6. Mr. L?

1548 Kata
Stadium konflik dalam pernikahan akan lekas bila dijalani dengan kebersamaan. -My Kayang- SEUSAI mandi, Prilly duduk di depan meja rias. Ia melihat pantulan dirinya di cermin dan kembali mengingat perkataan Ali saat pertama kali membentaknya tadi. "Sayang, kok melamun?" Prilly tersentak kaget saat melihat pantulan Ali yang juga muncul di cermin. Prilly membalikkan badannya serta menghampiri Ali dengan membawa sebuah sisir rambut. "Kak Ali...," panggilnya saat pria itu telah ada di hadapannya. "Kenapa, Sayang?" Ali sedikit heran melihat rambut Prilly yang masih berantakan. "Kak Ali mau gak sisirin rambut aku?" Prilly menggigit bibir bawahnya ragu. "Hah?" Ali terpaku dalam diam, ia heran melihat tingkah Prilly yang benar-benar manja lebih dari yang ia kira. "Kenapa, Kak? Gak mau, ya?" Prilly memanyunkan bibirnya. Kini Ali paham dengan sisir yang Prilly pegang sejak tadi. "Oh, bukan. Sini-sini Kakak sisirin." Ahkirnya Ali merebut sisir itu. "Beneran, Kak ?" tanya Prilly memastikan "Iya ... Udah sini kamu duduk lagi." Ali menarik lengan Prilly menuju meja rias. Prilly tersenyum tak menyangka Ali mau melakukannya. "Hmm, manjanya istri Kakak ini." Ali mencubit gemas pipi gembulnya. "Ih! Kak, jangan mulai deh, nanti pipi aku tambah chubby nih," gerutu Prilly semakin membuat Ali gemas. "Biarin kan biar kamu tetep jadi Barbie tembemnya Kakak." Ali mulai menyisir rambut panjang Prilly dengan lembut layaknya seorang putri. "Kak?" Prilly menatap Ali melalui pantulan cermin. "Hem?" sahut Ali dengan deheman saja. Sesekali ia ikut melihat ke arah cermin, karna ia sedang fokus dengan kegiatannya. "Kak Ali tau gak kenapa aku minta di sisirin?" tanya Prilly terkikik geli. "Yaa ... Karena kamu itu manja." Ali menjawab sekenanya. "Salah...." "Lalu?" "Dulu biasanya aku selalu disisirin sama Bunda. Kak Ali harus tau aku dari kecil sampe SMA pun aku masih sering minta disisirin sekarang aku lagi kangen sama Bunda, mangkanya aku minta sama Kakak sebagai pengganti Bunda. Kan yang aku hanya punya Kak Ali seorang." Ali tersentuh kembali mendengar cerita Prilly yang sedang merindukan sosok ibunya itu. Bayangan Almahrumah Ully memutar dalam benak Ali. Ia teringat amanat wanita paruh baya itu saat semasa sekolah dulu. "Bunda ... Kenalin ini Kak Ali. Kakak kelas Prilly yang sering Prilly ceritain itu loh." "Wah akhirnya Bunda melihatmu langsung, Nak." Ully tersenyum menatap wajah dingin Ali. Ali menanggapi keduanya dengan sewajarnya. "Tadi Prilly di-bully sama senior cewek Bundaa ... Tapi ada Kak Ali yang jadi pahlawan, hehe" adu prilly di akhiri dengan kekehan. "Makasih ya, Nak Ali. Maaf Prilly merepotkaan kamu." "Tidak, Bunda. Ali tidak merasa direpotkan." "Prilly itu anaknya manja sekali. Apa-apa selalu cerita sama Bunda. Dia juga tidak bisa membela diri jika diganggu oleh teman-temannya. Nak kalo boleh Bunda pesan sama kamu. Tolonglah kamu berteman baik sama Prilly. Biar Prilly ada yang jagain gitu." "Baik, Bunda. Ali siap menjaga Prilly. Ali juga mau kalau nanti jadi pendamping hidup Prilly. Ali akan memanjakan Prilly." "Terima kasih, Nak. Kamu baik sekali. Bunda bersyukur ada pria tulus yang mau menerima Prilly apa adanya." "Pendamping hidup itu sama aja yang buat menemani kita nikah yah, Kak?" celetuk Prilly dengan polosnya. Ully dan Ali hanya tersenyum mendengar celotehan Prilly "Tapi setahu Bunda, nak Ali juga sering mem-bully Prilly loh. Prilly cerita sendiri sama Bunda." "Hehe, sebenarnya Ali mencari perhatian Prilly Bun. Tapi Prilly polosnya kebangetan. Dia gak peka kalo Ali suka Bun. Ali cape pura-pura jadi seseorang yang seakan paling membenci Prilly. Ali setiap saat mencari cara untuk bisa mem-bully Prilly, biar Ali punya alasan untuk minta maaf dan dekat sama anak Bunda. Dia pernah nangis karna Ali, Bun?" cerita Ali diakhiri dengan bertanya. "Setiap kamu bully dia, pulangnya dia nangis karna katanya kamu menyebalkan Nak. Tapi Prilly gak mau nangis di depan kamu katanya nanti kamu tau wajah jeleknya. Prilly ingin kamu menilainya selalu cantik. Tapi kamu selalu dingin, mangkanya dia gak mau ungkapin perasaannya sama kamu. Dan Bunda kaget ternyata kalian saling suka." "Kalian membicarakan aku, yaa?" Sepertinya keduanya lupa akan kehadiran Prilly di sana. "Hey, dengar, aku sayang kamu." Ali mengusap lembut rahang Prilly. Begitu gentleman-nya Ali mengucap kalimat sayang di depan Ully saat itu "Prilly juga sayang Kakak." Pipi Prilly merona, ia malu diperharikan Bundanya saat itu. "Maafin kesalahan Ali, Bunda. Ali usahakan selalu membahagiakan Prilly suatu saat nanti." "Kak Ali malu ya memiliki Prilly?" Ali tersadar akan lamunannya. "Nggak lah, Sayang, ngapain Kakak harus malu coba?" "Prilly kan manja dan cengeng. Selalu merepotkan Kakak!" "Kakak senang punya istri manja seperti kamu. Coba deh kamu pikir kalau Kakak malu, kenapa dulu Kakak mau menikahi kamu?" tangan Ali beralih menyisir poni rambut Prilly. Ali membuat Prilly tersipu malu. "Udah selesai, Sayang. Kamu udah cantik." Ali meletakkan sisir rambut itu pada meja riasnya. Ali kembali berdiri di belakang Prilly lalu sedikit menekuk lututnya dan mendekap Prilly dari belakang. "Kamu jangan sedih lagi, ya. Kakak siap kok sisirin rambut kamu setiap hari. Gimana? mau?" tawar Ali. "Gak perlu, Kak. Aku gak mau merepotkan Kakak terus. Hmm, mungkin kalo Kak Ali lagi gak ada kerjaan aja gitu." Prilly tersenyum sambil mengangkat tangannya untuk merangkul leher Ali yang sedang bersandar di bahunya. -o0O0o- Ali memanjangkan kakinya di sofa ruang tamu. "Prill...," panggil Ali kala melihat Prilly melewatinya. Prilly menghampiri Ali dengan riangnya. "Iya, Kak. Butuh sesuatu?" Prilly duduk di samping Ali. "Kamu mau ke mana? Sibuk gak?" "Pengin licin baju, Kak." "Jangan cape-cape, Sayang. Udah malem. Bisa besok lagi." Prilly mengangguk paham. "Badan Kakak pegal-pegal, Sayang. Mau gak kamu pijitin Kakak aja? Sebentar kok, ya," pinta Ali manja. "Kenapa harus gak mau? Aku kan istri Kakak masa aku menolak, sih" jelas Prilly menatap Ali polos. "Makasih, Sayang." "Ya udah Kakak tengkurap, ya," pinta Prilly yang langsung dilaksanakan Ali. Prilly mulai memijat punggung Ali. "Kak Ali cape banget ya? kakinya mau aku rendam pake air hangat?" Prilly merasakan lelahnya menjadi Ali. "Nggak, Sayang. Kakak hanya sedikit pegal kok. Tidak lebih." "Kak aku mau tanya sesuatu boleh?" tanya Prilly di sela-sela memijat. "Tanyakan aja, Sayang," ucap Ali santai. "Tapi Kak Ali jangan marah, ya?" "Emang kamu mau tanya apa sih? Kok sampe serius gitu?" tanya Ali penasaran. "Kalo misalnya nanti ada cewek yang lebih cantik dari aku. Apa Kak Ali tetep cinta sama aku? Apa Kakak gak akan melirik yang lain?" tanya Prilly sontak membuat Ali merasa heran. Ia membenarkan posisi tubuhnya ke semula. "Kok bangun? Belum selesai, Kak." Tangan Ali terangkat untuk merangkum wajah Prilly. "Hey, kenapa nanya begitu? Kakak cinta sama kamu itu selamanya, dunia akhirat. Kakak gak mungkin berpaling dari kamu. Itu gak mungkin banget Sayang. Kakak cinta sama kamu dari jaman kita SMA dan rasa cinta itu gak ada yang berubah sedikit pun," jelas Ali membuat Prilly menitikan air mata haru, ia menyadari dirinya telah menangis kala merasakan pergerakan lembut Ali mengusap pipinya, keduanya saling menatap lekat-lekat. "Makasih, Kak. Aku tau cuma Kakak orang yang paling tulus menerima aku apadanya. Tapi, aku tetap takut. Kehidupan untuk di depan gak ada yang tau, aku hanya takut nanti Kakak bisa berubah. Aku, takuk Kak...." "Syuttt ... Udah jangan berpikiran yang aneh-aneh yah, Sayang. Jangan takut selagi Kakak masih ada di samping kamu." Ali menempelkan kening Prilly dengan keningnya. Saling memberi kekuatan. -o0O0o- Seperti biasa, setelah melakukan rutinitas setiap pagi, Ali bergegas untuk pergi kerja. "Prilly, Sayang ... Kakak berangkat dulu ya. Ingat peraturan baru dari Kakak tetap berlaku yaa." Ali mengusap halus rambut Prilly. "Peraturan baru yang mana, Kak?" tanya Prilly pura-pura tidak ingat. "Kamu tuh masih muda udah pikun, dasar," cibir Ali. "Itu loh kalo mau keluar rumah mesti izin dulu sama Kakak nanti biar Kakak pulang sebentar buat nganter kamu dulu gitu." "Tapi bukannya itu malah bikin Kakak jadi repot ya? Kakak mesti bolak-balik untuk nganter aku." Lagi-lagi Prilly hanya bisa memprotes dengan peraturan baru itu yang justru membuat Prilly merasa tak nyaman. "Udah pokoknya Kakak gak mau tau kalo kamu membantah terus kamu tanggung akibatnya!" tegas Ali. "Kakak berangkat dulu, hati-hati di rumah kalo ada apa-apa kabari Kakak secepatnya, oke!" oceh Ali. "Hmm iya," gumam Prilly malas mendengar ceramahan Ali. "Assalamualaikum." Ali mengecup kening Prilly dan berlalu pergi. Bahkan ia tak membiarkan Prilly untuk mencium tangannya serta menjawab salamnya lebih dulu. "Waalaikumsalam." Prilly menjawab dalam batin. -o0O0o- Ali sedang fokus dengan pekerjaannya namun akhir-akhir ini ia sering terganggu karna si peneror itu masih terus berusaha menghubungi Ali. "Selamat pagi Ali, bagaimana kabarmu sekarang?" Isi pesan dari si peneror yang Ali juluki dengan sebutan nama Mr. L yang berarti Mr. Luzer. "Mau apa lo? Gak usah macem-macem sama gue! GUE SIBUK!" balas Ali men-capslock kalimat akhirannya. "Kamu tanya saya mau apa? Mau saya cuma satu macam, istri kamu lah, hahaha." balas Mr. L membuat Ali semakin emosi. "Kalo lo ganggu gue terus detik ini juga gue laporin lo ke polisi!!!" Ali mengancam Mr. L namun yang diancam tak punya rasa takut. "Hahaha lapor polisi? Silakan Ali silakan! saya tidak takut. Kalo kamu lapor polisi saya tidak bisa menjamin istri kamu bisa selamat!" Mr. L justru balik mengancam Ali. "HEH!! Tau apa lo tentang istri gue. Dia aman bersama gue!! Gue ga takut sma ancaman busuk lo!!!" Ali makin emosi. "Bener kamu tidak takut? Saya tau di mana istri kamu sekarang, saya bisa kapan saja menyeret istri kamu agar jatuh ke tangan saya, kamu tenang saja setelah saya puas bersenang-senang dengan istrimu saya juga akan mengembalikannya lagi kepadamu." "Brengsekkkk lo!! sampe lo nyentuh sedikit istri gue. Abis lo sama gue!!!" Ali tak mau kalah mengancam. "Buktikan omongan kosongmu itu Ali, haha."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN