–
TOK-tok!
"Prilly, Sayang! Kakak udah pulang, buka pintunya, Sayang!" Ali terus mengetuk pintu itu dibarengi rasa cemas dan khawatir.
Tak lama akhirnya pintu itu terbuka.
Grep!
Seketika Ali langsung memeluk erat tubuh Prilly. Dengan perasaan yang sedikit heran Prilly membalasnya.
"Sayang, Kakak khawatir, kamu gak kenapa-kenapa, 'kan? Kamu baik-baik aja, 'kan? Gak ada yang luka, 'kan?" Ali sibuk mengecek kondisi Prilly yang memang baik-baik saja.
"Kak Ali ... Kakak kenapa kok baru pulang nanya begitu? Aku baik-baik aja kok." Prilly tersenyum meyakinkan Ali bahwa dirinya memang baik-baik saja.
"Tapi bener kamu gak pa-pa? Hari ini Prilly keluar rumah gak? Kalo iya kamu ketemu orang aneh gak? Terus orang itu berbuat jahat sama kamu gak?" tanya Ali dengan napas yang masih terengah-engah. Belum Prilly menjawab satu pertanyaan pun tapi Ali sudah beralih ke pertanyaan berikutnya.
"Kak, pasti Kak Ali lelah. Kakak tenang dulu. Kita omongin pelan-pelan. Sekarang kita duduk dulu yah." Prilly menggiring Ali berjalan menuju sofa.
"Kakak tunggu bentar yah, Prilly mau ambil air minum dulu buat Kakak." Prilly menuju dapur untuk mengambil air mineral.
"Minum dulu, Kak, aku tau pasti Kak Ali lagi kecapean, 'kan? Kakak sampe keringetan gini." Prilly menyeka keringat yang ada di kening Ali dengan telapak tangannya. Sedangkan Ali meneguk air minumnya hingga tandas.
"Sekarang Kak Ali cerita pelan-pelan sebenernya ada apa, Kak?" tanya Prilly memulai pembicaraan.
"Kamu belum jawab pertanyaan Kakak, Sayang." Ali mengingatkan pertanyaan yang belum sempat di jawab oleh Prilly.
"Oke, jadi gini tadi aku emang keluar rumah sebentar. Tapi aku gak pergi jauh kok. Aku cuma ke mini market. Terus pas pulangnya...." Prilly menjeda ucapannya.
"Pas pulangnya?" Ali membantu bicara karena Prilly tidak segera melanjutkan.
"Pas pulang dari mini market aku cuma mampir ke Mama Eci sebentar. Tapi maaf ,Kak, aku belum izin ke Kakak sebelum pergi. Mangkanya aku langsung cepet pulang. Karena buru-buru, di jalan aku hampir ketabrak mobil. Tapi Alhamdulilah banget, Kak, ada orang baik yang nolong aku. Jadi aku selamat deh." Prilly menjelaskan secara rinci.
"Ada yang nolong kamu? Siapa? Ciri-ciri orangya? kamu kenal siapa dia?" tanya Ali tak sabaran.
"Aku gak tau, Kak. Karena gak sempat kenalan. Ya tapi emang agak aneh sih orangnya. Aku gak lihat jelas wajahnya karena ditutup pake masker gitu," lanjut Prilly lagi.
"Apa mungkin orang yang nolong Prilly itu orang yang neror gue tadi siang?" batin Ali.
"Dia cewek atau cowok, Sayang?" tanya Ali seperti menginterogasi.
"Cowok, Kak. Tapi Kak Ali tenang aja ya, dia pasti orang baik kok. Buktinya tadi dia nolong aku."
"Kalo sampe orang itu orang yang sama gue gak akan biarin dia bisa deket-deket sama Prilly. Pasti ini cara dia buat deketin Prilly. Maafin Kakak, Prill. Kakak hanya takut ancaman dia memang serius," batin Ali dalam kebungkaman.
"Kak Ali kok melamun?" Prilly membuyarkan pikiran Ali.
"Sayang...." Ali merangkum wajah Prilly dengan telapak tangannya. "Kamu dengerin Kakak yah. Pokoknya kamu harus nurut sama Kakak. Mulai detik ini kamu gak boleh ke luar rumah tanpa seizin Kakak! Paham ya," lanjut Ali yang sepertinya membuat peraturan baru untuk Prilly.
"Loh, kok gitu sih, Kak?" Prilly memprotes diiringi gelengan kecil di kepalanya.
"Kakak gak mau kamu bergaul sama sembarang orang, yang belum tentu orang itu baik," jelas Ali tegas.
"Jadi Kakak buat peraturan baru karena Kakak gak mau aku ketemu lagi sama orang yang tadi udah nolongin aku? Kak, aku yakin dia itu orang baik-baik. Kalo tadi gak ada dia pasti aku—"
"Cukup!!" Ali memotong ucapan Prilly yang belum selesai. Prilly terjengkit kaget dan seketika berhenti berbicara.
Ali bangkit dari sofa yang sedang di dudukinya itu.
"Jangan pernah sebut-sebut lagi pria itu di hadapan Kakak! NGERTI!!" tegas Ali diakhiri dengan membentak.
"Kak Ali bentak aku, Kak?" Hati Prilly mencelos sakit.
Ini bukan pertama kali Ali marah padanya. Tapi kalimat barusan adalah sentakan pertama yang Prilly dapat dari suaminya. Selama ini, jika Ali marah, ia cukup menegur Prilly secara halus. Tak pernah sampai membentaknya.
"Bisa gak nurut sama Kakak! Hah!" Suara Ali semakin meninggi sukses membuat Prilly menunduk takut.
"Ma—af, Kak." Bibir Prilly bergetar. Cairan bening tengah bergumpal di pelupuk matanya.
Ali memilih pergi dari hadapan Prilly karena tak mau lebih emosi lagi.
"Segitu marahnya Kakak sama Prilly? Dulu walaupun Kakak cuek, tapi gak pernah sampe bentak aku."
Akhirnya lelehan air mata itu meluncur bebas kala melihat Ali pergi. Prilly menangis sendirian.
Ali berdiri di pinggiran balkon kamarnya sambil merenung karna merasa bersalah tadi ia sudah memarahi isrtinya.
"Gak seharusnya gue bentak Prilly. Dia adalah sumber kebahagiaan gue. Tapi gue ngebuat dia sedih dan menangis. Help me God." Ali menjenggut rambutnya frustrasi.
Prilly menghampiri Ali karena ia ingin meminta maaf telah membuat Ali marah.
"Kak...," panggil Prilly dari belakang.
Ali menoleh sekilas lalu kembali membuang muka.
"Kak Ali masih marah?" Ali masih tak merespons. Ia fokus menatap langit.
"Aku tau Kakak marah banget. Aku ngaku salah dan aku ke sini mau minta maaf udah buat Kak Ali marah," ucap Prilly hati-hati.
"Tapi kayaknya Kak Ali gak mau maafin aku, ya?" d**a Prilly sesak melihat Ali yang setia dalam diamnya.
"Kayaknya Kakak merasa aku cuma jadi pengganggu di sini." Prilly mengusap cepat pipinya yang sudah melembap basah.
"Maaf kalo aku ganggu ketenangan Kakak." Prilly menelan salivanya susah payah. Ia tak sanggup membayangkan jika Ali terus saja mendiamkannya.
Mau sampai kapan? Ali bahkan tahu Prilly sudah banjir air mata, tapi Ali belum merespons ucapannya.
"Aku permisi." Prilly berniat melangkah pergi tapi Ali berhasil lebih dulu menahan pergelangan tangannya dan langsung membawa tubuh mungil Prilly ke dalam pelukannya.
Prilly membalasnya dengan perasaan yang sedih.
"Hiks, aku minta maaf, Kak." Prilly menangis sejadi-jadinya di pelukan Ali.
"Syut, udah yah, Sayang. Kakak juga minta maaf." Ali mengusap-usap punggung Prilly dengan sayang.
Tak lama Ali melonggarkan pelukannya. Ia meraih kedua pipi Prilly agar Prilly fokus menatapnya. Namun ketakutan Prilly untuk bertatap mata dengan Ali masih membekas. Sehingga Prilly hanya menunduk sejak tadi.
"Maafin Kakak yah, udah marah-marah sama kamu. Kakak cuma lagi emosi tadi. Udah jangan nangis yah." Ali mengusap air mata Prilly berkali-kali karena Prilly terus saja menangis.
"Kakak tau mana yang terbaik buat kamu, Sayang. Kakak mau kamu hanya menurut bukannya malah membantah kayak tadi, yah," jelas Ali melembut.
"Aku tau Kak Ali cemburu sama orang itu kan? Kalo Kakak melarang aku biar gak deket sama dia, oke aku akan jauhin tapi Kakak gak perlu sampe bentak-bentak aku kayak tadi, cuma gara-gara masalah sepele ini Kakak sampe segitunya. Aku sedih dan aku takut ternyata Kakak galak banget, hiks." Prilly menatap Ali tak lebih dari 2 detik, setelahnya menunduk kembali.
"Gue gak mungkin bilang sama Prilly kalo tadi sebenernya gue diteror. Dia terlalu polos untuk tau smua ini, bahkan dia mengira gue marah, karena gue cemburu. Padahal gue cuma takut dia jatuh ke tangan orang jahat. Mungkin bagi kamu ini masalah sepele, Prill. Tapi bagi Kakak ini masalah berat dan Kakak gak mau kamu ikut menanggung beban ini. Cukup aku sendiri yang harus menyelesaikan masalah ini." Ali membatin dalam diam.
"Sayang, sini lihat Kakak. Kamu jangan takut gitu. Kakak bukan hantu." Ali berusaha menghibur Prilly sebisa mungkin.
"Kakak jangan marah lagi, ya. Prilly takut." Prilly menatap Ali lalu kembali memeluk Ali.
"Kakak janji akan jagain kamu sampe kapan pun, Sayang. Kakak gak mau kamu pergi dari hidup Kakak. Gimanapun caranya kamu harus tetap bersama Kakak. Semoga masalah ini cepat selesai," batin Ali mengecup pundak Prilly cukup lama.
"Kak udah sore aku mau mandi, ya." Prilly melepaskan pelukannya.
"Mau Kakak mandiin? atau mandi bareng?" tawar Ali menggodanya.
"Ih, Kakak omes banget sih. Aku bisa mandi sendiri kok. Bye Kayang jangan rindu. Muach...." Prilly sedikit berjingjit untuk menjangkau pipi Ali dan mengecupnya singkat. Setelahnya ia berlari pergi.
"Kecupan hangat." Ali memegangi pipinya yang telah di cium Prilly.