Berubah? Dipaksa berubah? Atau terpaksa berubah? Tidak mau tahu apa bedanya, yang jelas sama-sama menyakitkan.
–My Kayang–
"Pasti Kak Ali seneng aku belikan ini untuknya, secara ini kan camilan favoritnya," gumam Prilly saat ia hendak pulang.
-o0O0o-
"Arggghhh! kenapa bisa kayak gini sih? Sebenernya dia itu siapa sih? Gue gak pernah punya musuh tapi kenapa ada orang yang gak suka hubungan rumah tangga gue!" Ali tampak gelisah saat sedang fokus mengendarai mobilnya menuju rumah
"Sayang ... Kakak pulang nih. Kamu di mana?" teriak Ali mencoba memanggil Prilly.
"Tuh kan dia ke luar rumah tanpa izin dulu ke gue, padahal udah gue peringatin!!" cemas Ali mengacak rambutnya.
Seusai mengunci pagar rumah, Prilly dikejutkan dengan mobil Ali yang kini terparkir di halaman.
"Duh kenapa jam segini Kak Ali udah pulang sih? Kalo aku kena marah gimana? Aku belum izin ke luar rumah lagi," batin Prilly sesaat termenung.
"Masih inget pulang?"
Pertanyaan atau sindiran? Prilly mendengar semprotan kata-kata pedas dari mulut Ali saat baru saja menginjakkan kaki di rumah.
Prilly memilin kelim bajunya mencoba menghilangkan rasa takut.
"Abis ke mana?" tanya Ali dingin.
"A—ku abis beli ini, Kak." Prilly menenteng bingkisan kecil yang ia bawa dari toko martabak tadi.
"Begini cara kamu menghormati Kakak?" Ali langsung merebut barang bawaan Prilly dan melemparnya ke lantai tanpa melihat lebih dahulu isi di dalamnya.
"Kakak udah bilang, 'kan? kamu gak boleh ke luar rumah tanpa seizin Kakak!! Kenapa kamu melanggar, hah!!" ucap Ali kini membentak.
Prilly menunduk takut kala mendengar sentakan yang Ali lontarkan.
"Hari ini kamu harus dihukum!!" hardik Ali mengerikan.
"Kak, aku cuma ke luar sebentar, apa itu gak boleh? Terus sekarang Kakak mau hukum aku gitu?" tanya Prilly dengan suara pelan hampir tak terdengar.
"Kamu pernah sekolah, 'kan?"
Prilly diam membisu membuat darah dalam diri Ali mendidih naik.
"JAWAB!!!" teriak Ali seperti orang kesetanan.
"Per—nah, Kak." Prilly mengusap kasar air matanya yang telah turun meleleh
"Sekolah punya aturan gak?"
"Punya, Kak."
"Kalo ada murid yang melanggar aturan, murid itu di apain?"
"Dihukum, Kak."
"Sekarang kamu melanggar aturan Kakak, berarti kamu harus merasakan hukuman."
"Aku minta maaf, Kak. Biar aku jelaskan kenapa aku ke luar rumah."
"Gak bisa, kalo cuma maaf. Kamu gak akan jera!"
"Tapi, Kak—"
"Sini ikut Kakak!!" Ali mencekal lengan Prilly dan menariknya cukup kasar.
"Kak aku mau diapain, hiks!" Prilly berusaha melepaskan tangan Ali, namun apa daya tenaga Ali jauh lebih kuat darinya.
Ali membawa Prilly ke kamar mandi.
"Kak, aku mohon maafin aku."
"Masuk!!" Ali menginterupsi Prilly untuk masuk ke kamar mandi itu.
Ali menyudutkan tubuh Prilly ke dinding pojok kamar mandi sedikit kasar. Prilly mengeluarkan isakan-isakan kecil dari bibirnya sambil terus menunduk takut.
"Awh," ringis Prilly yang kini merasakan lengan kekar Ali mencengkeram rahangnya. Ia memaksa Prilly mengangkat dagunya, agar dirinya bisa menusuk mata Prilly dengan tatapan elangnya.
"Kalau kamu! gak bisa Kakak peringatin dengan cara baik-baik, mungkin kamu lebih menurut bila Kakak bertidak kasar seperti ini." Ali menekan kuat rahang Prilly bahkan kini sampai ke pipinya. Bisa dibayangkan bagaimana sakitnya diperlakukan seperti ini oleh orang yang kita sayang, oleh suami kita sendiri.
"Sa—kit, Kak," rintih Prilly dengan suara tercekat. Ia sungguh takut menatap mata Ali. Melihat Prilly yang menunduk, Ali malah menguatkan cengkeramannya.
"Kalau kamu nurut sejak awal, kamu gak akan merasakan sakit, Sayang!" Ali semakin menekan kukunya hingga tanpa ia sadari telah melukai pipi Prilly.
"Le—pa—sin, Kak, hiks." Prilly berusaha menjauhkan tangan Ali dari wajahnya.
"Masih mau melawan Kakak setelah ini? Hah!" bentak Ali kasar.
"BICARA!!!"
Prilly akhirnya menggeleng lemah.
Ali melepaskan cengkeramannya dengan sekali hentakan hingga tanpa sengaja kening Prilly membentur dinding.
"Sampe kamu ulang kesalahan kamu, Kakak bisa berbuat lebih dari ini!!" Tujuan awal Ali membawa Prilly ke tempat ini karena ia ingin menghukumnya, namun ia urungkan. Ia hanya memberi sedikit teguran untuk wanita terkasihnya.
"Mau ke mana, Kak? Prilly mohon jangan kunci pintunya!" Sebisa mungkin ia menahan sesak yang menyapa dalam dadanya.
Bugh!
Ali ke luar dengan membanting pintu kamar mandi—meninggalkan Prilly yang masih menangis di dalam sendirian—mengunci pintu itu dan berniat mengurung Prilly di dalamnya.
Tubuh Prilly merosot ke lantai setelah pasti Ali benar-benar keluar.
Prilly melangkah mendekati pintu dengan mengesot kakinya dan berusaha membuka pintunya.
"Buka pintunya, Kak! jangan kurung aku di sini, hiks. Apa yang harus aku lakukan agar Kak Ali memberi maaf untukku?" Ali masih bisa mendengar isakkan yang lolos dari bibir Prilly.
"Maafkan Kakak, Prill. Kakak kayak gini karena Kakak sangat sayang sama kamu. Semoga kamu tidak mengulanginya lagi," batin Ali setia berdiri di balik pintu.
Ingin rasanya Ali kembali membuka pintu, memeluk Prilly dan menghentikan tangisan yang begitu memilukan di telinga Ali. Ia membuat istrinya menangis. Ia menyakiti hati maupun fisik wanitanya. Sungguh ia bodoh! Ia menciptakan kesedihan yang ia maupun Prilly nikmati akhirnya.
Antara sulutan emosi yang masih berkobar di hatinya serta rasa penyesalan menyelimutinya secara bersamaan. Ali murka dengan dirinya sendiri. Ia sungguh menyesal tidak bisa menahan sedikit saja amarahnya tadi. Pasti dia tak akan menyakiti Prilly.
"Argh!!" erang Ali sebelum akhirnya ia membuka kunci itu tanpa membuka pintunya. Kini ia berlalu untuk meredamkan emosinya.